<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114</id><updated>2011-07-29T05:29:49.933+07:00</updated><category term='hebel'/><category term='सहबत'/><category term='rumah'/><category term='jati'/><category term='idaman'/><category term='diri'/><category term='cinta'/><category term='bangsa'/><category term='prime mortar'/><category term='ruang'/><category term='mengembalikan'/><category term='ulang tahun ke-11 detikcom'/><title type='text'>Great Spirit Ever</title><subtitle type='html'>Let's be an angel of angels!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-7630704984845745686</id><published>2010-03-11T04:18:00.008+07:00</published><updated>2010-03-11T04:28:14.979+07:00</updated><title type='text'>For Sale : Buku baruku "Kisah-Kisah Inspiratif untuk calon Ibu"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fkqzEWvFr3Y/S5gONSVrvSI/AAAAAAAAAA4/KgzY45saAhs/s1600-h/cover+buku+baru.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fkqzEWvFr3Y/S5gONSVrvSI/AAAAAAAAAA4/KgzY45saAhs/s320/cover+buku+baru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447119370728488226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Kisah-Kisah Inspiratif Untuk Calon Ibu&lt;br /&gt;Penulis : Hamasah Putri&lt;br /&gt;Penerbit : Great! Publisher&lt;br /&gt;Jml hal : 103 hal&lt;br /&gt;Editor : Fenita Agustina&lt;br /&gt;Layouter : Ferli Achirulli&lt;br /&gt;Cover : Ferli Achirulli&lt;br /&gt;Harga : Rp. 20.000 (Belum Ongkir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika Anda masih saja mengeluh menjadi seorang ibu, Anda harus melihat mereka yang masih berharap akan datangnya buah hati. Buku ini menyadarkan kita, bahwa kesempatan menjadi ibu, adalah cara Tuhan megistimewakan perempuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perempuan pasti menginginkan kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya. Apalagi kesempurnaan sering diukur ketika ia berhasil memiliki keturunan. Melakoni proses kehamilan selama 9 bulan hingga melahirkan, menuntut para calon ibu rela mempertaruhkan nyawanya untuk bisa melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat. Mereka beejuang dengan segenap tenaga, melawan rasa letih, nyeri yang mendera mereka. tapi, rasa sakit itu, seketika sirna oleh suara tangisan bayi mungil yang baru saja ia lahirkan ke dunia. Tergantikan oleh rasa bahagia, kagum, serta syukur yang terlukis pada setiap doa mereka. Menjalani peran sebagai ibu benar-benar memberikan kebahagiaan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah-kisah inspiratif dari para ibu yang akan membagikan pengalamannya selama mengandung, melahirkan dan membesarkan sang buah hati. Berisi bunga rampai kisah bahagia, haru, lucu, yang berbaur kisah pilu akan menjadi cerita yang sangat menginspirasi Anda. Temukan juga tips penting seputar kehamilan, kelahiran, serta perawatan bayi. Semoga bermanfaat bagi Anda, para ibu ataupun calon ibu. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamasah Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. : Sudah beredar di toko-toko buku, Geamedia, Gunung Agung,HM Books, dsb. Bisa juga pesan langsung ke saya via online. Cara pemesanan : Transer ke BCA Endah Widayati, no Rek 008 034 6719, KCU Bandung I.&lt;br /&gt;Konfirmasi bisa Via FB, email : endah.wida@gmail.com, YM : hamasahputri, SMS 0813 885 900 80&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-7630704984845745686?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.com' title='For Sale : Buku baruku &quot;Kisah-Kisah Inspiratif untuk calon Ibu&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/7630704984845745686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=7630704984845745686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7630704984845745686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7630704984845745686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2010/03/for-sale-buku-baruku-kisah-kisah.html' title='For Sale : Buku baruku &quot;Kisah-Kisah Inspiratif untuk calon Ibu&quot;'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fkqzEWvFr3Y/S5gONSVrvSI/AAAAAAAAAA4/KgzY45saAhs/s72-c/cover+buku+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-1750374368456142945</id><published>2009-07-15T20:15:00.006+07:00</published><updated>2009-07-15T22:01:17.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='idaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hebel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ruang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='prime mortar'/><title type='text'>Ruang Impian</title><content type='html'>Memiliki rumah yang nyaman, tentu saja menjadi idaman setiap orang. Begitupun aku. Sangat  ingin aku memiliki rumah dengan ruangan yang memacu semangat kerja dan belajar. Tidak hanya bagiku, namun juga untuk suami dan anak-anakku kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan rumah idaman sudah sering terbayang sejak aku masih di bangku SD. Beranjak dewasa, aku semakin tertarik mengamati model rumah favorit dan merancang desain rumah yang ingin aku bangun kelak. Begitu menikah, mertua menjelaskan bahwa rumah warisan yang sudah turun temurun 3 generasi ini akan menjadi hak milik kami. Maka, mulai saat itu, kami mulai serius untuk mendesain rumah yang aman dan nyaman untuk kami tempati kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sebenarnya posisi rumah kami bisa dibilang cukup nyaman. Berada di daratan yang lebih tinggi, dengan gemericik suara air dari sungai depan rumah, sehingga terkesan seperti villa yang sering kutemui di Puncak. Sayangnya, bangunan ini sudah sangat tua. Dindingnya sudah rapuh dimana-mana. Begitupun dengan atap yang mulai rontok dan mudah tertiup angin karena usianya yang lapuk sehingga masih sering bocor. Dindingnya pun sudah banyak yang retak. Maklumlah, kami jarang pulang ke Bogor, karena harus beraktivitas di Jakarta. Sedangkan ibu mertua.lebih memilih ikut kakak ipar ketimbang kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kami memutuskan untuk menetap di sana begitu bayi pertama kami lahir. Maka, kami melakukan renovasi kamar utama dan membangun kamar mandi, sebagai proyek dadakan menyambut buah hati kami. Renovasi kecil yang kami percayakan kepada bapak mertua ini, ternyata hasilnya jauh dari yang kami harapkan. Bangunannya terkesan kurang kokoh, dengan desain yang tidak sesuai permintaan kami. Dengan berbagai alasan, maka kami tidak jadi menetap, hanya bertahan dua bulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, keinginan untuk segera merenovasi rumah itu semakin menggebu. Tentu saja kali ini tidak ingin asal jadi. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk rumah itu. Aku akan memilih produk beton Hebel untuk dinding, teras dan atap, karena memiliki banyak kelebihan. Meski ringan, ternyata beton Hebel terbukti cukup kuat. Selain itu, pengerjaannya pun mudah dan ekonomis, mengingat ukurannya yang akurat. Apalagi bangunan yang dihasilkan tahan lama, sehingga tidak seperti rumah kami saat ini yang harus sering memperbaiki atap yang bocor, atau dinding yang retak. Bangunan dari Hebel juga kedap suara, tahan panas dan api, pas untukku yang sering takut terjadi kebakaran di rumah. Ditambah lagi bahan Hebel mengandung gelembung udara, sehingga mengurangi ketergantungan kita akan AC, karena memiliki insulasi panas yang baik. Masih ada keuntungan lain, terutama bagi anakku, yaitu sifatnya yang ramah lingkungan, karena terbuat dari bahan yang tidak beracun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga akan memilih semen Prime mortar sebagai pelengkapnya. Ya, semen instan yang memiliki daya rekat tinggi dan tahan lama, dengan konsistensi mutu dan kualitas standar internasional. Meski sifatnya praktis dan instan, semen ini memiliki daya tahan yang lama. Dan, kita tidak perlu khawatir akan biaya jika menggunakan semen ini, karena aplikasinya yang tipis dan merata, akan menghemat budget renovasi rumah. Hmm, aku rasa ini adalah pilihan yang tepat. Jika kita menginginkan rumah yang bagus dan kuat, otomatis bahan bakunya pun harus yang teruji kualitasnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hebel.co.id/blog_competition/"&gt;&lt;img src="http://hebel.co.id/blog_competition/images/share_image.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai desain, lantai satu ternyata tidak mencukupi untuk kebutuhanku dan si kecil saat ini. Aku ingin menambah satu lantai atas lagi, yang terdiri dari empat ruangan utama : ruang kerja, tempat bermain, taman baca, dan teras. Ya, pekerjaanku sebagai penulis freelance dan pebisnis online, idealnya memiliki ruangan kerja sendiri. Apalagi kedepan, aku juga ingin merekrut karyawan. Meski demikian, aku tidak ingin kehilangan momen dengan si kecil dalam keseharianku. Karenanya, ruang kerja akan aku buat bersebelahan dengan ruang bermain anak, yang dipisah dengan dinding pendek. Dengan begitu, sambil bekerja, aku tetap bisa memantau tingkah polah anakku yang lucu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat bermain anak juga akan aku buat senyaman mungkin. Berbagai mainan anak aku siapkan, agar ia bebas bereksplorasi dan berekspresi. Nah, agar anakku juga gemar membaca, maka aku akan mendesain taman baca keluarga yang menarik disebelahnya. Aku akan menyiapkan sofa empuk, agar anakku bisa mendengarkanku mendongeng sambil tiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian depan, aku ingin menaruh bunga gantung yang cantik. Teras ini juga akan aku isi dengan kursi dan meja besi yang ringan serta ayunan, agar aku bisa membaca buku sambil bersantai, serta bermain bersama si kecil. Jika malam, aku ingin memandangi langit malam dari sini bersama suami, tentu saja dengan ditemani kopi dan cemilan hangat. Begitu pagi menyapa, aku akan segera berlari ke atas, untuk melihat pemandangan pegunungan yang menghijau tepat di depan rumah kami. Jika beruntung, aku akan mendapatkan kabut tipis diselingi sunrise yang merona. Aah, alangkah indahnya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-1750374368456142945?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/1750374368456142945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=1750374368456142945&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1750374368456142945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1750374368456142945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2009/07/ruang-impian.html' title='Ruang Impian'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-3839697944140475294</id><published>2009-07-14T23:10:00.009+07:00</published><updated>2009-07-15T09:49:10.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengembalikan'/><title type='text'>Yuk, Mengembalikan Jati Diri Bangsa!</title><content type='html'>Seperti apa Anda menilai bangsa kita sekarang? Apakah masih santun seperti yang dulu sering kita dengar dari mata pelajaran PMP atau PPKN di SD? Ataukah masih ramah seperti yang pernah dikenal oleh turis mancanegara? Apakah beradab layaknya negeri Timur yang begitu menjaga budi pekerti?  Apa pendapat Anda ketika mendapat ajakan untuk mengembalikan jati diri bangsa? Apakah memang kita sudah kehilangan jati diri bangsa yang sesungguhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OMG, saya sungguh bingung menjawabnya. Saya malu untuk mengatakannya. Ketika mengingat, betapa banyaknya kasus pemuda yang terjerat narkoba di negeri ini. Betapa sering mahasiswa, bahkan pelajar melakukan tawuran antar siswa. Betapa tidak malunya pejabat melakukan korupsi uang negara. Betapa semakin beraninya video porni beredar dimana-mana. Betapa tidak beradabnya orang tua yang menyiakan anaknya. Lantas, apakah kita cukup berdiam diri saja? Asyik menonton televisi dengan suguhan aneka ragam berita yang membuat kita cukup miris dan tertegun sesaat. Kemudian, kita asyik dengan dunia kita, terlupa, dan tidak peduli dengan kondisi bangsa kita. Adakah begini cara Anda menyikapi masalah bangsa yang semakin carut marut ini? Tidakkah hati Anda terbersit dan tergerak untuk ikut andil mengembalikan jati diri bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua orang tidak peduli, lantas mengapa Anda masih mengaku sebagai warga Negara bangsa ini? Apakah Anda merasa semuanya sudah terlambat? Percuma, toh semuanya akan terulang, lagi dan lagi. Bukankah Anda juga tidak ingin bangsa kita semakin rusak dan tidak bermoral? Bukankah Anda ikut rugi jika Anda tidak bisa menemukan rasa aman, nyaman hidup di negeri sendiri? Apakah Anda tidak khawatir jika adik atau saudara Anda terjebak kemaksiatan, seperti terjerat narkoba dan masih banyak lagi? Stop, sudah saatnya Anda bangun dari ketidakpedulian Anda selama ini! Menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengembalikan jati diri bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cobalah berpikir, seburuk apapun kondisi bangsa ini, kita harus membuatnya lebih baik lagi. Caranya, tidak perlu jauh-jauh, Anda bisa memulainya dari diri Anda sendiri. Sebagai contoh sederhana, cobalah untuk selalu berperilaku santun, ramah, suka menolong, murah senyum, tidak menyakiti, dan sebagainya. Jika Anda konsisten melakukannya, tidak mustahil orang di sekitar Anda akan kagum dan terpengaruh untuk berperilaku seperti Anda. Lakukan dimana saja, tidak peduli apakah Anda akan mendapat sambutan yang sama atau tidak, itu tidak menjadi soal. Niatkan terus bahwa cara sederhana ini akan mampu mengembalikan jati diri bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, cobalah melakukan kegiatan positif di lingkungan sekitar, seperti pengajian, diskusi, belajar ketrampilan, dan sebagainya. Hal ini bertujuan agar masyarakat semakin tercerahkan untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik, sibuk menghabiskan waktu untuk kegiatan yang positif. Tidak peduli apakah Anda ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, karyawan, pasti selalu ada orang yang bisa Anda ajak untuk melakukan kebaikan, dan mengupayakan untuk mengembalikan jati diri bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika lingkungan kecil Anda sudah terbentuk dengan baik, maka lingkungan yang lebih luas lambat laun mengikuti. Jika semakin banyak orang yang mau dan berusaha untuk menerapkan hal ini, bukan tidak mungkin kita bisa mengembalikan jati diri bangsa kita. Oh ya, jangan lupa untuk terus berdoa untuk kemajuan dan keselamatan bangsa kita. Jauh dari orang-orang jahat, perbuatan tercela, sehingga bisa damai dan sentosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apa yang saya lakukan ini semoga ada manfaatnya : mengikuti kontes SEO yang diadakan &lt;a href="http://beritajitu.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=689:beritajitucom-gelar-kontes-seo-berhadiah-275-juta-rupiah&amp;catid=56:event"&gt;BeritaJitu.com&lt;/a&gt;, berharap semakin banyak orang yang peduli dan tergugah untuk &lt;a href="http://beritajitu.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=689:beritajitucom-gelar-kontes-seo-berhadiah-275-juta-rupiah&amp;catid=56:event"&gt;mengembalikan jati diri bangsa&lt;/a&gt;. Semoga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-3839697944140475294?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://edumuslim.org' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/3839697944140475294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=3839697944140475294&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3839697944140475294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3839697944140475294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2009/07/yuk-mengembalikan-jati-diri-bangsa.html' title='Yuk, Mengembalikan Jati Diri Bangsa!'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8319382430905533722</id><published>2009-07-10T19:43:00.002+07:00</published><updated>2009-07-10T20:43:45.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulang tahun ke-11 detikcom'/><title type='text'>Internet, Gileee Banged..!!</title><content type='html'>Wew, gimana nggak gila, diantara anak cucu eyangku, hanya aku saja yang paham internet. Hehe, juz kidding...!! Tapi benar, internet berperan banyak dalam hidupku. Membedakan hidupku dengan kebanyakan saudara maupun teman. Ini bukan masalah kemapanan hidup, namun bagaimana cakrawala hidup, koneksi, pengalaman, yang jauh lebih luas dan menantang. Aku sungguh menikmatinya, dan begitu tergantung padanya.  Sehari tanpa internet, serasa ada yang kurang. Bagai sayur tanpa bumbu, halah! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan dengan internet bermula ketika aku kuliah semester dua, di Politeknik Unibraw Malang. Pada waktu itu aku nekat menyisakan uang kiriman bulanan dari ortu, untuk kursus internet dasar. Karena mau irit, pilihan pun jatuh pada warnet dekat kampus. Setidaknya tidak perlu ongkos transport kesana. Cukup jalan kaki. Apalagi, kursus hanya akan dimulai ketika sudah terbentuk kelompok, minimal 4 orang. Untungnya, ada kakak tingkat yang mengajak barengan. Dengan modal nekat dan penasaran, aku pun bergabung dengan mereka. Memang, terbersit sedikit kurang pede ketika memulainya. Maklumlah, ketiga kakak kelas ini lumayan terdepan di kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa tidak PD ini juga terkait dengan pengalamanku mengoperasikan komputer. Pada awal masuk kuliah, kami diharuskan mengumpulkan tugas kuliah rapi diketik komputer. Karena masih canggung, tugas pertama pun terpaksa aku setor ke jasa pengetikan. Alhasil, uang yang keluar cukup mahal untuk ukuran kantong mahasiswa. Apalagi jika tugas diberikan tiap pekan, maka uang bulanan nyaris habis untuk urusan ini saja. Ketika SMA, aku memang pernah kursus komputer. Namun, apa yang kupelajari ternyata jauh berbeda dengan yang kuhadapi. Komputer pada saat itu masih memakai DOS. Tampilan maupun bentuk CPUnya saja sudah jauh beda. Satu hal yang kuingat sama, hanya pada cara menyalakannya saja. Menyedihkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berdua dengan teman kami nekat pergi ke rental komputer. Ketika akan masuk, kami masih celingukan. Bingung. Petugas rental kemudian menyapa kami, ”mau ngapain mbak?”. Mungkin dia juga bingung dengan tampang kami yang aneh. ”Mau pake komputer, Mas,” jawab temanku terdengar grogi. ”Oh, itu di pojok ada yang nganggur satu,” ujarnya menunjuk meja yang kosong. Begitu duduk, kita masih terbengong. Bingung dengan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Komputer di hadapan kami masih mati, tidak siap pakai. Petugasnya pun mendatangi kami dengan tertawa, ”nyalainnya yang itu, Mbak”. Duh, rasanya kami ingin lari saja meninggalkan rental saking malunya. Namun perjuangan yang sudah setengah jalan ini akan menjadi sia-sia jika mundur begitu saja. Sambil menahan rasa malu, kami mulai mencoba tombol-tombol keyboard dengan hati-hati. Tentunya dilingkupi perasaan takut jika salah. Hingga urusan menyimpan file saja, kami harus minta tolong sama petugas rental. ”Idih, memalukan,” ingatku akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What Ever You Want!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kursus internet, aku dilingkupi rasa was-was. Seperti apa sih ’mukanya’ internet? Mengapa kata orang-orang hebat sekali? Apanya sih yang hebat? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berulang dibenakku. Benar saja, ketika kursus itu dimulai, aku tidak bisa langsung menangkap dengan jelas. Padahal jika dibandingkan sekarang, materi yang diberikan saat itu benar-benar sederhana. Mungkin pelajaran teorinya saja yang lumayan njlimet, membuatku pening duluan. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur membayar. Satu hal yang paling membuatku tertarik dari internet adalah browsing atau searching, alias mencari data di internet. Twing, dengan sekali klik, aku bisa dengan mudah menemukan data yang kucari. What Ever i Want! Hmmm..., hebaaat!!&lt;br /&gt;Pelajaran menarik yang kedua adalah email. Aku dengan gampang mengirimkan surat elektronik ke teman-teman. Sayangnya, masih jarang teman yang kukenal mempunyai email. Tidak asyik tentunya jika berkirim email hanya dengan kakak-kakak tingkat teman kursusku, yang dengan mudah bisa kutemui tiap hari. Karenanya, aku begitu semangat gembar-gembor ke teman-teman kuliah yang kosnya jauh denganku, agar segera memiliki account email. Setidaknya, tugas kuliah akan jauh lebih lancar jika saling tolong-menolong. Hehe..dasar pemalas! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chatting dan download file adalah pelajaran lain yang kuterima. Pada saat itu, layanan chatting yang ada masih mIRC*. Aku terpana dengan kemudahan itu. Betapa orang yang berjauhan dapat langsung ngobrol dengan cepat dan murah. Namun sayang, karena materi diberikan dengan sangat cepat, maka terlanjur kuputuskan dua pelajaran terakhir itu terlalu sulit. Ya sudahlah, yang penting aku sudah tahu wujud internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malu Bertanya Sesat di Warnet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hariku masih saja penasaran dengan hebatnya Internet. Meski aku terkagum, namun masih terganjal berjuta tanya dan harap, pasti ada yang lebih hebat dari yang sudah kuketahui. Namun perasaan tidak pede untuk ke warnet sendiri masih menghantui. Bingung kalau ada sesuatu yang lupa, dan malu jika harus bertanya ke operator. Selalu saja aku mengajak kakak-kakak tingkat untuk nge-net bersama. Sayangnya, jadwal kuliah yang sangat padat dan tugas kuliah yang menumpuk, membuat kami sulit bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 4 bulan ilmu itu mengendap, tidak terpakai. Pernah terbersit apa yang kulakukan itu hanya membuang uang dan waktu saja. Toh, bisa jadi aku sudah lupa semuanya. Account email dan password yang kubuat saat itu juga sudah kulupa. Hingga akhirnya, aku menemukan teman kos satu kamar yang sudah lebih lihai bermain internet. Cihuy, kesempatan belajar terbuka lagi. Kurayu dia untuk menemani ke warnet, dan menularkan ilmunya kepadaku. Akhirnya, kami mencoba kembali pelajaran-pelajaran itu satu persatu. Wow, kali ini aku lebih menyadari hebatnya internet daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malapetaka Kopi Darat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui temanku inilah aku semakin pede menjelajahi luasnya dunia maya. Kami sering pergi berdua ke warnet. Dengan begitu, tanpa sungkan aku bisa menanyakan sesuatu jika ada kesulitan. Sampai hal-hal iseng pun kami lakukan. Kami keranjingan chatting dengan seseorang. Ketika ujung-ujungnya janjian kopdar (kopi darat), kami sengaja tidak memenuhi kesepakatan awal. Warna baju yang kami pakai, sengaja kami bedakan dengan yang kami sebutkan. Meski demikian, kami tahu sasaran kami. Dari situ aku menyimpulkan, dunia maya memang bisa menipu kalau tidak berhati-hati. Seorang gendut bisa mengaku atletis. Seorang cewek bisa mengaku cowok. Bahkan, satu orang pun bisa memiliki banyak identitas. Fyuh,  semangat chatting pun pupus sudah. Kapok! Hmmm, pelajaran bagus untuk cewek-cewek yang suka iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asyiknya Bisa Internet!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kuliah tingkat dua, kesadaranku berislam dengan benar mulai muncul. Aktivitas kampus yang aku ikuti lebih banyak ke urusan rohani, baik di Senat Mahasiswa, maupun di Musholla. Aku juga diajak oleh kakak-kakak tingkatku untuk tergabung di organisasi keislaman luar kampus. Aku berusaha optimal bekerja di berbagai peran. Internet menjadi sarana penting untuk melejitkan potensi diri. Ketika aku membutuhkan data-data, contoh proposal, dan berbagai kebutuhan lainnya, internet menjadi jawaban yang tepat. Situs-situs Islam pun mulai kukenal dan rajin kukunjungi. Hobi baruku kemudian adalah browsing tentang info dunia Islam, mendownload, mem-print, dan menempelnya dimana-mana. Musholla, kontrakan, sekretariat, dan untuk koleksi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas berinternetku pun aku tambah ketika masuk tingkat tiga perkuliahan. Aku harus mulai memikirkan masa depan. Apa yang harus aku lakukan selepas lulus kuliah yang hanya bermodal status D3. Milis-milis bermanfaat kemudian aku ikuti, meski lebih suka sebagai pemantau saja. Diantaranya adalah milis alumni untuk mendapatkan informasi kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bim Salabim!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, aku merasa memiliki kemampuan berinternet lebih baik daripada teman-teman. Tidak jarang aku mendapat request untuk menjadi mentor training internet kepada mereka. Aku pun tidak pelit dalam hal ini. Meskipun semuanya gratisan, tidak pernah dibayar. Bahkan, kakakku yang kuliah di Surabaya pun memintaku datang, hanya sekadar untuk mengajari berinternet. Padahal, perjalanan Malang-Surabaya harus ditempuh dalam waktu 3 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lulus, aku sudah memasukkan lamaran-lamaranku lewat internet. Petualanganku yang sesungguhnya bermula dari sini. Aku menjadi makhluk nomaden, karena berpindah tempat tinggal dan pekerjaan dari satu kota ke kota lain. Mencari kepuasan, kenyamanan, dan hal terbaik dalam hidupku. Mulai dari Jakarta, Cikarang, kembali ke Jakarta, Bandung..Fyiuhh, tidak ada ujungnya. Mulai menjadi admin Perusahaan Manufaktur, Penulis, EO, hingga Internet Marketing aku jelajahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku lebih memilih sistem kerja freelance. Dengan internet, segalanya menjadi mudah. Aku bisa berdiskusi dengan teman-teman  melalui chatting di Yahoo!Mesenger. Aku bisa mendownload software yang mendukung pekerjaan. Aku bisa dengan cepat mencari referensi di internet, untuk bahan membuat tulisan. Semuanya menjadi ringan. Impianku pun mulai terjawab : bekerja dari rumah ketika sudah menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku sudah tidak perlu lagi keluar rumah untuk bekerja. Kini aku bisa lebih leluasa mengatur waktu, tanpa harus kehilangan kesempatan untuk melakukan tugas-tugas domestik, yang masih saja dibantu internet. Mencari resep masakan, obat-obatan, informasi ibu hamil, dan seabrek informasi lainnya. Dalam waktu yang sama, aku juga bisa menghasilkan uang dari rumah. Pilihan yang tepat, apalagi tempat kerjaku dan suami cukup jauh, Bandung-Jakarta. Kini, aku bisa tinggal bersamanya di Jakarta bersama buah hati kami yang sedang lucu-lucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ada beberapa hal yang membuatku keGRan. Berkat blog yang kubuat, banyak orang yang kemudian mengundangku menjadi kontaknya, baik di blog maupun Yahoo! Mesenger. Tidak jarang mereka berkonsultasi tentang penulisan, karena menganggapku sebagai penulis yang hebat. Padahal, tulisan yang aku posting disana hanya seperti diary saja, sebatas curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, hanya sebagai guyonan saja. Dulu, tiga tahun yang lalu, temanku dengan bangganya menunjukkan namanya yang muncul di urutan teratas hasil pencarian di Google. Giliran mengetikkan namaku, tentu saja tidak ada satupun yang muncul. Namun kini, temanku kalah telak. Namaku tidak hanya muncul di pencarian teratas, bahkan beberapa halaman terdepan di Google memang merujuk namaku. Coba saja kalau tidak percaya, ketikkan nama : endah widayati atau hamasah putri, maka Google memunculkan nama itu dari blogku, dua situs Islam yang kukelola, dan situs-situs Islam yang memuat tulisanku. Oh ya, tulisanku juga banyak dicopy ke blog-blog pribadi orang, yang aku sendiri tidak mengenalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega sudah kini. Aku yakin, sebentar lagi internet akan memberikan banyak hal lebih padaku. Dua modal penting sudah kupegang : kemampuan menulis dan ilmu berbisnis online. Ditambah lagi dengan koneksiku yang semakin luas dari internet. Aku yakin, hanya perlu fokus dan waktu saja untuk bisa berpenghasilan darinya. Terima kasih, internet! Kamu, gileee banged dech!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8319382430905533722?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8319382430905533722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8319382430905533722&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8319382430905533722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8319382430905533722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2009/07/internet-gileee-banged.html' title='Internet, Gileee Banged..!!'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2783841845193430739</id><published>2009-07-09T16:48:00.002+07:00</published><updated>2009-07-09T16:49:12.899+07:00</updated><title type='text'>Meski Bukan Wonder Women</title><content type='html'>Dalam hidup ini, aku mengenal orang-orang yang luar biasa. Kekuatan kata, ketulusan, kebaikan, keceriaan, kesederhanaan, dan berbagai simbol menjadi saksi dalam persahabatan. Aku akan menuliskan salah satu diantaranya, pahlawanku yang begitu menginspirasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berdelapan di kontrakan Al Hamasah, Malang. Rumah kecil dengan sewa yang murah, namun terasa nyaman bagi kami. Ada 4 kamar, masing-masing diisi 2 orang. Dibandingkan kontrakan akhwat yang lain, kontrakan kami terbilang lebih sederhana. Meski demikian, banyak cerita indah terukir disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrakan itu bermula ketika kontrakan kami sebelumnya, Ats-Tsabitah, terpaksa harus kami lepaskan karena harga yang dinaikkan pemiliknya. Aku dan Ais kemudian berinisiatif untuk mencari kontrakan yang lebih terjangkau. Hingga kami menemukan rumah yang cocok, dengan harga relatif murah. Kami pun mengumpulkan akhwat yang membutuhkan tempat tinggal, untuk menggenapi jumlah kamar dan uang sewa. Alhamdulillah, akhirnya terpenuhi juga penghuni Al Hamasah, diantaranya Ais, Narsih, Lely, Yanti, Fara, Dewi, Sari, dan aku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, datanglah seorang akhwat yang bermaksud ikut bergabung bersama kami. Dialah Mbak Luluk, yang akhirnya juga menjadi salah satu penghuni di kontrakan kami. Dibandingkan yang lain, usia beliau jauh di atas kami. Awalnya, kami merasa enggan untuk memenuhi permintaan beliau. Pertama, jumlah kami sudah cukup berdelapan. Rasanya terlalu sesak jika harus ditambah lagi. Kedua, terdengar kekhawatiran dari yang lain jika tidak bisa melakukan hal-hal ’gila’ jika digabungkan dengan beliau, karena sungkan. Maklumlah, 4 diantara kami adalah mahasiswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Allah menakdirkan lain. Beliau merasa cocok dengan kami, dan mengaku bisa tidur dimana saja. Kami pun terharu dan akhirnya memutuskan untuk mengiyakan permintaan beliau. Meskipun di awal kami harus bertiga dalam satu kamar : aku, Ais, dan mbak Luluk. Hingga Dewi memutuskan pindah kontrakan, dan mbak Luluk bisa satu kamar dengan Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bergabung, kami masih malu-malu. Kami memosisikan beliau sebagai kakak, bahkan mungkin ibu. Ada jarak ketika beliau yang cenderung formal dan kaku, hadir diantara kami yang terbiasa cengengesan. Menangkap hal itu, beliau kemudian mengajak kami ngobrol. Beliau berharap agar kami tidak merasa terganggu dan tetap enjoy beraktivitas. Dengan cepat kemudian kami memang melakukan banyak hal dengan melibatkan beliau. Mulai sholat jamaah, kuliah tujuh menit, tahsin (membaguskan bacaan Al Qur’an), mempercantik rumah, piket harian memasak, silaturrahim ke tetangga, memberi ta’jil ke kontrakan lain, membentuk tim nasyid Hamasah (yang sempat konser beberapa kali), dan sebagainya. Kontrakan kami pun akhirnya cepat populer, dan sering jadi rujukan tempat diskusi sesama aktivis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, aku sangat dekat dengan mbak Luluk. Kami sering berdiskusi panjang lebar dengan beliau. Tentang apa saja. Beliau juga begitu peduli, ketika aku sakit, kekurangan uang, ataupun ada masalah lainnya. Pernah beliau ikut menangis, ketika aku menyembunyikan sakit yang kuderita sekitar satu pekan. Seorang akhwat dari fakultas Kedokteran memprediksi bahwa aku terkena sakit usus buntu, yang harus dioperasi. Kemungkinan lain, rahimku yang bermasalah. Penyakit yang keduanya membutuhkan dana yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pedih yang amat sangat terasa, maka aku hanya mampu menangis sambil memegangi perut ini. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan dengan amat memohon pada-Nya, agar memberikan jalan keluar terbaik untukku. Sengaja aku tidak memberitahu teman-teman satu kontrakan. Satu alasan, aku sudah sering merepotkan dan tidak ingin merepotkan mereka lagi. Seringkali aku tidak sanggup membayar iuran bulanan untuk memasak, dan memutuskan untuk tidak bergabung dulu dalam urusan makan. Meski sebenarnya, aku sering tidak makan, jika mereka tidak mengulurkan bantuannya yang sudah teramat sering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sudah lulus kuliah, bekerja di sebuah koperasi dengan gaji yang tidak jelas. Bulan pertama Rp 500.000, bulan kedua Rp 125.000, dan selanjutnya tidak ada gaji sama sekali. Bahkan, sempat ada permintaan untuk membantu kerugian koperasi sebesar Rp 400.000. Aku tidak mungkin mengandalkan kedua orang tua, yang juga memiliki masalah finansial lumayan parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Allah tidak memberikan beban di luar kesanggupan hamba-Nya. Penyakit itupun hilang sendiri, tanpa obat. Ketika akhwat Kedokteran datang menanyakan penyakitku, mbak Luluk turut menyimak pembicaraan kami. Saat itu juga beliau mencucurkan air matanya, yang semakin lama semakin menderas. Beliau minta maaf karena tidak tahu menahu akan hal ini. Menyesalkan ketika aku tidak ikut berbagi penderitaan dengannya. Subhanallah, aku amat terharu dengan ketulusannya. Selanjutnya, tidak ada yang aku tutup-tutupi lagi tentang kondisiku yang sesungguhnya. Beliau sangat memahami dan menawarkan untuk selalu menjadi teman berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat kuat, hingga saat ini, ketika beliau mampu memotivasiku dengan begitu hebatnya. "Aku yakin, anti bisa menjadi orang yang yang sangat luar biasa sekali. Hebat, sehebat-hebatnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa, Mbak?,” tanyaku waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku melihat semangat juang dik Endah luar biasa. Mau bolak-balik Surabaya-Malang, interview kerja, ngurusin amanah dakwah. Kalau mau egois, amanah dik Endah kan bisa dihandle sama yang lain. Aku tidak hanya melihat sekali ini, tapi sering. Meski dik Endah sendiri sedang sangat diuji, tapi masih bisa memberi untuk orang lain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga, aku langsung menitikkan air mata. Aku merasa tidak sehebat dari yang beliau duga. Merasa tidak pantas. Aku berpikir, justru beliaulah yang luar biasa. Tertancap kuat dalam ingatan, ketika itu usia beliau hampir kepala 4 dan masih melajang. Beliau seorang guru di Jawa Timur dan mendapat beasiswa sekolah di Unisma Malang. Bukan melanjutkan S2, tapi S1 dengan jurusan yang berbeda. Darinya, aku belajar banyak hal : kesabaran, ketulusan dan semangat untuk terus belajar. Beliau tidak canggung berteman dengan kita-kita yang berusia jauh dibawahnya, dan mau belajar dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari, beliau ditanya oleh ibunya teman kos: "Kalau ini ibunya siapa ya?". Kami yang mendengarnya langsung kaget, sangat khawatir dengan perasaan beliau. Namun dugaan kami ternyata meleset. Dengan senyuman beliau berkata, "Oh, kalau saya anaknya banyak. Semua yang di sini anak saya. Ada dik Endah, dik Fara, dik Aris, dik Nunung..dst..”Yo to, Dik?" Subhanallah.. tentu tidak mudah jika aku di posisi beliau. Dan pada saat itu, aku melihat beliau mampu melakukannya dengan sangat baik. Ya, dengan cepat, Mbak Luluk menjadi seseorang yang aku kagumi, meski bukan wonder women, beliau sangat tangguh menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beliau, aku dan teman-teman yang lain bisa belajar tahsin (membaguskan bacaan Al Qur'an) dengan gratis. Sesekali aku konsultasi tentang puisi-puisiku kepada beliau yang jurusan Sastra, mengenai kaidah menulis yang benar, bagaimana mendapatkan ide, dan sebagainya. Apapun tulisan yang kubuat, mbak Luluk selalu memotivasi dan memintaku agar terus menulis. Pernah suatu hari beliau membacakan puisinya yang begitu indah, tentang daun. Puisi yang dibuat dalam waktu singkat, sebagai tugas mata kuliahnya. Sayang, aku tidak menyimpannya. Sesekali beliau ganti memintaku menjelaskan buku-buku pengembangan diri layaknya motivator. Dan lagi-lagi, beliau mengakui kalau aku berbakat di banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kebersamaan indah itu akhirnya berakhir. Aku harus pulang kampung, ketika sudah tidak ada toleransi lagi dari ortu untuk menetap di Malang. Waktu satu tahun sudah habis untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Malang. Teringat jelas, teman-teman kontrakan, termasuk mbak Luluk, begitu berat melepasku. Mereka menuliskan surat-suratnya untukku, yang masih kusimpan hingga kini. Bahkan, mereka turut mengantarku membawa barang-barang ke Travel yang kunaiki pulang. Sekitar dua puluh akhwat, termasuk dari kontrakan lain, melepasku dengan iringan do’a dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, 5 tahun kemudian, aku selalu saja terkenang, akan kata-kata sakti yang dibisikkan. Kata-kata yang mampu mengembalikan spirit ketika aku sedang lemah. Kalimat yang mampu memberikan energi dahsyat bagiku untuk kembali berjuang. Selalu aku berkata pada diriku sendiri : jika orang lain begitu yakin dengan kesuksesanku, mengapa aku sendiri justru mengingkarinya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2783841845193430739?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2783841845193430739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2783841845193430739&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2783841845193430739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2783841845193430739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2009/07/meski-bukan-wonder-women.html' title='Meski Bukan Wonder Women'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-5277886347044299081</id><published>2007-08-04T10:21:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T10:24:42.164+07:00</updated><title type='text'>Hidup dan Eksperimen</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan terlalu takut dan ragu-ragu tentang tindakan Anda. Hidup itu adalah eksperimen. Semakin banyak eksperimen yang Anda lakukan, semakin lebih baik.&lt;/span&gt; ~ Ralph Waldo Emerson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya mendapat curhatan melalui email, bagaimana agar bisa sukses dengan cepat. Kadang saya bosan, saking banyaknya model pertanyaan seperti ini. Hingga saya menarik kesimpulan, mungkin seperti inilah gambaran umum masyarakat kita hari ini. MOdel orang-orang yang pesimis, enggan berjuang dan menginginkan kesuksesan secara instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, kita semua menginginkan hal serupa. Namun masalahnya kemudian, mungkinkah kesuksesan begitu murahnya bisa didapatkan. Jika demikian adanya, tentu saja akan lebih banyak orang yang sukses ketimbang yang melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, terlalu banyak dari kita yang begitu menikmati zona nyamannya. Apapun kondisinya, pasrah saja. Menerima apa adanya. Apa kemudian dengan dalih bersyukur, kemudian kita berdiam diri saja di tempat? Mengharap sukses turun dari langit? Jika demikian mental kita, terus saja mengigau dan tidak pernah mendapatkan apa-apa!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk benar-benar berubah, wajar saja jika kita diliputi berbagai ketakutan. Sangat khawatir jika resiko yang akan ditanggung begitu besar. Selalu saja kita enggan menempuh jalannya. Sekali terjatuh, enggan berdiri. Merasa kapok, dan menyerah pada nasib dan berkata "Ya sudahlah, mungkin ini takdir saya. Mau apa lagi?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melakukan eksperimen adalah sebuah pilihan bijak. Nyatanya, mencoba dan mencoba, adalah sebuah keniscayaan menuju sukses. Bereksperimen bukan berarti kembal ke titik awal, manakala kita gagal. Sebaliknya, kita bisa memperbaiki cara-cara yang masih salah. Lain halnya jika kita enggan bereksperimen, kita tidak menyadari bahwa cara yang kita pakai masih salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyak berlatih, maka kita akan banyak belajar. Kita akan tahu dimana letak salah. Kita akan menghargai apa pun yang telah kita lakukan. Kita juga menganggap bahwa hal yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia, baik benar maupun salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ingat kembali, berapa banyak kegagalan yang sudah dilakukan oleh orang-orang besar. Apakah layak, jika belum apa-apa kita sudah mengeluh duluan? Sudah pantaskah jika saat ini kita menginginkan sukses menghampiri diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tengok kembali, betapa banyak capaian yang sudah kita peroleh. Begitu lahir, kita tidak bisa apa-apa. Kita begitu bergantung kepada orang lain, terutama ibu kita. Jika dibandingkan dengan anak ayam, bisa jadi kita kalah. Beberapa hari setelah menetas dari telur menjadi anak ayam, mereka sudah pintar mencari makan. Tanpa perlu disuapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lihatlah pula, bagaimana ayam dewasa hanya berada di lingkup yang itu-itu juga. Tidak pernah pergi jauh, apalagi melakukan sesuatu yang besar. Namun kita, meski proses yang kita lakukan harus melalui berbagai kegagalan, namun ada peluang bagi kita untuk mengubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati eksperimen kita, ada beberapa hal yang semoga bisa mencerahkan :&lt;br /&gt;1. Anggaplah eksperimen seperti permainan&lt;br /&gt;Sebagaimana anak kecil bermain, menang atau kalah sudah menjadi kewajaran. Nikmati dan tertawalah dengan segala resikonya.&lt;br /&gt;2. Eksperimen sebagai investasi sukses &lt;br /&gt;Tidak ada sukses tanpa usaha. Eksperimen adalah investasi untuk meraih sukses itu sendiri. Semakin kita berinvestasi, semakin besar peluang untuk sukses&lt;br /&gt;3. Tidak ada satu pun tindakan kita yang sia-sia&lt;br /&gt;Segala hal yang kita lakukan, entah itu benar atau salah, sesungguhnya tidak ada yang sia-sia. Semuanya bermanfaat untuk kita. Kita bisa belajar dari kegagalan jika memang gagal, dan melakukan segalanya dengan lebih baik.&lt;br /&gt;4. Selalu optimis akan kesuksesan&lt;br /&gt;Sikap optimis akan memberikan energi positif terhadap hasil eksperimen kita. Setidaknya, apa yang kita pikirkan, maka itulah yang akan terwujud. Maka, selalulah berpikir dan berharap akan kesuksesan atas setiap eksperimen kita.&lt;br /&gt;5. Selalu ada jalan lain&lt;br /&gt;Melalui eksperimen, kita bisa mencoba hal-hal baru, dan memberikan alternatif jika jalan yang sebelumnya gagal. Tanpanya, maka tidak mungkin kita mengetahui jalan-jalan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saatnya kita bereksperimen. Jika kita memang ingin menjadi penulis, maka teruslah mencoba untuk menulis. Jika bermimpi menjadi pebisnis, jangan bosan untuk berlatih bisnis. Singkatnya, selalulah menikmati eksperimen-eksperimen kita. Anggaplah hidup ibarat lemparan dadu, maka menang atau kalah sebenarnya tidaklah menjadi soal. Dan sungguh, jauh lebih penting adalah proses belajar itu sendiri. Bukankah selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang sangat kita inginkan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-5277886347044299081?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/5277886347044299081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=5277886347044299081&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5277886347044299081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5277886347044299081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/08/hidup-dan-eksperimen.html' title='Hidup dan Eksperimen'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-621263771563187016</id><published>2007-07-25T10:41:00.002+07:00</published><updated>2009-07-10T19:42:27.504+07:00</updated><title type='text'>Jalan Tanpa Cahaya</title><content type='html'>Cerita ini bukan sulap atau berkaitan dengan hal-hal magic. Ini sungguh pengalaman religius, ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan kakakku kelas 1 SMA. Cukup lama memang, namun cukup berharga untuk diambil hikmahnya, siapa tahu Anda pun ingin mencobanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kejadian ini bermula ketika aku harus menemani mbakku ke acara syukuran wisuda kakak temannya. Acara sebenarnya habis Isya, tapi dia mengajakku silaturrahim terlebih dahulu ke temennya yang lain. Maklumlah, saat itu masih berbau lebaran. Semangat untuk banyak-banyak mengunjungi saudara maupun teman masih sangat kental dalam tradisi kami. Yach, sebenarnya dari awal aku sudah menolak dengan tawarannya. Bukan apa-apa, alasanku cukup masuk akal. Rumah kami yang sudah cukup terpelosok, masih harus menuju tempat yang jauh lebih terpelosok lagi. Ditambah lagi dengan sarana transportasi yang kurang mendukung. Ya, kami menikmati malam itu dengan sepeda onthel yang kami miliki. Itupun juga bukan sepeda yang cukup nyaman untuk dinaiki, semodel federal, atau wim cycle. Bisa dibilang, inipun sepeda-sepeda butut yang mungkin tidak akan cepat laku jika dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, keinginan mbakku untuk tetap datang ke rumah temannya sangatlah kuat. Menurutku hal ini tidak terlalu wajib, bahkan bisa dibilang nekat untuk memenuhinya. Mungkin siapapun akan berpikiran yang sama. Apa untungnya buatku melakukan perjalanan jauh di malam seperti ini. Aku tidak punya urusan dengan sahabat mbakku ini. Mungkin satu-satunya yang masih bisa mengobatiku adalah harapan lezatnya makanan yang bakal tersaji. Maklumlah, pikiran anak ABG...:-) Khayalan untuk menghibur diriku agar dapat mengayuh sepeda yang bakal menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Betapapun, aku lumayan hafal daerah ini. Dan, sudah terbayang di depan mata, bagaimana sulitnya medan yang harus dijalani. "Dasar nekat", rutukku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul tujuh malam, kami mulai menuju desa terpencil itu, meski sebelumnya aku harus berantem dulu untuk terpaksa mengantarnya. Mungkin memang menyenangkan bagi mbakku untuk melakukan perjalanan aneh ini. Maklum, ia bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di kota mulai dari SMP. Sedangkan aku, hanya gara-gara tubuhku yang mungil, ortuku tidak memberi ijin untuk bersekolah di kota. Makanya, aku sudah cukup kenyang untuk bersepeda. Bagaimana tidak, lima kilometer harus aku tempuh menuju sekolah pulang-pergi. Belum lagi ditambah hobi keluyuran ke rumah teman, hingga cukup mengenal beragam wilayah kecamatanku. Lain halnya dengan mbakku. Naik sepeda merupakan hal yang jarang dilakukannya. Tidak heran jika ia begitu menikmati liburannya dengan bersepeda. Namun sebenarnya ia tidak begitu mengenal jalan-jalan di sekitarku. Termasuk perjalanan yang akan kami tuju. Satu hal, aku memang tidak terbiasa menolak tawaran orang. Rasanya tidak enak jika harus mengecewakan. Apalagi, mbakku ini termasuk orang yang nekat. Mungkin kalau ia paham jalan, aku tega melepasnya seorang diri. Tapi sayang, ia sering lupa dan lupa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukayuh sepedaku meski agak sedikit jengkel. Kami membawa dua sepeda, dan mengayuhnya sendiri-sendiri. Ini lebih baik, karena akupun tidak begitu percaya jika harus dibonceng olehnya.Rumah-rumah yang kulewati sudah lumayan sepi. Perjalanan masih jauh, tapi ketakutan sudah di depan mata. Beberapa orang sering bercerita kepadaku sebuah tempat yang cukup seram akan kami lewati. Dan, itu semua semakin membuatku resah. Meski dalam keluarga aku termasuk yang paling pemberani, namun tidak untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah, meninggalkan jalan raya menuju jalan desa sudah semakin sepi. Tidak ada penerangan yang cukup berarti. Sepi. Hampir semua sudah mengunci rumah. Entahlah, mungkin mereka memang lebih suka menutup malam dengan segera. Memasuki area angker, kami hanya diam. Hatku tidak karuan. Sebelah kiri kami pohon-pohon bambu yang rimbun dan gelap. Menyesal setengah mati. Jika saja aku tidak melewati hari ini. Kayuhan sepeda yang kuat, sepertinya tidak begitu berarti. Tetap saja jalanan ini terasa lama dilalui. Terus saja kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Hanya do’a yang terus kulantunkan dan penyesalan atas kekonyolan yang kulakukan. Ya, pohon-pohon bambu dan tanah kosong yang cukup luas itu sudah terlewati. Sekira 10 menit, akhirnya kami pun melewati tempat itu. Selamat, syukurku dalam hati. Tapi aku menyadari perjuangan belum berakhir. Setengah kilo dari tempat seram itu adalah jalanan berbatu yang cukup panjang. Aku tahu persis bahwa kanan kirinya hanyalah hamparan sawah luas. Di antara jalan dan sawah adalah sungai sawah yang berdiameter satu meter. Aku tidak tahu pasti kedalamannya, namun tentu akan sakit jika terjatuh di dalamnya. Dan yang membuatku menyesal, jalanan yang berdiameter satu setengah meter itu dibuat berbatu di tengahnya. Ya, hanya cukup untuk satu roda saja yang bisa berjalan di tepinya yang mulus. Itupun juga berkelok-kelok. Jika kita salah mengikuti alurnya, tinggal memilih : kerasnya terantuk batu atau tergelincir masuk sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain. Gelap..gelap..dan gelap. Tidak ada cahaya setitikpun. Ini sama artinya dengan bersepeda menutup mata. Sama persis. Aku sudah putus asa. Kembali kutawarkan kepada mbakku untuk membatalkan niatnya. Dengan banyak berdebat, ia tetap ngotot untuk meneruskan perjalanan. Satu hal yang membuat ia bersikeras meneruskan, sepertinya ia juga sudah lupa seberapa panjang jalanan tanpa cahaya yang harus dijalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tega membiarkannya berjalan sendirian, dengan mengucap bismillah, kukayuh lagi sepedaku. Rasa takut menghinggapiku. Aku tidak yakin dapat mengayuh sepeda dengan baik. Meski aku sudah cukup lihai memainkan pedal dan remnya, namun pesimis tetap saja mendominasi. Perely sehebat apapun tidak ada yang melakukan hal konyol seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan grogi kukayuh dan kukayuh sepedaku. Bibirpun tak lepas untuk terus memohon pertolongan-Nya. Kepasrahan total akan apa yang bakal terjadi. Beberapa surat pendek dari Al Qur’an aku ulang-ulang. Memang tidak banyak do’a maupun surat pendek yang saat itu sudah kuhafal. Timbul penyesalan mengapa aku tidak banyak menghafal do’a sebelumnya.“Dik, do’a terus..banyak membaca Al Fatihah! Yang keras bacanya,” teriak kakakku yang bersepeda di depanku. Meski sebenarnya ia tidak terlihat sama sekali olehku. “Iya..iya” sahutku. Aku sudah tidak lagi berdebat dengannya tentang perjalanan konyol ini. Aku sudah sibuk untuk berdo’a dan berdo’a. Aku berharap panjang jalan ini menyusut, hingga aku bisa segera selamat di tempat tujuan. Mulailah kami melakukan dzikir berjamaah di tengah sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wooow”, kami menjerit kompak dengan kencang ketika melihat setitik cahaya merah di pinggir jalan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kaget sekaget-kagetnya. Ingatanku kembali berputar pada kejadian serupa yang kualami di waktu aku masih kecil. Ya, aku dengan mbakku pernah melihat lampu teplok berjalan tanpa ada yang memegang. Ketakutan dan berlari sekencang-kencangnya adalah hal yang dulu kami lakukan. Namun, untuk mengayuh sepeda lebih kencang dengan kondisi seperti itu rasanya tidak memungkinkan. Dingin semakin menyergap. “Dik, apa itu?,” tanya mbakku yang sama takutnya denganku. “Udah nggak usah dilihat. Terus aja berdo’a,” teriakku menyahutnya. Titik itu semakin dekat dan dekat. Meski berusaha untuk tidak melihatnya, namun tetap tidak mengurangi gundahnya hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a semakin kencang terlafadzkan, hingga akhirnya kudengar “Gerrrrrr, terdengar suara tawa sekumpulan orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Yach, ternyata cahaya itu berasal dari rokok yang sedang dinikmati salah satu dari mereka. Lega, bingung dan tidak percaya bercampur menjadi satu. Aneh, pikirku saat itu. Di tengah sawah yang cukup jauh dari pemukiman, mereka mau-maunya ngumpul-ngumpul tanpa ada cahaya. “Hati-hati mbak, awas gelap”, teriak mereka masih dengan tawanya yang ngakak."Itupun aku juga sudah tahu", rutukku dalam hati. Meski demikian, aku juga agak tenang karena masih ada manusia di sini. Terbersit niat untuk meminta tolong pada mereka, berharap mau meminjamkan senter untuk penerangan. Tapi pikiran itu dengan cepat kutepis, khawatir kalau mereka ternyata orang jahat. Akhirnya, kami tidak mempedulikan mereka lagi. Itu merupakan pilihan terbaik untuk saat itu. Dan, mengayuh sambil berdoa adalah hal yang paling mungkin untuk terus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tiba-tiba kurasakan sesuatu yang berbeda. Kayuhan demi kayuhan yang awalnya berat, tiba-tiba terasa ringan. Aku sedikit kaget dan gembira. Sepertinya sepeda ini ditarik ke depan dengan lebih cepat. Terus terang, aku bingung kalau-kalau dengan laju yang kencang akan lebih sakit jika terjatuh. Namun, segera kusadari bahwa ini bukan lagi kendaliku. Satu-satunya alasan yang paling memungkinkan adalah Allah menjawab do’aku. Sungguh, hatipun semakin tenang. Aku tidak takut lagi akan terbelok atau terjatuh. Aku sangat percaya pada Sang Pengendali. Aku terus berdo’a dan berdo’a sebagai bentuk syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus merasa dapat mengendalikan sepeda dengan mudah. Hingga akhirnya kami pun sampai di rumah teman kakakku dengan selamat. Alhamdulillah, aku bisa bernafas lega. Kami disambut dengan baik oleh mereka. Kuselonjorkan kaki untuk meregangkan ototku yang sejak tadi terus menegang. Aku sedikit tersenyum, ketika menyadari bahwa kini aku tidak begitu bernafsu lagi dengan makanan yang disuguhkan. Otakku masih terus berpikir akan hebatnya kejadian yang aku alami. Kakakku ternyata berpikiran sama. Sama persis. Kami tertawa bersama, meski ada sedikit kesal. Hanya sedikit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya bagaimana kami menuju ke sana, mereka semua terkaget-kaget. Mereka tidak menyangka kami bisa melalui jalanan tanpa cahaya itu. Rasa salut tertangkap dari wajah-wajah mereka untuk kami, gadis-gadis polos yang berani. Akhirnya, kakaknya teman bersedia mengantarkan kami pulang. Dengan diiringi cahaya motor dari belakang, kami bisa melalui jalanan dengan lebih mudah. Sekitar pukul 22.30 kami sampai di rumah. Tak lupa kami bersegera mengambil air wudhu dan sholat Isya untuk menunaikan kewajiban, sekaligus meluapkan bentuk kesyukuran. Sungguh, ini sebuah hal yang luar biasa hebat. Kekuatan Allahlah yang sudah menggerakkan. Membuat segalanya menjadi mudah. Di saat penglihatan manusia sudah tidak lagi mampu menangkap, namun Allah tidak enggan untuk menuntunnya. Aku semakin menyadari kasih sayang-Nya padaku. Syukur dan syukur atas kemudahan yang Allah berikan. Aku merasa tidak semua orang mendapat kesempatan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, akhirnya aku masih bisa tidur pulas hari itu. Sebelum menutup malam, sejenak aku merenung. Ya. meski cukup menegangkan, namun aku harus berterima kasih kepada kakakku yang menyertakanku dalam petualangan ini. Minimal ada yang bisa untuk dikenang dan diceritakan. Bagiku, ini menjadi sepenggal pengalaman berharga yang takkan kulupa. Dan, ini adalah pertama kali aku mampu mengenal-Nya dengan dekat. Sangat dekat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-621263771563187016?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/621263771563187016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=621263771563187016&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/621263771563187016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/621263771563187016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/07/jalan-tanpa-cahaya_25.html' title='Jalan Tanpa Cahaya'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2421124319616782373</id><published>2007-07-25T10:41:00.000+07:00</published><updated>2007-07-25T10:42:59.246+07:00</updated><title type='text'>Jalan Tanpa Cahaya</title><content type='html'>Cerita ini bukan sulap atau berkaitan dengan hal-hal magic. Ini sungguh pengalaman religius, ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan kakakku kelas 1 SMA. Cukup lama memang, namun cukup berharga untuk diambil hikmahnya, siapa tahu Anda pun ingin mencobanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kejadian ini bermula ketika aku harus menemani mbakku ke acara syukuran wisuda kakak temannya. Acara sebenarnya habis Isya, tapi dia mengajakku silaturrahim terlebih dahulu ke temennya yang lain. Maklumlah, saat itu masih berbau lebaran. Semangat untuk banyak-banyak mengunjungi saudara maupun teman masih sangat kental dalam tradisi kami. Yach, sebenarnya dari awal aku sudah menolak dengan tawarannya. Bukan apa-apa, alasanku cukup masuk akal. Rumah kami yang sudah cukup terpelosok, masih harus menuju tempat yang jauh lebih terpelosok lagi. Ditambah lagi dengan sarana transportasi yang kurang mendukung. Ya, kami menikmati malam itu dengan sepeda onthel yang kami miliki. Itupun juga bukan sepeda yang cukup nyaman untuk dinaiki, semodel federal, atau wim cycle. Bisa dibilang, inipun sepeda-sepeda butut yang mungkin tidak akan cepat laku jika dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, keinginan mbakku untuk tetap datang ke rumah temannya sangatlah kuat. Menurutku hal ini tidak terlalu wajib, bahkan bisa dibilang nekat untuk memenuhinya. Mungkin siapapun akan berpikiran yang sama. Apa untungnya buatku melakukan perjalanan jauh di malam seperti ini. Aku tidak punya urusan dengan sahabat mbakku ini. Mungkin satu-satunya yang masih bisa mengobatiku adalah harapan lezatnya makanan yang bakal tersaji. Maklumlah, pikiran anak ABG...:-) Khayalan untuk menghibur diriku agar dapat mengayuh sepeda yang bakal menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Betapapun, aku lumayan hafal daerah ini. Dan, sudah terbayang di depan mata, bagaimana sulitnya medan yang harus dijalani. "Dasar nekat", rutukku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul tujuh malam, kami mulai menuju desa terpencil itu, meski sebelumnya aku harus berantem dulu untuk terpaksa mengantarnya. Mungkin memang menyenangkan bagi mbakku untuk melakukan perjalanan aneh ini. Maklum, ia bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di kota mulai dari SMP. Sedangkan aku, hanya gara-gara tubuhku yang mungil, ortuku tidak memberi ijin untuk bersekolah di kota. Makanya, aku sudah cukup kenyang untuk bersepeda. Bagaimana tidak, lima kilometer harus aku tempuh menuju sekolah pulang-pergi. Belum lagi ditambah hobi keluyuran ke rumah teman, hingga cukup mengenal beragam wilayah kecamatanku. Lain halnya dengan mbakku. Naik sepeda merupakan hal yang jarang dilakukannya. Tidak heran jika ia begitu menikmati liburannya dengan bersepeda. Namun sebenarnya ia tidak begitu mengenal jalan-jalan di sekitarku. Termasuk perjalanan yang akan kami tuju. Satu hal, aku memang tidak terbiasa menolak tawaran orang. Rasanya tidak enak jika harus mengecewakan. Apalagi, mbakku ini termasuk orang yang nekat. Mungkin kalau ia paham jalan, aku tega melepasnya seorang diri. Tapi sayang, ia sering lupa dan lupa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukayuh sepedaku meski agak sedikit jengkel. Kami membawa dua sepeda, dan mengayuhnya sendiri-sendiri. Ini lebih baik, karena akupun tidak begitu percaya jika harus dibonceng olehnya.Rumah-rumah yang kulewati sudah lumayan sepi. Perjalanan masih jauh, tapi ketakutan sudah di depan mata. Beberapa orang sering bercerita kepadaku sebuah tempat yang cukup seram akan kami lewati. Dan, itu semua semakin membuatku resah. Meski dalam keluarga aku termasuk yang paling pemberani, namun tidak untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah, meninggalkan jalan raya menuju jalan desa sudah semakin sepi. Tidak ada penerangan yang cukup berarti. Sepi. Hampir semua sudah mengunci rumah. Entahlah, mungkin mereka memang lebih suka menutup malam dengan segera. Memasuki area angker, kami hanya diam. Hatku tidak karuan. Sebelah kiri kami pohon-pohon bambu yang rimbun dan gelap. Menyesal setengah mati. Jika saja aku tidak melewati hari ini. Kayuhan sepeda yang kuat, sepertinya tidak begitu berarti. Tetap saja jalanan ini terasa lama dilalui. Terus saja kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Hanya do’a yang terus kulantunkan dan penyesalan atas kekonyolan yang kulakukan. Ya, pohon-pohon bambu dan tanah kosong yang cukup luas itu sudah terlewati. Sekira 10 menit, akhirnya kami pun melewati tempat itu. Selamat, syukurku dalam hati. Tapi aku menyadari perjuangan belum berakhir. Setengah kilo dari tempat seram itu adalah jalanan berbatu yang cukup panjang. Aku tahu persis bahwa kanan kirinya hanyalah hamparan sawah luas. Di antara jalan dan sawah adalah sungai sawah yang berdiameter satu meter. Aku tidak tahu pasti kedalamannya, namun tentu akan sakit jika terjatuh di dalamnya. Dan yang membuatku menyesal, jalanan yang berdiameter satu setengah meter itu dibuat berbatu di tengahnya. Ya, hanya cukup untuk satu roda saja yang bisa berjalan di tepinya yang mulus. Itupun juga berkelok-kelok. Jika kita salah mengikuti alurnya, tinggal memilih : kerasnya terantuk batu atau tergelincir masuk sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain. Gelap..gelap..dan gelap. Tidak ada cahaya setitikpun. Ini sama artinya dengan bersepeda menutup mata. Sama persis. Aku sudah putus asa. Kembali kutawarkan kepada mbakku untuk membatalkan niatnya. Dengan banyak berdebat, ia tetap ngotot untuk meneruskan perjalanan. Satu hal yang membuat ia bersikeras meneruskan, sepertinya ia juga sudah lupa seberapa panjang jalanan tanpa cahaya yang harus dijalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tega membiarkannya berjalan sendirian, dengan mengucap bismillah, kukayuh lagi sepedaku. Rasa takut menghinggapiku. Aku tidak yakin dapat mengayuh sepeda dengan baik. Meski aku sudah cukup lihai memainkan pedal dan remnya, namun pesimis tetap saja mendominasi. Perely sehebat apapun tidak ada yang melakukan hal konyol seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan grogi kukayuh dan kukayuh sepedaku. Bibirpun tak lepas untuk terus memohon pertolongan-Nya. Kepasrahan total akan apa yang bakal terjadi. Beberapa surat pendek dari Al Qur’an aku ulang-ulang. Memang tidak banyak do’a maupun surat pendek yang saat itu sudah kuhafal. Timbul penyesalan mengapa aku tidak banyak menghafal do’a sebelumnya.“Dik, do’a terus..banyak membaca Al Fatihah! Yang keras bacanya,” teriak kakakku yang bersepeda di depanku. Meski sebenarnya ia tidak terlihat sama sekali olehku. “Iya..iya” sahutku. Aku sudah tidak lagi berdebat dengannya tentang perjalanan konyol ini. Aku sudah sibuk untuk berdo’a dan berdo’a. Aku berharap panjang jalan ini menyusut, hingga aku bisa segera selamat di tempat tujuan. Mulailah kami melakukan dzikir berjamaah di tengah sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wooow”, kami menjerit kompak dengan kencang ketika melihat setitik cahaya merah di pinggir jalan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kaget sekaget-kagetnya. Ingatanku kembali berputar pada kejadian serupa yang kualami di waktu aku masih kecil. Ya, aku dengan mbakku pernah melihat lampu teplok berjalan tanpa ada yang memegang. Ketakutan dan berlari sekencang-kencangnya adalah hal yang dulu kami lakukan. Namun, untuk mengayuh sepeda lebih kencang dengan kondisi seperti itu rasanya tidak memungkinkan. Dingin semakin menyergap. “Dik, apa itu?,” tanya mbakku yang sama takutnya denganku. “Udah nggak usah dilihat. Terus aja berdo’a,” teriakku menyahutnya. Titik itu semakin dekat dan dekat. Meski berusaha untuk tidak melihatnya, namun tetap tidak mengurangi gundahnya hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a semakin kencang terlafadzkan, hingga akhirnya kudengar “Gerrrrrr, terdengar suara tawa sekumpulan orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Yach, ternyata cahaya itu berasal dari rokok yang sedang dinikmati salah satu dari mereka. Lega, bingung dan tidak percaya bercampur menjadi satu. Aneh, pikirku saat itu. Di tengah sawah yang cukup jauh dari pemukiman, mereka mau-maunya ngumpul-ngumpul tanpa ada cahaya. “Hati-hati mbak, awas gelap”, teriak mereka masih dengan tawanya yang ngakak."Itupun aku juga sudah tahu", rutukku dalam hati. Meski demikian, aku juga agak tenang karena masih ada manusia di sini. Terbersit niat untuk meminta tolong pada mereka, berharap mau meminjamkan senter untuk penerangan. Tapi pikiran itu dengan cepat kutepis, khawatir kalau mereka ternyata orang jahat. Akhirnya, kami tidak mempedulikan mereka lagi. Itu merupakan pilihan terbaik untuk saat itu. Dan, mengayuh sambil berdoa adalah hal yang paling mungkin untuk terus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tiba-tiba kurasakan sesuatu yang berbeda. Kayuhan demi kayuhan yang awalnya berat, tiba-tiba terasa ringan. Aku sedikit kaget dan gembira. Sepertinya sepeda ini ditarik ke depan dengan lebih cepat. Terus terang, aku bingung kalau-kalau dengan laju yang kencang akan lebih sakit jika terjatuh. Namun, segera kusadari bahwa ini bukan lagi kendaliku. Satu-satunya alasan yang paling memungkinkan adalah Allah menjawab do’aku. Sungguh, hatipun semakin tenang. Aku tidak takut lagi akan terbelok atau terjatuh. Aku sangat percaya pada Sang Pengendali. Aku terus berdo’a dan berdo’a sebagai bentuk syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus merasa dapat mengendalikan sepeda dengan mudah. Hingga akhirnya kami pun sampai di rumah teman kakakku dengan selamat. Alhamdulillah, aku bisa bernafas lega. Kami disambut dengan baik oleh mereka. Kuselonjorkan kaki untuk meregangkan ototku yang sejak tadi terus menegang. Aku sedikit tersenyum, ketika menyadari bahwa kini aku tidak begitu bernafsu lagi dengan makanan yang disuguhkan. Otakku masih terus berpikir akan hebatnya kejadian yang aku alami. Kakakku ternyata berpikiran sama. Sama persis. Kami tertawa bersama, meski ada sedikit kesal. Hanya sedikit…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya bagaimana kami menuju ke sana, mereka semua terkaget-kaget. Mereka tidak menyangka kami bisa melalui jalanan tanpa cahaya itu. Rasa salut tertangkap dari wajah-wajah mereka untuk kami, gadis-gadis polos yang berani. Akhirnya, kakaknya teman bersedia mengantarkan kami pulang. Dengan diiringi cahaya motor dari belakang, kami bisa melalui jalanan dengan lebih mudah. Sekitar pukul 22.30 kami sampai di rumah. Tak lupa kami bersegera mengambil air wudhu dan sholat Isya untuk menunaikan kewajiban, sekaligus meluapkan bentuk kesyukuran. Sungguh, ini sebuah hal yang luar biasa hebat. Kekuatan Allahlah yang sudah menggerakkan. Membuat segalanya menjadi mudah. Di saat penglihatan manusia sudah tidak lagi mampu menangkap, namun Allah tidak enggan untuk menuntunnya. Aku semakin menyadari kasih sayang-Nya padaku. Syukur dan syukur atas kemudahan yang Allah berikan. Aku merasa tidak semua orang mendapat kesempatan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, akhirnya aku masih bisa tidur pulas hari itu. Sebelum menutup malam, sejenak aku merenung. Ya. meski cukup menegangkan, namun aku harus berterima kasih kepada kakakku yang menyertakanku dalam petualangan ini. Minimal ada yang bisa untuk dikenang dan diceritakan. Bagiku, ini menjadi sepenggal pengalaman berharga yang takkan kulupa. Dan, ini adalah pertama kali aku mampu mengenal-Nya dengan dekat. Sangat dekat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2421124319616782373?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2421124319616782373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2421124319616782373&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2421124319616782373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2421124319616782373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/07/jalan-tanpa-cahaya.html' title='Jalan Tanpa Cahaya'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-940191927195283602</id><published>2007-07-16T13:26:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T13:28:21.616+07:00</updated><title type='text'>Puing Asa Yang Tersisa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Lelaki itu cuma ada dua : kalau nggak brengsek, ya pengecut!!”&lt;/span&gt; Itulah rutukan yang keluar untuk kaum Adam, ketika kadar keimanan ini lagi menurun. Namun kalau pas lagi bener, aku akan berpikir bahwa takdir setiap insan memang sudah ada yang menggariskan. Seperti hari ini, aku kembali disibukkan permasalahan model begini. Kadang aku merasa capek. Orang-orang di sekelilingku mempunyai permasalahan yang tidak jauh beda. Intinya, jodoh dan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak mau jatuh cinta lagi, karena aku takut bakal kecewa,” begitulah kalimat pembuka Lia bab curhatnya tadi siang. Ya, tidaklah sulit bagiku untuk memahami perasaannya. Toh, aku juga perempuan dan pernah mengalami hal serupa. Hanya saja, aku lebih beruntung darinya, karena berada diantara orang-orang dengan pemahaman Islam yang baik. Begitupun dalam hal keteguhan, aku diberikan kekuatan yang lebih daripada Lia. Selain itu, konsep cinta versi Lia masih bisa ia tuangkan dalam kamus pacaran. Lain halnya denganku. Bisa jadi aku hanya akan memendam sendiri kekagumanku pada lawan jenis, dan membiarkan waktu yang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke, kalau kamu masih sebatas sakit batin, namun tidak dengan aku. Bagaimanapun kamu masih lebih beruntung. Soalnya kamu nggak pernah mengalami nasib kayak aku. Aku tuh sudah sakit lahir-batin,” terangnya sedih. Mendengar penuturannya, aku hanya bisa terdiam. Perih. Kisah sedihku memang tidak sepilu dia. Itupun sudah cukup menyakitkan bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku menjadi tempat curhatan bagi teman-temanku. Mungkin mereka menangkap bakat motivatorku, dan berharap mampu membangkitkan semangat dan harapan mereka kembali. Meski terkadang, harus jujur kuakui bahwa akupun tidak mampu mensupport diriku sendiri.&lt;br /&gt;Ahh, sesak nafasku memikirkan nasib teman-temanku yang belum jua menikah di usianya yang semakin merangkak senja, meski aku sendiri juga belum menjalaninya. Lia, termasuk salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Lia kembali meneleponku. Satu tujuan, ia ingin menemuiku. Hari Minggu memang saat yang tepat untuk bersua denganku. Jangan harap aku bisa ditemui di hari selainnya. Jadwalku sudah menumpuk, tidak bisa diganggu gugat. Hari Minggu pun aku tidak benar-benar free, karena sering ada acara dakwah. Meski sebenarnya capek, namun aku tidak tega membiarkannya menanggung kesedihan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pernah nggak, punya perasaan dendam pada orang, Ke?” ungkap Lia sedih. Namun di balik sorot matanya kulihat kegeraman yang menghebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya pernah dong. Aku juga manusia, punya rasa punya hati,” jawabku menirukan salah satu lagu rock yang lagi hit. ”Ih, tapi kalau kamu benci sama orang, mungkin hanya sebatas sebel. Dan, nggak lebih. Masalahnya sekarang, kalau dalam Islam dibolehkan membunuh sesama muslim, maka akan aku bunuh orang itu. Tapi sebelumnya, aku akan menyiksa dia terlebih dahulu. Biar dia bisa ngerasain gimana rasanya sakit hati. Aku juga akan membuat anak keturunannya menderita. Setelah itu, baru aku akan merasakan puas.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apakah harus separah itu?” tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, bahkan aku berpikir bahwa aku sudah siap untuk masuk neraka dan mendapat murka Allah untuk hal ini,” terang Lia menggebu. Aku tersentak mendengar penuturannya. Namun kucoba tenang dan mencari logika yang tepat untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh ya? Apa tidak ada pilihan lain? Dengan melakukan itu, artinya kamu sudah kalah dunia dan akhirat. Kamu sudah merasa sakit hati di dunia karena perasaan kecewamu. Dan, kamu pun siap dengan akhir yang mengenaskan? Ahh, itu artinya kamu rela berkorban dunia akhirat hanya untuk dia,” ungkapku tanpa bermaksud menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya, kamu tidak pernah merasakan apa yang pernah aku rasakan, Ke. Seumur-umur, aku tidak pernah mempunyai musuh. Baru kali ini aku merasakan sakit hati pada orang. Dan itu sakiiiit banget,” bela Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mengingat bagaimana jauh berbedanya masa laluku dengan Lia. Sosok Lia memang cenderung kalem, mandiri, dan hampir tidak pernah menemui masalah dalam hidup. Musuh pun ia tidak punya. Dengan kesendiriannya, tidak begitu banyak orang yang tersakiti maupun menyakiti. Beda jauh dengan diriku. Aku masih mengingat dengan baik pada "musuh-musuh"ku dari SD, SMP, SMA, kuliah, kerja hingga hari ini. Sebenarnya bukan aku yang menginginkan musuh datang menghampiri. Tapi, ketika ada kesadaran bahwa apa yang kulakukan adalah benar, maka aku siap untuk bertarung. Kebanyakan orang akan kalah jika harus berdebat denganku. Bahkan aku pernah membuat teman SD-ku menangis ketika bertengkar denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik aku hampir sama dengan Lia. Tubuh yang tidak terlalu tinggi dan kurus. Jika aku dan dia berjalan, maka seringkali menjadi pusat perhatian orang. Lia yang cantik dan bersih, sedangkan aku yang cenderung hitam manis. Yah, bagaimanapun aku tetap berusaha sabar dengan Lia. Sebenarnya kalau boleh jujur, Lia menderita karena dirinya sendiri. Ia terlalu percaya pada orang dan menganggap semua orang berlaku baik kepadanya. Bukan sekali dua kali aku menangis untuknya. Ini semata karena aku telah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Namun entah, ia sudah menentukan pilihan dan menyesali kekeliruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi gimana, Ke? Menurutmu apa yang kau lakukan jika kamu menjadi aku?” todong Lia menghentakkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm...Kalau aku jadi kamu, aku akan membiarkan dia dengan keluarganya. Dan, aku dengan duniaku sendiri. Aku nggak akan peduli dengan urusan dia. Tidak sudi lagi dia masuk kembali dalam hidupku. Aku akan mengganti nomor HP, meninggalkan jejak, dan mencari sesuatu yang baru untuk menyembuhkan sakit hatiku. Mungkin aku akan menikah atau mengembangkan potensiku dengan kuliah, kerja atau bisnis. Dunia masih luas. Dan masih banyak manusia yang sanggup berjalan denganku. Allah nggak akan diam kok. Aku akan menunjukkan kepada dia bahwa aku bisa lebih baik tanpa dia. Bukan tidak mungkin dia langsung mendapat murka Allah sekarang. Atau, memang balasannya nanti di akhirat. Artinya, aku tidak akan menambah lagi pekerjaan, apalagi yang jelas-jelas tidak ada nilai lebihnya buatku. Sudah ada bagiannya. Biarkan pengadilan Allah saja yang membalasnya. Mudah bukan?” terangku berpanjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga menambahkan bahwa aku akan lebih puas jika dia melihatku dengan kesuksesanku, karirku, rumah tanggaku, anak-anak yang kelak bisa dibanggakan dan sebagainya. Dan, bisa jadi karena dia mendapatkan murka Allah, maka kondisinya berbalik 180 derajat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh, sebenarnya aku harus lebih berhati-hati dalam memilih kata. Namun itu sudah terlanjur kulakukan. Bukan sekali dua kali saja, musuh-musuhku harus mengalami nasib pahit setelah menyakitiku. Meski aku tidak mengatakan apapun, namun Allah senantiasa mendengar apa yang terbersit dalam hati hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Lia. Rasa kesalnya pada kaum Adam banyak dilatarbelakangi dengan pengalaman yang kurang menyenangkan. Bagaimana tidak. Ketika ia mulai belajar mencintai, ternyata ia salah menempatkannya. Ini bukan karena ia tidak menyadarinya. Namun, ia sendiri yang menyemaikan bunga cinta yang tidak seharusnya tumbuh. Ya, ia mencintai seorang laki-laki yang sudah beristri. Memang, dalam Islam tidak ada yang salah dengan poligami. Namun, semua itu harus dikembalikan lagi pada tujuan pernikahan yang semestinya. Pernikahan bukanlah ladang untuk bermain-main. Sebisa mungkin gerbang itu hanya dijalani sekali saja oleh seorang perempuan. Tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal itu kusampaikan pada Lia, ia hanya tersenyum dengan hal yang disembunyikannya. Entah, apakah ia menerima jalan pikiranku atau tidak, aku juga meragukannya. Yang jelas, aku tidak tega untuk tidak merespon diskusi yang diajukannya. Hingga, kabar yang tidak mengenakkan kudengar tiga bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam, Lia sudah menikah dengan pria beristri dan beranak satu tersebut. Dan, yang lebih menyakitkan lagi, ia sudah ditinggal dan diceraikan begitu saja, hanya dalam waktu yang sangat singkat. Belum lagi tuduhan miring bahwa dirinya yang menggoda bapak tersebut. Mendengar itu semua, aku merasa telah terkhianati olehnya. Namun entah, aku masih sabar datang dan mendengar penuturannya. Tidak seperti temanku yang lain, tidak ada simpati dan meninggalkan Lia begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, siapa yang diuntungkan dalam persahabatanku dengan Lia. Bukan berarti aku terlalu perhitungan dengan teman. Namun, tanpa kusadari, Lia telah memasukkan aku ke dalam lingkup permasalahannya. Laki-laki yang pernah menjadi suami Lia juga  pernah menyukaiku. Hal itu terjadi sebelum ia mengenal sosok Lia dalam hidupnya. Ketika itu aku belum mengenal Lia. Namun, aku bukanlah sosok yang mudah tergoda. Apalagi laki-laki ini bukanlah tipeku. Meski kata orang secara fisik tergolong cakep, namun tidak ada gaya magnet yang membuatku tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang justru muncul adalah sikap antipati, tanpa bisa aku tutupi. Itu pulalah yang selalu aku nasehatkan kepada Lia. “Apa sih hebatnya lelaki itu? Menurutku tidak satupun yang menarik dari dirinya?” ungkapku kesal. Dan yang membuatku tambah sakit hati, semua itu Lia bocorkan kepada lelaki itu. Bahkan dengan pertanyaan Lia yang polos, “Bapak dulu suka ya sama Keke?” Urgh, terang saja ia langsung menolaknya mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang sesuatu yang misteri. Kadang kita tidak menyadari sesuatu yang membuat kita tertarik pada orang yang kita cintai. Cinta memang bukan untuk disalahkan. Hanya pelakunya saja yang seharusnya mampu menempatkan cinta dengan sebenarnya. Akan ada cinta di atas cinta. Ya, cinta pada Yang Maha Mencinta dan Menguasai kita. Apakah cinta kita pada manusia akan membuatnya kita lebih dekat dengan-Nya? Atau justru sebaliknya. Meski sulit untuk mengendalikannya, namun tidak ada yang tidak mungkin. Hanya orang-orang dewasalah, yang tahu kapan saatnya mencinta dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Lia sangat menyesali semuanya. Dia cukup trauma dengan masa lalunya ini. Hingga ia pernah berniat melakukan segala hal konyol. Mulai dari membunuh laki-laki itu, melajang seumur hidup, pergi ke luar negeri, menyendiri di daerah terpencil dan segudang ide lainnya pernah ia ungkapkan. Hingga ia sendiri mengaku merasa capek hanya sekadar untuk mengatur strateginya. Yah, sebuah mimpi yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, kembali kudapatkan SMS dari Lia. “Hari ini, detik ini, pertama kalinya setelah beberapa waktu yang lalu, aku merasa bersalah. Aku kembali yakin, bahwa hanya kita sendirilah yang harus melakukan segala sesuatunya agar lebih baik. Itu pula, satu hal, yang mungkin, menjadikan diri kita tetap tegak berdiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya do’a yang bisa kuberikan pada Lia : semoga ia bisa menatap dan menapaki hari esok dengan lebih baik. Dan, semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak menjadi Lia-Lia yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sahabat-sahabatku yang MASIH BERTAHAN MENCINTAI SEORANG YANG SUDAH PERGI : Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu, dan kau telah menyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak. Kalau sekarang ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarang pun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi, lupakan..!! (Anonymous)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-940191927195283602?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://edumuslim.com' title='Puing Asa Yang Tersisa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/940191927195283602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=940191927195283602&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/940191927195283602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/940191927195283602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/07/puing-asa-yang-tersisa.html' title='Puing Asa Yang Tersisa'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-3704954958378660004</id><published>2007-07-16T13:24:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T13:26:45.478+07:00</updated><title type='text'>Mendung di Hati Dinda</title><content type='html'>IJINKAN dan BIARKAN !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkan aku untuk sedikit menyapamu&lt;br /&gt;Biar hati ini kembali lurus&lt;br /&gt;Ijinkan aku untuk menata hati&lt;br /&gt;Meski sangat ingin terus berbagi&lt;br /&gt;Ijinkan aku untuk sedikit bicara&lt;br /&gt;Agar tidak smakin terasa luka&lt;br /&gt;Biarkan aku dengan diamku&lt;br /&gt;Agar tidak banyak yang tahu&lt;br /&gt;Biarkan aku dengan sepi&lt;br /&gt;Meski itu terasa sakit&lt;br /&gt;Biarkan aku dengan duka&lt;br /&gt;Agar tidak menambah dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini aku temukan pada tumpukan meja Dinda. Kasihan anak itu. Aku begitu memahami perasaannya. Kemarin dia menceritakan bagaimana tidak enaknya ketika muncul perasaan cinta pada lawan jenis. Apalagi dengan pemahaman Islam yang dimiliki, bahwa tidak ada kamus pacaran dalam Islam. Nah, lantas mengapa masih ada cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku ini masalah yang sangat manusiawi. Sudah menjadi fitrah bagi manusia untuk memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Apalagi di usia Dinda yang cukup matang untuk segera mendapat seorang pendamping hidup. Ya, ia sering menyebutnya dengan Pangeran Berkuda yang akan datang menjemputnya. Meski terkesan lucu, namun aku menghargai sikap tegasnya yang tetap tidak mau berpacaran dengan makhluk laki-laki dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya cukup terharu dengan kisahnya. Bagaimana tidak, seringkali ia harus mendapat masalah dengan laki-laki. Bahkan yang tidak mengenakkan adalah ketika ia dituduh yang 'tidak-tidak' dengan suami orang. Sungguh situasi yang tidak menyenangkan bagi perempuan lajang manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku ini bisa jadi memang tergolong FBI, alias Female Buruan Ikhwan. Wajar saja, ia memang smart and beautiful. Sepandai-pandainya ia menjaga diri, tetap saja para ikhwan mengincarnya. Sayangnya, termasuk yang sudah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang ia bercerita model kasus seperti ini. Teringat pembicaraanku dengan Dinda beberapa bulan yang lalu. Dinda sangat bersedih lantaran istri Budi habis menerornya. Memang, tidak ada air mata yang tertumpah. Namun, justru itulah yang aku khawatirkan. Bisa jadi, saking sakitnya, air mata pun tidak cukup untuk meluapkan emosinya. Bukan berarti dia adikku lantas aku membelanya. Namun, aku bisa adil melihat bagaimana fitnah-fitnah itu bisa berdatangan. Salah satunya adalah ketika Budi mengatakan pada istrinya "Mbok ya jadi perempuan itu seperti mbak Dinda..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, mungkin jika aku di posisi istri Budi, aku juga akan terbakar dengan ucapan ini. Masalahnya adalah, Dinda tidak pernah tahu apa-apa untuk kemudian dilibatkan dalam permasalahan mereka. Hingga istri Budi meneleponnya dan mengancam agar jangan lagi menghubungi suaminya. Jangan menelepon atau meng-SMS, bahkan menerima pun jangan. Teror ini disampaikan istri Budi melalui telepon kantor pada jam kerja. Terbayang, bagaimana kacaunya perasaan Dinda waktu itu. Antara malu, marah, ingin membela diri, kesal, dan berbagai rasa bercampur-aduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membuatku bangga, kontrol emosi Dinda bisa dibilang cukup baik. Agak aneh mungkin, Dinda justru sangat bersedih jika dikasihani orang, daripada habis dimarahi orang. Seperti siang itu, Dinda masih dengan tenang memenuhi keinginan istri Budi. Alasannya cukup masuk akal, biarlah ia saja yang disalahkan, daripada bangunan rumah tangga mereka terancam, hanya karena kekeliruan sang suami. Ia tidak mau berpanjang lebar lagi, hingga terkesan kesalahan memang di pihak Dinda. Padahal, aku menjadi saksi hidup dalam hal ini. Justru Budi yang sering menelepon Dinda, tanpa pernah diangkatnya. Begitupun dengan SMS Budi, yang lagi-lagi tidak digubris oleh Dinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain, dengan istri Arman. Senja itu, aku melihat Dinda yang pulang kantor dengan muka kusam. Kusam, sekusam-kusamnya. Ya, sulit untuk mencari padanan kata untuk menerjemahkan mimik mukanya kala itu. Tanpa kata, ia tunjukkan SMS dari Arman. "Afwan ukhti, jika selama ini ada hal yang kurang berkenan dari ana selama mengenal anti. Semoga tidak membuat putusnya tali silaturrahim...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, bagiku ini sebuah SMS yang aneh. Aku menangkap ada hal serius yang telah terjadi. Benarlah. ketika kutanya mengapa, mengalirlah deretan cerita yang membuatku cukup tercengang. Hal yang sama sekali juga tidak pernah terbersit dalam benaknya. Arman mengaku habis bertengkar dengan istrinya, gara-gara Dinda. Mereka sampai tidak tidur semalaman, hanya untuk membahas masalah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh, ini semua sebenarnya berawal dari hal yang sangat sepele. Malam itu, sehabis Kajian Muslimah, Arman menelepon Dinda untuk menawarkan pemasangan tenda pada acara pengajian ibu-ibu. Tentu saja, pekerjaan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh akhowat. Pembicaraan itupun juga singkat. Dan, lagi-lagi, bukan Dinda yang menghubungi Arman terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain, wajar sekali jika yang dihubungi adalah Dinda, mengingat ia koordinator dalam Kajian Jelang Ramadhan tersebut. Ketika Arman menanyakan butuh bantuan berapa ikhwan, dengan enteng Dinda menjawab : sebanyak-banyaknya! Nah, bukankah jawaban ini sudah cukup mewakili, bahwa Dinda memang tidak men-spesial-kan sosok Arman? Entah, siapa orang yang tega menyebarkan fitnah tersebut. Lucu saja sebenarnya, meski Arman masih bujang pun, aku yakin Dinda tidak tertarik padanya. Apalagi sekarang, sudah ada 6 bocah kecil-kecil yang menjadi tanggungan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fyiuhh, aku memang tidak bisa menolong banyak untuk Dinda. Yang kulakukan hanyalah sedikit menghiburnya dan menasehatkan untuk lebih menjaga diri. Selain itu, aku memintanya untuk tabayyun kepada istri Arman jika memungkinkan. Hingga suatu hari, ada kesempatan untuk silaturrahim ketika anak Arman yang masih bayi harus opname karena tersiram air panas. Berombongan kita menjenguknya, dan berharap bisa mencairkan setelah kekakuan, terutama dengan istri Arman. Meski awalnya sangat berat bagi Dinda untuk ikut bergabung, namun ia memaksakan diri. Siapa tahu segalanya akan menjadi lebih baik. Dinda pun bisa bernafas lega, menganggap masalah ini sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dugaan Dinda meleset. Heran saja, 8 bulan kemudian, masalah ini masih saja terdengar dan melebar kemana-mana. Bahkan, ketua organisasi yang dihormatinya pun turut membincang masalah basi ini, meski Dinda sudah tidak lagi tinggal di sini. Wajar jika kemudian ia enggan untuk datang, karena ada saja orang-orang iseng yang masih membahasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, akhirnya aku merasa wajib untuk membuat klarifikasi, meski Dinda tidak pernah memintanya. Sengaja tidak kuberitahukan pada Dinda, khawatir mengganggu konsentrasi kerjanya. Aku sendiri awalnya juga enggan untuk membuka masalah ini kembali. Namun di luar dugaan, teman-teman Dinda marah besar ketika mendengar fitnah ini masih  terdengar lagi. Mereka tidak rela, dan meminta ijin untuk menyelesaikan gosip murahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh...yang jelas, tidak hanya dua kasus itu saja yang Dinda alami. Lebih dari itu. Aku cukup sedih mendengarnya. Namun apa daya, aku tidak bisa memberikan solusi lebih. Aku juga sangat tahu bahwa banyak yang menginginkan Dinda. Bisa jadi ia sudah menolak puluhan ikhwan hanya demi menyenangkan aku sebagai kakaknya dan orang tuaku. Padahal aku sudah mempersilakannya beberapa kali, jika memang berniat menikah terlebih dahulu. Tapi, lagi-lagi Dinda tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku mendapat cerita dari temannya bahwa dalam satu bulan Dinda pernah lima kali diminta lelaki. Ada yang adik-temennya, kakak-temennya, temen-temennya, semuanya tidak ada yang serius difollow-up, dengan alasan dalam adat Jawa tidak boleh mendahului kakaknya. Akhir-akhir ini ia juga menolak ikhwan dengan alasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku sebenarnya berterima kasih kepada dia atas kedewasaan dan pengertiannya. Namun aku juga turut sedih dengan konsekuensi dari pilihannya tersebut. Sepertinya aku menjadi penghalang baginya untuk bahagia, meski itu juga tidak aku kehendaki. Di usiaku yang terus merangkak, aku juga belum mendapat gambaran tentang 'Pangeran Berkuda' (mengutip ungkapan Dinda). Entah sampai kapan. Meski doa dan usaha juga telah aku upayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke puisi Dinda. Aku sangat maklum jika Dinda yang banyak disukai lelaki, juga mempunyai naluri untuk mencintai. Sangat mungkin. Ini yang kedua kalinya terjadi pada Dinda. Ia begitu pintar menyembunyikan perasaannya, hingga mungkin hanya aku saja yang tahu. Pilihan Dinda sebenarnya sangat masuk akal : sholeh dan cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, ini bukan sesuatu yang berlebihan. Bukankah ibunda Khadijah juga terlebih dahulu menginginkan Rasulullah? Namun sayang, Dinda tidaklah memiliki keberanian seperti ibunda Khadijah. Atau, alasan yang lebih kuat adalah lagi-lagi dia menghormati perasaanku sebagai kakak perempuannya, yang juga belum menikah di usia yang cukup matang. Aku juga mengetahui bahwa ikhwan pertama yang diinginkan Dinda juga mengharapkannya. Namun keduanya menyadari bahwa itu jalan yang salah, jika menyemaikan perasaan tanpa pernikahan. Dan, akhirnya ikhwan tersebut menikah dengan akhwat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung itu tampak jelas. Dinda meneleponku untuk meminta nasehat. Jarak kota yang memisahkan kita, tidak menghalangi Dinda untuk tetap berbagi denganku. Termasuk kepulangannya Sabtu sore itu. "Kak, gimana ya biar kita bisa tetap lurus menata hati? Selama ini aku merasa aman-aman saja, tapi.." Kalimat Dinda menggantung. Aku sudah bisa menebak bahwa ia sedang mengagumi sosok laki-laki idamannya. Aku juga bisa menduga bahwa dirinya sedang takluk pada lelaki yang sholih dan cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dengan penuturannya. Entah sampai kapan ia dengan pilunya. Dan tentunya, aku dengan pilu yang lebih-lebih lagi. Hanya pesan ini yang kusampaikan untuk Dinda : Pangeran berkudamu akan datang...jika tidak di dunia, nantikan ia di surga. Mengajakmu mengembara..!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*** Selesai ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Aku dalam kisah ini akhirnya menemukan Pangeran Berkudanya, dan kini tengah hamil 2 bulan. Tulisan ini dibuat sebelum ’Aku’ menikah. Mohon do’anya untuk Dinda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-3704954958378660004?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://edumuslim.com' title='Mendung di Hati Dinda'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/3704954958378660004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=3704954958378660004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3704954958378660004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3704954958378660004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/07/mendung-di-hati-dinda.html' title='Mendung di Hati Dinda'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-313806181285140692</id><published>2007-07-04T07:55:00.000+07:00</published><updated>2007-07-04T08:14:29.935+07:00</updated><title type='text'>Jika ada pedih</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jika ada pedih yang datang, percepatlah datangnya...&lt;br /&gt;Karna aku punya hidup untuk kujalani,&lt;br /&gt;dan mesti kujalani dengan cara terbaik.&lt;br /&gt;Jika ia harus memilih, semoga ia memilih sekarang&lt;br /&gt;Maka aku akan menunggu atau melupakannya&lt;br /&gt;Menunggu itu menyakitkan&lt;br /&gt;Melupakan juga menyakitkan&lt;br /&gt;Tetapi, tak tahu mana yang harus dijalani&lt;br /&gt;adalah derita yang terburuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kutipan Buku "Di Tepi Sungai Pedra, Aku Duduk dan Tersedu", Paulo Coelho&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-313806181285140692?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Jika ada pedih'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/313806181285140692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=313806181285140692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/313806181285140692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/313806181285140692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/07/jika-ada.html' title='Jika ada pedih'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-7934896674593748218</id><published>2007-06-17T10:29:00.000+07:00</published><updated>2007-06-17T10:46:48.092+07:00</updated><title type='text'>(POem) Untuk Sebuah</title><content type='html'>Untuk sebuah ujian, aku katakan&lt;br /&gt;Terima kasih tlah menjadikanku dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah tantangan, aku katakan...&lt;br /&gt;Selamat datang Sobat terbaik di masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah hinaan, aku katakan...&lt;br /&gt;Sungguh, aku tidak keberatan, kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah derita, aku katakan...&lt;br /&gt;Hai, apa kabar? lihat, aku masih bisa tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah kegagalan, aku katakan...&lt;br /&gt;Tenang saja, sungguh kau lebih hebat dari yang lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah masalah, aku katakan...&lt;br /&gt;Kau tidak sendirian, banyak orang yang bernasib sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah keraguan, aku katakan...&lt;br /&gt;Apa yang kau khawatirkan, selagi iman masih menancap di dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah sakit hati, aku katakan...&lt;br /&gt;Maafkan, dan berjanjilah untuk tidak melakukan pada yang lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sudut kamar Hamasah Putri&lt;br /&gt;Terima kasih pada orang2 yang telah melukaiku hingga sisi2 terdalam...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-7934896674593748218?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/7934896674593748218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=7934896674593748218&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7934896674593748218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7934896674593748218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/06/sebuah.html' title='(POem) Untuk Sebuah'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-1887273527435036702</id><published>2007-06-06T23:39:00.000+07:00</published><updated>2007-06-07T02:31:41.970+07:00</updated><title type='text'>Catatan Hati Seorang Istri (Yang Wajib Dibaca Para Suami n Calon Suami)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_fkqzEWvFr3Y/Rmb0bDO2A3I/AAAAAAAAAAU/SjNS_TSt5nU/s1600-h/Catatan+Hati+Seorang+Istri+the+cover+(revisi2).jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_fkqzEWvFr3Y/Rmb0bDO2A3I/AAAAAAAAAAU/SjNS_TSt5nU/s200/Catatan+Hati+Seorang+Istri+the+cover+(revisi2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073010775840654194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika Asma Nadia ingin meninjunya, maka sungguh saya sangat ingin menendangnya. Setidaknya itulah yang saya rasakan begitu membaca buku ini. Tentu saja hanya akan berlaku manakala menghakimi seseorang adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bagaimana tidak 'gemes', di awal buku ini, seorang bapak dengan 4 anak mengaku bahwa dirinya tidak pernah mencintai istrinya. Kok bisa? Jika tidak ada cinta, bagaimana mungkin bisa terlahir keempat buah hatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, buku ini mengupas tentang keteguhan, kesabaran, keikhlasan, ketulusan seorang istri. Luar biasa!! Itu semua teruji dalam sebuah drama rumah tangga, dimana suami adalah tantangannya. Kisah-kisah nyata ini bisa jadi tidak kita duga sebelumnya. Bagaimana ketika istri bekerja, suami malah selingkuh dengan perempuan lain. Bahkan, ada yang selingkuhnya dengan baby sitter-nya sendiri. Urgh, kemana perginya cinta yang mewarnai awal-awal pernikahan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca 75% dari buku ini, masih saja membuat saya pilu. Sesak nafas. Pening kepala. Tidak habis mengerti. Saya ikut berempati dengan nasib mereka. Betapa hebatnya perempuan-perempuan ini. Ketika akhirnya mereka harus menjadi single parent bagi anak-anak mereka. Atau, ketika mereka harus tetap bertahan meski menanggung sakit hati akibat pengkhianatan, yang sangat susah untuk dilupakan. Sebaliknya, mungkin kebanyakan pembaca akan bertanya :"kok ada ya suami-suami yang kayak gini?" Jujur, saya juga heran. Namun, mereka juga manusia. Sangat mudah untuk tergoda. Bisa jadi, inilah jalan bagi perempuan-perempuan itu untuk menggapai surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung buku, barulah Asma Nadia memberikan penghiburnya. Saya tidak lagi 'meledak-ledak' membacanya. Ada dua potret pasangan yang tetap bahagia meski di usianya yang senja. Meski dalam kekurangan. Meski dalam kecacatan. Hingga air mata saya meleleh, ketika membaca kisah seorang suami yang tetap setia pada istrinya, yang sudah lebih dulu menutup usia. Bahkan ia marah besar ketika anak-anaknya mengusulkan untuk mencari pengganti ibu mereka. Padahal, dengan status sosial yang dimiliki, sangat mungkin baginya untuk menikah lagi, bahkan ketika istrinya masih hidup sekalipun. Apa yang menjadi alasannya? Itu semua tidak lain karena kebaikan, keikhlasan, dan kebersihan hati seorang perempuan. Kesetiaan lelaki ini terbukti, hingga ia menyusul istrinya berpulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, satu pesan saya, buku ini lebih wajib dan sangat wajib dibaca oleh mereka : para suami dan calon suami. Mengapa? Temukan saja jawabnya di buku ini...Kalau kata mbak Asma di komen blognya : biar lebih mengerti suara hati perempuan dan bisa menjaganya lebih baik. Piss ah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Category : Books&lt;br /&gt;Genre    : Nonfiction&lt;br /&gt;Author   : Asma Nadia&lt;br /&gt;Halaman  : 220&lt;br /&gt;Penerbit : Lingkar Pena Publishing&lt;br /&gt;Harga    : Rp. 36.000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-1887273527435036702?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com/reviews/item/3' title='Catatan Hati Seorang Istri (Yang Wajib Dibaca Para Suami n Calon Suami)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/1887273527435036702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=1887273527435036702&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1887273527435036702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1887273527435036702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/06/catatan-hati-seorang-istri-yang-wajib.html' title='Catatan Hati Seorang Istri (Yang Wajib Dibaca Para Suami n Calon Suami)'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_fkqzEWvFr3Y/Rmb0bDO2A3I/AAAAAAAAAAU/SjNS_TSt5nU/s72-c/Catatan+Hati+Seorang+Istri+the+cover+(revisi2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2822113427351178691</id><published>2007-05-27T23:59:00.000+07:00</published><updated>2007-05-28T00:04:26.724+07:00</updated><title type='text'>Potret Keluarga Bersahaja</title><content type='html'>Sebuah gerobak, dilengkapi terpal berwarna orange dan bangku berukuran 1,5 meter. Meski kecil, namun tempat itu kini menjadi tempat favorit yang sering kukunjungi. Meski berjarak 1 kilo meter dari tempat kos, namun aku rela berjalan kaki pulang pergi, sambil olahraga pagi. Tentu tujuanku tidak hanya untuk mendapatkan Kupat Tahu Petis yang dijual di warung mini ini. Sebab, sebenarnya banyak penjual makanan serupa yang letaknya lebih dekat dan mudah terjangkau. Entahlah, ada keterikatan hati yang membuatku merasa nyaman untuk datang, lagi dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari tempat langganan makanan, jujur, aku termasuk yang pilih-pilih. Namun bicara kriteria, mungkin agak lain dari kebanyakan orang. Menjadi kebiasaanku untuk mendahulukan pedagang yang berjilbab, agar lebih memastikan makanan yang dijual aman kehalalannya. Faktor kedua yang menjadi penentu adalah kebersihan tempatnya. Sedangkan masalah harga dan rasa, menjadi alasan berikutnya. Bagiku, makanan enak akan menjadi kurang nikmat jika kebersihannya diragukan, apalagi kehalalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan dengan warung mini itu berawal pada sebuah Minggu pagi. Sambil berjalan-jalan, terihat olehku seorang ibu berjilbab dengan anak gadis yang nampak akrab menyiapkan dagangannya. Sang ibu berwajah lembut, namun terlihat gesit memainkan perannya. Sang gadis dengan penuh cinta membantu pekerjaan ibunya. "Wow, tidak ada salahnya dicoba," hati kecilku berteriak memberi perintah kaki untuk berbelok. Awalnya, gerobak yang bertuliskan "Kupat Tahu Petis dan Sayur" ini enggan kudekati, mengingat posisinya yang tepat di depan alun-alun Banjaran, dan ramai dilewati angkot.Apa boleh buat, keharmonisan ibu dan anak itu lebih kuat mendorongku untuk mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kunjungan pertama, aku menikmati keakraban ibu anak itu. Bahu membahu menyajikan Kupat Tahu untuk pembeli. Begitu sepi, si ibu juga membuatkan menu serupa untuk gadisnya dengan mesra. Awalnya aku berpikir bahwa ibu tersebut single parent. Ternyata dugaanku meleset. Beberapa kunjungan berikutnya, aku bertemu dengan suaminya, yang juga ramah kepada pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak banyak yang mengetahui latar belakang mereka yang sesungguhnya. Hingga menjadi kesyukuran bagiku bisa mengenal seluruh personil keluarga ini : pak Tamara, Ibu Endang,Icha dan Toni. Tidak hanya lezatnya makanan yang kurasakan, tapi lebih dari itu. Banyak cerita yang penuh hikmah kudapatkan dari mereka. Aku seperti memiliki keluarga baru di sini.  Semakin mengenal, semakin akrab, dan semakin kagum. Inilah potongan kisah mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ialah Pak Tamara, siapa sangka, penjual Kupat Tahu petis ini adalah pensiunan Tentara. Lelaki sederhana berusia 58 tahun ini, sempat merasakan mewahnya hidup. Bertahun-tahun lamanya tinggal di Jerman, bekerja di Kedutaan, dengan berbagai fasilitas yang luar biasa. Naik pesawat dan empuknya mobil menjadi kesehariannya. Sebelum mengenal bu Endang, pak Tamara pernah menikah dengan perempuan Jerman, anak seorang Ustadz. Sayangnya, selama 17 tahun usia pernikahannya, beliau tidak mendapatkan keturunan. Menurut prediksi beliau, besar kemungkinan dipengaruhi kebiasaan merokok sang istri, yang  terbawa tradisi perempuan Jerman. Ketika pak Tamara mendapat kesempatan pulang ke Indonesia, istrinya menolak menyertainya. Apalah daya, bahtera rumah tangga itu pun kandas pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke Indonesia, pak Tamara mengenal seorang perempuan lembut penuh keibuan. Ialah Bu Endang, yang waktu itu berusia 30 tahun. Awalnya bu Endang juga menolak lamaran pak Tamara, setelah melihat banyaknya potret kehidupan rumah tangga yang berantakan. Apa boleh dikata, mungkin itulah yang disebut jodoh. Akhirnya mereka pun menikah, meski uang pensiun jatuh ke tangan istri pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku bisa mengenal mereka dalam kebersahajaan hidup bersama kedua buah hatinya. Ada Icha, bidadari mereka yang duduk di kelas 1 SMU dan selalu terdepan di kelasnya. Begitupun dengan Toni, si bungsu pintar kelas 6 SD. Seringkali orang mengira, bahwa Toni adalah cucu pak Tamara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat mereka hebat? Pertama, mungkin cinta yang menjadi jawabnya. Terlihat sekali betapa harmonisnya hubungan di antara mereka. Kedua, tidak ada racun televisi di rumah mereka. Ini bukan karena mereka tidak mampu membeli. Justru anak-anak mereka yang merasa terganggu jika mempunyai TV. Tidak bisa konsen belajar menjadi alasannya. Icha sudah gandrung membaca sejak kecil. Begitupun Toni. Kemanapun pergi, buku selalu menjadi temannya yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, suasana dialogis menjadi jalan pencerdasan keluarga ini. Setiap berkunjung, diskusi seolah tidak ada habisnya. Selalu ada tema yang menarik untuk dibahas. Tentang penyesalan perilaku pejabat yang doyan korupsi. Tentang kegundahan akan remaja yang gandrung televisi, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana aku mengetahui, bahwa sebenarnya pak Tamara pun tidak perlu merasakan menjadi penjual Kupat Tahu Petis jika menghendaki. Beliau pernah mendapat tawaran posisi strategis, asalkan mau sedikit culas. Namun jalan itu tidak pernah diambilnya, dan lebih memilih kesederhanaan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengaku, jika saja teman-temannya melihat profesinya yang sekarang, mungkin mereka tidak akan rela. Namun bukan itu masalahnya. Toh, pak Tamara dan keluarga ini begitu menikmati hidupnya. Berjualan bukanlah profesi yang hina. Mengenang masa lalunya yang penuh kemewahan, pak Tamara justru mengaku bosan. Dan kini, ia menemukan kebahagiaan bersama istri dan anak-anak yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kisah ini kutuliskan, aku membayangkan betapa bahagianya mereka. Ah, seandainya para orang tua bisa bersikap bijak seperti mereka. Ah, seandainya para anak berpikir seperti Toni dan Icha. Ah, seandainya aku...upzz..sebelum kemana-mana, lebih baik kuakhiri saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2822113427351178691?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com/journal/item/70' title='Potret Keluarga Bersahaja'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2822113427351178691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2822113427351178691&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2822113427351178691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2822113427351178691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/05/potret-keluarga-bersahaja.html' title='Potret Keluarga Bersahaja'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8958633017109356236</id><published>2007-05-26T05:03:00.000+07:00</published><updated>2007-05-28T00:14:29.200+07:00</updated><title type='text'>Sukacita Sejati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Inilah sukacita sejati dalam hidup,&lt;br /&gt;Berguna untuk sebuah tujuan&lt;br /&gt;Yang diakui oleh diri Anda sendiri &lt;br /&gt;Sebagai sesuatu yang besar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kekuatan alam &lt;br /&gt;Dan bukan orang pesakitan yang mengeluh &lt;br /&gt;Bahwa dunia tidak akan pernah memberi sesuatu &lt;br /&gt;Untuk membahagiakan Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menganggap hidup saya &lt;br /&gt;Menjadi milik seluruh komunitas&lt;br /&gt;Dan selama saya hidup,&lt;br /&gt;Merupakan hak saya untuk melakukannya semampu saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin memberikan segalanya, sebelum saya mati&lt;br /&gt;Karena semakin saya bekerja, semakin saya hidup&lt;br /&gt;Saya bersuka dalam hidup demi hidup itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bukanlah "lilin pendek" bagi saya&lt;br /&gt;Tetapi semacam obor terang&lt;br /&gt;Yang saya genggam untuk sesaat&lt;br /&gt;Dan ingin saya nyalakan seterang mungkin&lt;br /&gt;Sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ George Bernard Shaw&lt;br /&gt;Dari "Man and Superman"&lt;br /&gt;Surat Persembahan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8958633017109356236?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8958633017109356236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8958633017109356236&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8958633017109356236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8958633017109356236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/05/sukacita-sejati-hidup.html' title='Sukacita Sejati'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-1566927554831619371</id><published>2007-05-11T12:36:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T12:39:44.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='सहबत'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Berjuta Cinta Bersama Sahabat (I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara do'a pada dadamu...&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang sahabat, saya memaknainya sebagai pahlawan. Setidaknya pahlawan buat saya. Apa jadinya hidup, jika saya tidak mengenal sahabat. Tanpanya, mungkin saya tidak menjadi saya yang sekarang. Bisa jadi saya tidak pernah sempat menuliskan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini, saya mengenal orang-orang yang luar biasa. Kekuatan kata, ketulusan, kebaikan, keceriaan, kesederhanaan, dan berbagai simbol menjadi saksi dalam persahabatan. Saya akan menuliskan tentang mereka, pahlawan-pahlawan saya yang begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Luluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Mbak Luluk, seorang sahabat saya satu kos di Al Hamasah, Malang. Saya masih teringat kuat, hingga saat ini, ketika beliau mampu memotivasi saya dengan begitu hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Saya yakin, anti bisa menjadi orang yang yang sangat luar biasa sekali. Hebat, sehebat-hebatnya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa, Mbak?, tanya saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya melihat semangat juang dek Endah luar biasa. Mau bolak-balik Surabaya-Malang, interview kerja, ngurusin amanah dakwah. Kalau mau egois, amanah dek Endah kan bisa dihandle sama yang lain. Saya tidak hanya melihat sekali ini, sering. Meski dek Endah sendiri sedang sangat diuji, tapi masih bisa memberi untuk orang lain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga, saya langsung menitikkan air mata. Saya merasa tidak sehebat dari yang beliau duga. Merasa tidak pantas. Saya berpikir, justru beliaulah yang luar biasa. Tertancap kuat dalam ingatan, ketika itu usia beliau hampir kepala 4 dan masih melajang. Beliau seorang guru di jawa Timur dan mendapat beasiswa sekolah di Unisma Malang. Bukan melanjutkan S2, tapi S1 dengan jurusan yang berbeda. Darinya, saya belajar kesabaran, ketulusan dan semangat untuk terus belajar. Beliau tidak canggung berteman dengan kita-kita yang usianya jauh dibawahnya, dan mau belajar dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari, beliau ditanya oleh ibunya teman kos : "Kalau ini ibunya siapa ya?". Kami yang mendengarnya langsung kaget, sangat khawatir dengan perasaan beliau. Namun dugaan kami ternyata meleset. Dengan senyuman beliau berkata "Oh kalau saya anaknya banyak. Semua yang di sini anak saya. Ada dek Endah, dek Fara, dek Aris, dek Nunung..dst..yo to, Dek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah..tentu tidak mudah jika saya di posisi beliau. Dan pada saat itu, saya melihat beliau mampu melakukannya dengan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beliau, saya dan teman-teman yang lain bisa belajar tahsin (membaguskan bacaan Al Qur'an) dengan gratis. Sesekali saya konsultasi tentang puisi-puisi saya kepada beliau yang jurusan Sastra. Sesekali beliau ganti meminta saya menjelaskan buku-buku pengembangan diri layaknya motivator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, 5 tahun kemudian, saya selalu saja terkenang, akan kata-kata sakti yang dibisikkan. Kata-kata yang mampu mengembalikan spirit ketika saya sedang lemah. Kalimat yang mampu memberikan energi dahsyat bagi saya untuk kembali berjuang. Saya selalu berkata pada diri saya sendiri : jika orang lain begitu yakin dengan kesuksesan saya, mengapa saya sendiri justru mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, 5 tahun kemudian, saya selalu saja terkenang, akan kebesaran jiwa, kesabaran, keteguhan dan ketulusan cintanya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-1566927554831619371?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Berjuta Cinta Bersama Sahabat (I)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/1566927554831619371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=1566927554831619371&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1566927554831619371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1566927554831619371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/05/berjuta-cinta-bersama-sahabat-i.html' title='Berjuta Cinta Bersama Sahabat (I)'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8226846424645301188</id><published>2007-05-04T01:21:00.000+07:00</published><updated>2007-05-05T00:25:26.926+07:00</updated><title type='text'>Inginkah Aku Menikah?</title><content type='html'>Tanya ini selalu hadir&lt;br /&gt;Meksi tak hanya tertuju pada diri&lt;br /&gt;Banyak disana yang juga resah&lt;br /&gt;Merasa penat untuk menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inginkah aku menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pertanyaan konyol, pikirku&lt;br /&gt;Tak perlu dijawab, kata sobatku&lt;br /&gt;Biarkan saja, teriak yang lain&lt;br /&gt;Sayangnya, ibuku juga menanyakan hal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata seorang kawan...&lt;br /&gt;Ayolah Mbak...nunggu apa dan siapa sih?&lt;br /&gt;Nggak bakalan keluar dari layar monitor!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sstts...dikolong meja juga nggak ada, jawabku&lt;br /&gt;Di missed call juga tidak bunyi...&lt;br /&gt;Lalu cari dimana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang kucing?!" teriaknya tergelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inginkah aku menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara ini datang lagi&lt;br /&gt;Dari segala arah penjuru angin&lt;br /&gt;Memaksaku untuk menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aah... apakah mereka tidak mengerti&lt;br /&gt;Ketika teriak lucu anak kecil menyentak hati&lt;br /&gt;Ketika naluri keibuan acap memanggil-manggil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ada yang berbisik-bisik...&lt;br /&gt;Di sana, di sana dan di sini&lt;br /&gt;Nyatanya mereka menunggu jawaban pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini...&lt;br /&gt;Aku hanya menunggu Sang Pemberani&lt;br /&gt;Yang juga teguh menjaga kehormatan diri&lt;br /&gt;Yang siap berjuang sampai mati&lt;br /&gt;Hmmm...jikapun tak di dunia&lt;br /&gt;Di surga ia tlah menanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut kamar Hamasah Putri&lt;br /&gt;Bandung, 3 Mei '07, 15.55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Yang begini curhat atau bermain seni? Ah, jawab aja sendiri :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8226846424645301188?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8226846424645301188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8226846424645301188&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8226846424645301188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8226846424645301188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/05/inginkah-aku-menikah.html' title='Inginkah Aku Menikah?'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-4372266250373890478</id><published>2007-04-28T20:06:00.001+07:00</published><updated>2009-07-10T19:35:58.257+07:00</updated><title type='text'>Senyuman Untuk Kehidupan</title><content type='html'>Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasib, dan kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(potongan sajak WS. Rendra, Sajak Seorang Tua untuk Istrinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hendaknya kita menyikapi kehidupan. Seperti sajak itu. Ya, dengan senyuman. Bukan karena kedok ataupun sekadar ingin bersandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cerita ini bisa mewakili. Tetangga saya pernah curhat pada saya setelah keluar kerja. Status beliau sama dengan saya, perantau dan masih gadis. Si Mbak ini mengaku stress berat, merasa tidak berguna berlama-lama hidup di dunia. Dari awalnya yang hanya kehilangan pekerjaan, kemudian berlanjut pada pikiran yang selalu terbebani, hingga akhirnya sakit. Sakitnya lebih ke arah jiwa. Semacam mendapat gangguan jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdiskusi panjang lebar, sebenarnya masalahnya hanya satu : pekerjaan. Jika dari sisi financial, sebenarnya beliau masih ada kakaknya, yang masih sabar menanggungnya. Pada curhatnya, beliau berkata pada saya “Enak ya jadi Mbak? Sudah cantik, pinter, kerjanya enak..”. Ck ck ck..Mungkin disinilah masalahnya. Kata pepatah : rumput tetangga tampak lebih hijau ketimbang rumput sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum dan berkata, “Mbak kalau di posisi saya bagaimana ya?” Akhirnya saya ganti bercerita tentang liku hidup saya, yang sebenarnya jauh lebih ‘berdarah-darah’ ketimbang yang beliau alami. Niat saya bercerita hanya untuk menunjukkan bahwa seburuk apapun situasinya, jika kita bijak menyikapinya, maka segalanya akan lebih mudah. Si Mbak akhirnya tersenyum terheran-heran. “Wah, kok bisa ya?” katanya mengaku malu. Tanpa bermaksud menggurui, saya berkata kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap masa ada fasenya, ada situasinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedih dan dukanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedewasaanlah yang membuat kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggup melewati fase-fase tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, karena diminta, saya pun mencoba memberikan kiat keluar dari situasi ini, hasil percobaan dari diri saya sendiri. Berikut beberapa diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bermesraan dengan Sang Pemilik Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa pun butuh makanan. Mendekat pada Yang Maha Mencinta diri kita memberikan energi yang luar biasa. Karena, Dialah yang kuasa membolak-balik hati manusia. Sejenak kita diberi kebahagiaan, sekejap pula dicabut-Nya. Hanya dengan kesadaran bahwa paket kehidupan inilah yang terbaik untuk kita, maka kita pun akan tenang menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Berbagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saatnya kita membutuhkan teman untuk berbagi. Beban akan menjadi lebih ringan jika kita tidak menanggung kegelisahan seorang diri, meski teman berbagi kita juga tidak secara langsung memberikan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Tuangkan melalui karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaknyamanan suasana hati kadang justru bisa melahirkan karya yang tidak terduga. Jangan biarkan diri kita terdiam tanpa aktivitas. Lakukan apa saja yang bisa kita lakukan. Jika kita suka menulis, mengapa tidak menuangkannya melalui tulisan? Bisa jadi, energi kepenulisan itu lahir dari sini, buah dari kegelisahan, penderitaan. Dan, pada saatnya, apapun bentuknya, karya tersebut bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4. Lakukan hal yang bisa membangkitkan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing orang mungkin melakukannya dengan cara yang berbeda. Ada yang sekadar refreshing dengan berlibur ke pantai, gunung. Ada yang membaca. Atau seperti saya kemarin, kembali ikutan aksi ke jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, kakaknya si Mbak tersebut datang untuk berterima kasih, dan meminta saya untuk sering-sering menengok adiknya. “Insya Allah, semoga adiknya bisa segera mendapat jalan keluar,” jawab saya yang diamin-kan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah manusia. Seringkali merasa paling menderita. Mengaku makhluk tersial yang pernah lahir di muka dunia. Nyatanya, kita bukanlah satu-satunya orang yang menderita. Masih banyak orang yang senasib, atau mungkin jauh lebih sengsara ketimbang kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, agar senantiasa mampu memberikan senyuman untuk kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-4372266250373890478?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Senyuman Untuk Kehidupan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/4372266250373890478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=4372266250373890478&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/4372266250373890478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/4372266250373890478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/senyuman-untuk-kehidupan.html' title='Senyuman Untuk Kehidupan'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-5965503592338615912</id><published>2007-04-19T19:36:00.000+07:00</published><updated>2007-05-26T05:03:24.048+07:00</updated><title type='text'>How to be Persistent</title><content type='html'>What Is Persistence?&lt;br /&gt;Pesistence is not allowing anything to stop you from an activity once you start it unless it's something really severe. I find it really disappointing when I see someone brilliant and intelligent dropping an activity just one week after he started it because of a tiny obstacle that appeared in his way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A friend of mine stopped working out because he started work and the other dropped his computer courses because he felt over-worked!! When I asked them why they did these things, they replied with almost the same words! They both said that they no longer felt satisfied doing it and so dropped it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you're persistent only when you feel good about something, then you will surely drop one or more of your activities in the next down time. What people don’t know about persistence is that you don’t have to be feeling good when doing that particular thing. When I was at the gym, it was very difficult to move around and I had to bring a friend along to help me in doing most of the exercises.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persistence is simply going against your obstacles and your emotions and accomplishing your task under any conditions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t Wait for Things to Change&lt;br /&gt;Wanting to be persistent while waiting for your mood to stabilize will be like waiting for the wind to calm so that you could set sail. Yes, the wind may clam down eventually, but that may only happen after it's too late!! Life moves in cycles and you will face times when you aren't in the mood for anything. If you stop working whenever the cycle moves near the bottom, you will never complete an activity to the end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To summarize this, go against your emotions and obstacles instead of waiting for them to move away from you. I know that sometimes things could be out of your control, but when it comes to not exercising because you couldn't find your training shoes, that's definitely not being persistent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persistence is an acquired skill and not some kind of gift. Simply by training yourself to be persistent, you will become a persistent person. Whatever you do affects your personality; if you keep dropping small activities because of small obstacles, you will end up dropping bigger activities because of even smaller obstacles. Whatever you train yourself to do will become a part of your personality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persistence and Flexibility&lt;br /&gt;Some people think that persistence is trying the same method over and over until things get done. This is completely wrong! If you can't break the wall by punching it then don’t keep punching. Go grab something to break it down with, bring your friends to help you or use dynamite. The idea is to avoid repeating a method if it proves unsuccessful but not let go of the main goal; in this case breaking the wall!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How to Be Persistent?&lt;br /&gt;To summarize it all, these are the guidelines for becoming persistent:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Holding on even if you feel like quitting: In other words, disregard your emotions.&lt;br /&gt;* Keep your goal in sight: If you don't visualize your reward, what will push you on, against your emotions and personal comfort, to accomplish anything?&lt;br /&gt;* Don’t ignore small situations: Be persistent when doing even small tasks. This will be reflected in your behaviour and your personality when you face bigger situations.&lt;br /&gt;* Be flexible: Don't keep punching the wall:))&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-5965503592338615912?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='How to be Persistent'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/5965503592338615912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=5965503592338615912&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5965503592338615912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5965503592338615912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/how-to-be-persistent.html' title='How to be Persistent'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-3351715580063541960</id><published>2007-04-17T18:32:00.000+07:00</published><updated>2007-04-17T18:33:20.638+07:00</updated><title type='text'>Akhwat 'Lemper'</title><content type='html'>Tidak perlu bingung, julukan ini sudah sering kami pakai untuk menyebut aktivis dakwah yang hebat. Ya, lemper singkatan dari LEMbut tapi PERkasa. Tentu yang pas menyandangnya hanyalah para akhowat. Akan aneh jika gelar ini disandangkan kepada para ikhwan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya akan menceritakan seorang sahabat hebat saya. Namanya Gina. Saya biasa memanggilnya teh Gina, meski usianya dua tahun lebih muda ketimbang saya. Saya terbawa kebiasaan orang Sunda, yang menyebut 'Teh”, dengan tidak memandang usia lebih muda atau tua, tapi untuk lebih menghargai si empunya nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang teh Gina, sosoknya sederhana, tenang, dan tidak banyak bicara. Beliau lebih suka mendengarkan, ketimbang didengarkan. Mengajar di beberapa SMU adalah profesinya. Menurut teman sesama pengajar dan murid-muridnya, beliau ini termasuk yang disegani karena karisma yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama mengenalnya, saya tidak bisa langsung akrab, hingga sebuah tugas dakwah menjadikan kita lebih saling mengenal. Tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan beliau. Kami bisa saling belajar dengan cepat. Dari teh Gina, saya belajar keikhlasan berkorban untuk dakwah. Sedangkan dari saya, beliau mengaku belajar semangatnya. Singkatnya, semakin mengenalnya, semakin saya kagum akan pribadinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kesibukannya yang padat, beliau orang pertama yang menawarkan diri untuk menemani saya mencari dana sponsorship kegiatan. Memang paling efektif jika mengajak beliau, ketimbang yang lainnya, mengingat satu-satunya panitia akhwat yang bisa naik motor hanya beliau saja. Ya, ini menjadi kritik bagi akhwat, terutama saya pribadi, untuk bisa mengendarai motor. Urusan dakwah pastinya akan lebih lancar andaikan para akhowat juga lincah di jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berbicara kelincahan, teh Gina termasuk yang saya acungi jempol. Meski beliau juga baru belajar naik motor, namun terbilang cepat dan berani menguasai jalanan. Saya punya pengalaman yang luar biasa dengan beliau. Beberapa kali kami harus menyeberangi banjir di jalanan Dayeuh Kolot-Bandung yang tingginya 40 centi-meteran. Bagi saya yang tidak bisa naik motor, maka salut melihat kelincahan beliau. Hujan yang cukup deras, dan kemacetan yang luar biasa, tidak menyurutkan beliau untuk memacu Vario-nya mengejar agenda syuro saya berikutnya, yang bukan agendanya. Hal ini tidak hanya sekali dilakukan. Sebelumnya, beliau tidak enggan menemani saya pada beberapa acara, meski beliau sendiri merasa tidak mengerti dan tidak pula tertarik dengan agenda tersebut. Bangga aku padamu, Sobat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sekitar 2 bulan kemarin beliau menggenapkan setengah dinnya. Ada sedikit kehilangan ketika mengetahui bahwa lagi-lagi harus 'ditinggalkan' sahabat dekat saya. Hebatnya, meski beberapa pekan sebelumnya kami hampir tiap hari 'jalan' bersama, beliau tidak pernah mengungkit sedikitpun tentang rencana pernikahannya, yang justru lebih dekat ketimbang pelaksanaan kegiatan yang kami kerjakan. Begitu rapi, begitu apik. Karena memang tidak tahu menahu, saya ringan saja curhat masalah kegiatan, terkait kurangnya dana, bagaimana membangun tim yang lebih solid dan sebagainya. Dan, beliau selalu menjadi pendengar yang baik, meski saat itu pastinya juga pusing mempersiapkan rencana walimahannya. Beliau baru mau berbicara ketika saya memintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lain menjadi pelengkap pelajaran yang bisa dicontoh dari sosok ukhti yang tidak suka merepotkan orang, tapi suka direpotkan ini. Ya, ditengah kesulitan yang menghimpit jalannya roda organisasi, beliau sekali lagi menawarkan diri sebagai penolongnya. Tadinya saya sudah tidak tahu harus dengan cara apa menyelesaikan masalah tersebut. Hingga tadi malam beliau mengirim SMS kepada saya : "Teh, ini uang mau dikesiapakan? Ada sekian juta. Kalau memungkinkan, Gina ke Teteh jam 20.30." Sungguh hal yang tidak saya duga sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang berpikir bahwa beliau sangat bergelimang harta. Tidak juga. Untuk bantuan ini, beliau rela menjual mahar pernikahannya untuk menutupi dana kegiatan kami yang kurang. Fantastis, bukan? Bagi perempuan kebanyakan yang baru memasuki gerbang pernikahan, tentunya berat untuk melepaskan identitas kebanggaannya tersebut. Hebatnya lagi, ketika saya sampaikan rincian kekurangan dana yang sesungguhnya, beliau justru dengan enteng mengatakan "afwan, itu beda toko soalnya. Kalau masih kurang, nanti yang cincin dijual juga". Saya bingung, kehabisan kata. Saya hanya berucap, “memang nggak papa, Teh?”. “Ya nggak papa”, jawabnya mantap. Akhirnya kami sepakat untuk membahas kekurangan tersebut dengan teman-teman lainnya dua hari kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luar biasa..luar biasa”, batin saya berkali-kali. Sebagai pasangan baru, mungkin beliau juga mempunyai mimpi-mimpi untuk segera memiliki rumah, perabot atau sekadar bersenang. Namun, beliau justru dengan ringannya meminjamkan untuk kepentingan dakwah. Bahkan pinjaman tersebut tidak menyertakan batas waktu pengembalian yang  ditentukan.  Hanya do'a yang saya sampaikan sebelum beliau meninggalkan kosan saya : “semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan lebih banyak, ya Teh”. "Amin', jawabnya tetap dengan senyum manisnya yang khas. Duh ukhti, semoga saya bisa sepertimu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-3351715580063541960?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Akhwat &apos;Lemper&apos;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/3351715580063541960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=3351715580063541960&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3351715580063541960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3351715580063541960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/akhwat-lemper.html' title='Akhwat &apos;Lemper&apos;'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-4554864144864684422</id><published>2007-04-16T14:20:00.000+07:00</published><updated>2007-04-16T14:29:23.440+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Pemberani atau Ksatria ?</title><content type='html'>Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan&lt;br /&gt;Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui&lt;br /&gt;Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati&lt;br /&gt;Hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan&lt;br /&gt;(Sherina)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi kemarin saya mendapat SMS dari sobat lama yang sekarang tinggal di Surabaya. Beliau memberitahukan bahwa si Fulan di Jakarta meminta nomor saya untuk meminta maaf. Si Fulan merasa takut dosa dan mengira kepindahan saya dari Jakarta ke Bandung, karena permasalahan saya dengan beliau. Saya langsung tersenyum membaca SMS tersebut, meski dalam hati terkuak kembali luka lama. Tanpa berpikir panjang saya membalas SMS tersebut : "Yang sudah ya sudah. Nggak usah dibicarain lagi. Disini ternyata lebih baik untuk ane. Tenang saja. Allah tidak akan menyiakan hamba-Nya". Ternyata SMS tersebut masih bersambung, sebagai bentuk ketidakpuasan atas jawaban saya yang terkesan diplomatis. Sobat saya ini kembali bertanya : "Jadi beliau dimaafkan nggak?" Saya kembali tersenyum dan tanpa ragu membalasnya : "Ya iya dong. Hanya seorang yang pemberani sajalah yang mau mengakui, dan hanya seorang ksatria-lah yang mau memaafkan. Ane juga minta maaf. Bukan karena beliau ane pindah ke Bandung, tapi butuh kerja buat nyambung hidup. Hehe"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pfuiih..lega. Saya merasa keluar dari beban berat. Tidak mudah memang untuk mempraktekkan kedua pilihan tersebut. Meminta maaf ketika kita merasa benar atau memaafkan ketika merasa tersakiti. Namun, membiarkan masalah berlarut-larut, memendam rasa enak tidak enak, justru memiliki resiko yang lebih besar lagi. Jika kita berada dalam satu atap, entah organisasi atau perusahaan, maka akan banyak pekerjaan yang tidak beres, perasaan menjadi tidak nyaman, energi banyak terkuras untuk sesuatu yang kurang penting dan paling berat adalah ketika teringat dosa yang akan kita tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali saya pernah bermasalah dengan orang lain, kadang untuk permasalahan yang saya sendiri tidak tahu menahu penyebabnya. Karenanya, saya seringkali menyikapinya dengan tersenyum atas ‘candaan’ Allah ini. Untuk masalah di atas, saya pernah mendapat fitnah yang menyebar tanpa saya merasa melakukan tuduhan tersebut. Memang saya merasa risih dan enggan untuk menanggapinya secara serius. Namun hal yang tidak bisa saya kendalikan, justru teman-teman dekat sayalah yang membela saya habis-habisan tanpa sepengetahuan saya, dan menerima kabarnya jauh hari sesudahnya. Herannya, masalah tersebut masih terdengar meski sudah berjalan sekitar 8 bulan. Padahal, saya sendiri sudah tidak menganggap bahwa itu masalah dan merasa tidak membenci siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman lain, ketika kerja di perusahaan elektronik dulu, ada seorang staf yang mengadu ke atasannya di departemen lain, dengan laporan bahwa kerja saya tidak beres. Ketika ruang dialogis menjadi tidak sehat, saya lebih banyak terlecehkan, apalagi atasan sendiri pun tidak serius melakukan pembelaan, maka saya tidak enggan untuk memutuskan resign. Meski demikian, saya tetap memberikan yang terbaik pada perusahaan tersebut, sebagai kontribusi terakhir. Ya, saya masih mau datang keesokan harinya untuk menemani Direktur Sales menjalani audit untuk mendapatkan sertifikasi ISO. Esoknya lagi, saya sudah tidak pernah datang ke perusahaan tersebut, setelah menyodorkan surat ijin kepada atasan. Resiko untuk mempertahankan harga diri ternyata bukanlah sesuatu yang gampang. Mungkin terkesan emosi bagi orang lain, namun merupakan pilihan jantan menurut saya. Banyak teman yang bertanya-tanya dan merasa kehilangan. Dua pekan kemudian, si Mbak yang mengadu tanpa fakta ini mengaku merasa sangat menyesal, meski beliau tidak sanggup mengatakan langsung pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah lantas saya tidak mau memaafkan orang-orang yang mengaku bersalah pada saya? Jawabnya : untuk apa? Kita bisa saja membalas dengan porsi yang sama atau lebih dengan kesalahan yang diperbuat oleh orang lain. Namun, jika demikian, apa bedanya kita dengan mereka? Tentu saja kisah pendzoliman itu akan berlaku terus dan terus, lagi dan lagi. Ia akan semakin tumbuh subur di muka bumi ini. Karenanya, akan lebih hebat jika kita mau menolak bentuk pendzoliman dengan kebaikan. Rasulullah sendiri pun mengajarkan kita untuk murah memaafkan, bukan? Tentu saja kita belum ada apa-apanya jika dibandingkan pelecehan yang beliau alami. Tidakkah kita juga menginginkan ketinggian derajat seperti yang disabdakan Rasullulah berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, 'Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.'" (HR Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman-pengalaman itulah, saya berusaha untuk menjadi orang yang gampang untuk meminta maaf maupun memaafkan. Untuk urusan minta maaf, karena ada kesadaran bahwa saya termasuk orang yang terbuka dan ceplas-ceplos, sehingga rentan bagi orang yang perasa untuk ‘tersakiti’. Sedangkan untuk urusan memaafkan, saya berusaha memahami bahwa beban orang yang merasa berdosa dan menyadari kekeliruannya, bisa jadi lebih berat daripada pihak yang tersakiti. Kurang fair jika kita tidak memberi ruang untuk memaafkan kesalahan mereka. Lalu, apa alasan kita untuk enggan memberi maaf? Toh, kita semua mempunyai peluang yang sama untuk melakukan kesalahan serupa. Tidak terkecuali. Kesempatan seperti ini justru menguntungkan bagi siapa saja untuk berdo’a sebanyak-banyaknya, dengan keyakinan bahwa do’a orang yang terdzolimi akan didengar dan dikabulkan oleh Allah. Dan, saya pribadi, menjadi tantangan untuk menjadi sang Pemberani atau sang Ksatria&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-4554864144864684422?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Menjadi Pemberani atau Ksatria ?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/4554864144864684422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=4554864144864684422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/4554864144864684422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/4554864144864684422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/menjadi-pemberani-atau-ksatria.html' title='Menjadi Pemberani atau Ksatria ?'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-1858515567769471941</id><published>2007-04-03T16:14:00.000+07:00</published><updated>2007-04-03T16:15:10.445+07:00</updated><title type='text'>10 Inspirational Quotes That Will Improve Yourself</title><content type='html'>It usually takes a small coffee, or more than likely a few&lt;br /&gt;rounds of beer or any type of drink you can get your hands on,&lt;br /&gt;before it comes to kicking back after a tough day's work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, yeah I'm blameworthy about that one as well, unless I'm&lt;br /&gt;caught sporting a lampshade on my head following a few rounds of&lt;br /&gt;vodka virtually naked! All right, bad example and I apologize to&lt;br /&gt;one and all checking this after suffering nightmares about me in&lt;br /&gt;that condition of a drunken haze .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please don't ask how it happened, ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But what's very intriguing is that how do people go about the&lt;br /&gt;same part of living when faced by artery-popping pressure? I&lt;br /&gt;mean to say, the new age idea like Zen or Yoga is one of the&lt;br /&gt;better philosophies and it really does work. Is there space for&lt;br /&gt;the cerebral side of persons who can truly smell the&lt;br /&gt;roses-in-a-can whilst on the go? It kind of had me believing&lt;br /&gt;that there surely must be something in the 'mind-over-matter'&lt;br /&gt;idea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor is certainly the best medicine there is wherever you are.&lt;br /&gt;I mean to say, anyone can pay top money to lend an ear to a&lt;br /&gt;clown, only to have you wet your knickers after chuckling so&lt;br /&gt;much. Mindful of what's been taking place, and to those who have&lt;br /&gt;suffered the nightmare, it's more beneficial to laugh and&lt;br /&gt;confront the troubles with a clear mind than rage with an&lt;br /&gt;unclear perception.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of my favorite celebrities of all time may to be Woody&lt;br /&gt;Allen. Now Woody is one guy who gives you the in-your-face&lt;br /&gt;bluntness that he pulls out instinctively and with enthusiasm,&lt;br /&gt;apparantly not even appearing to try. You can chat about almost&lt;br /&gt;anything with a man, and he's guaranteed to make fun of the&lt;br /&gt;topic and you'll end up laughing as opposed to being than upset&lt;br /&gt;about it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody Allen has this comment to say: 1. "Cash is more preferable&lt;br /&gt;than poverty, if just for economic reasons." It sounds ok to me,&lt;br /&gt;I mean the viability of all actions does involve some money but&lt;br /&gt;it doesn't need to cost an arm and a leg to get it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "I think there is something out there keeping an eye on us.&lt;br /&gt;Sadly, it's the authorities." 'Nuff said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. "There are worse happenings in life than dying. Have you, any&lt;br /&gt;time, passed an evening near an insurance agent?" This happens&lt;br /&gt;to be one of the archetypal ones. I mean to say the point of&lt;br /&gt;life's minor problems isn't all that bad, till 'he' shows up. Of&lt;br /&gt;course, relationships can get involved, or does possess its&lt;br /&gt;complications that possibly any writer of personal relationships&lt;br /&gt;is sure to find before long. We follow what our heart desires,&lt;br /&gt;unless you're referring to the heart as in the pump that&lt;br /&gt;delivers blood all through your body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. "Passion is the answer, but whilst you're hopeful for the&lt;br /&gt;reply, sex raises many very interesting questions." And if you&lt;br /&gt;are looking for more, carry on asking!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. "A quick word regarding oral contraception. I asked a female&lt;br /&gt;to go to bed with me, she indicated 'no'." It sounds,&lt;br /&gt;'reasonable', I suppose. And when it comes to normal life, he&lt;br /&gt;definitely knows how to create the best out of every conceivable&lt;br /&gt;scheme, and it doesn't include a lawsuit if he strikes a nerve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. "Essentially my wife was young. I'd be at home in the shower&lt;br /&gt;and she'd stroll in and submerge my boats." I never had a motor&lt;br /&gt;boat in my bathtub in the past. Even looking at it during&lt;br /&gt;soaking in hot bath-water makes me queasy .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. "I am not cowardly of passing, I just plain don't lust after&lt;br /&gt;to be there when it happens." If it rains, it pours.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. "I am grateful for laughter, other than when milk comes out&lt;br /&gt;of my nose." It would get worse whilst you're guzzling on beer&lt;br /&gt;or mouthwash, and it happened to me one time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. "If you would like to hear God chuckle, tell him about your&lt;br /&gt;plans." At least he doesn't strike us down with lightning bolts,&lt;br /&gt;and I'm grateful for that. And despite of what may happen to all&lt;br /&gt;of us in the following ten, twenty, or maybe thirty years, I&lt;br /&gt;reckon we all need to see things in a contrasting type of light&lt;br /&gt;and not just viewpoint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can't seem to envisage existence without any shred of&lt;br /&gt;intelligence that would guide us. Whether we're churchgoing or&lt;br /&gt;not, it takes additional bravery to accept your fears and&lt;br /&gt;discover how to cope with them is all that matters when it comes&lt;br /&gt;to living together and getting along.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And to sum up, here is the final jewel of wisdom to go by,&lt;br /&gt;however, whenever, and wherever we may be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. "The talent for happiness is appreciating and caring for&lt;br /&gt;what you possess, instead of what you don't possess." Ciao!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-1858515567769471941?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://mosbiz.net/' title='10 Inspirational Quotes That Will Improve Yourself'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/1858515567769471941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=1858515567769471941&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1858515567769471941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/1858515567769471941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/10-inspirational-quotes-that-will.html' title='10 Inspirational Quotes That Will Improve Yourself'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8394173855674955453</id><published>2007-04-03T16:11:00.000+07:00</published><updated>2007-04-03T16:13:23.783+07:00</updated><title type='text'>Think Like A Multi-Millionaire</title><content type='html'>All around every single day I see people who are settled for&lt;br /&gt;less...for a home that's not as ground as they would like...for&lt;br /&gt;clothes that are not stylish...a school for children that&lt;br /&gt;doesn't deliver a top-quality education, in short, for things&lt;br /&gt;that are inferior. Future millionaires and billionaires will&lt;br /&gt;live with the inferior when necessary, they realize that&lt;br /&gt;sacrifices are a necessary part of their early lives. But they&lt;br /&gt;never settle for the inferior as a constant presence for being&lt;br /&gt;lowly in itself but for representing a state of mind in which&lt;br /&gt;one has accepted the inferior as somehow acceptable, inevitable&lt;br /&gt;for oneself and one's family. Would be millionaires and&lt;br /&gt;billionaire, may fall short of their goals. They may be&lt;br /&gt;thwarted, disappointed, frustrated, cast down and stomped on,&lt;br /&gt;but, unless their spirit has been broken, they don't settle for&lt;br /&gt;this condition of events, they study and scheme for ways to&lt;br /&gt;escape it...because they won't settle for anything but the best.&lt;br /&gt;Future millionaires and billionaires see situations clearly.&lt;br /&gt;They cannot delude themselves, as so many people do, that the&lt;br /&gt;inferior is somehow acceptable. Temporarily accepting the&lt;br /&gt;inferior may be expedient, as a means of helping achieve&lt;br /&gt;ultimate success but to the people of the billionaires mind the&lt;br /&gt;inferior will always be nothing other than inferior...something&lt;br /&gt;that is, to escape as early and completely as possible. They&lt;br /&gt;know they must do it for themselves and accept full&lt;br /&gt;responsibility for doing so. If you can accept this&lt;br /&gt;responsibility for yourself and act accordingly, you can become&lt;br /&gt;a Multi-Millionaire.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8394173855674955453?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.prosperitymentorscompany.com/eformatlink.html' title='Think Like A Multi-Millionaire'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8394173855674955453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8394173855674955453&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8394173855674955453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8394173855674955453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/think-like-multi-millionaire.html' title='Think Like A Multi-Millionaire'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8184760490183893791</id><published>2007-04-03T16:06:00.000+07:00</published><updated>2007-04-03T16:11:21.455+07:00</updated><title type='text'>Thinking Big About Your Life</title><content type='html'>In our busy, adult world, we are constantly faced with daily&lt;br /&gt;frustrations. We struggle through life looking for the answers&lt;br /&gt;which will lead us to happiness. One truth we often ignore is&lt;br /&gt;that the answers can be learned from our children. Children have&lt;br /&gt;many beautiful qualities and they know how to imagine. They have&lt;br /&gt;their whole life in front of them and they dream big dreams. We&lt;br /&gt;as parents, teachers, coaches and etc tell them that they can be&lt;br /&gt;anything they want to be when they grow up. They pretend they&lt;br /&gt;have it all. They only have to wait their time to make their&lt;br /&gt;dreams come true. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We all can dream big dreams and think big thoughts. We just have&lt;br /&gt;to use our imagination. It is sad to think about how we often&lt;br /&gt;forget to think big about ourselves and our lives. Are you&lt;br /&gt;making your dreams a reality? If not, what happened?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can blame it on our situations, we can blame other people,&lt;br /&gt;but the truth is that we are the only one who can stand in the&lt;br /&gt;way of our dreams. Hopefully, this is a liberating statement. It&lt;br /&gt;is also never too late to think big. We have nothing to lose to&lt;br /&gt;think big. We have nothing to lose and everything to gain by&lt;br /&gt;thinking big about ourselves. So stretch your imagination and&lt;br /&gt;look beyond once believed limitations. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We have the rest of our lives in front of us. With this in mind,&lt;br /&gt;we need to let go of past fears and negative experiences. We can&lt;br /&gt;have or do whatever we like. Can you imagine yourself as someone&lt;br /&gt;who is making a contribution to life? How big can you think?&lt;br /&gt;What kind of things would you like to do? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is important for us to realize that our lives do count, that&lt;br /&gt;we do have a purpose and that we do make a contribution. If you&lt;br /&gt;can already see yourself as an important factor, look even&lt;br /&gt;bigger. Think Bigger About Yourself. If we are not fulfilled by&lt;br /&gt;our life then we must stretch our thinking about ourselves. Once&lt;br /&gt;this pattern gets started, we will get all kinds of fresh,&lt;br /&gt;creative ideas about ourselves and our lives. Our inner beauty&lt;br /&gt;and self esteem will begin to shine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our lives are made up of the things we have thought about. Our&lt;br /&gt;dreams can become a reality so make sure that the thoughts and&lt;br /&gt;dreams are big enough. How big can you think?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8184760490183893791?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hamasahputri.multiply.com' title='Thinking Big About Your Life'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8184760490183893791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8184760490183893791&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8184760490183893791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8184760490183893791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2007/04/thinking-big-about-your-life.html' title='Thinking Big About Your Life'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-3565750684795077793</id><published>2006-12-19T23:19:00.000+07:00</published><updated>2006-12-19T23:23:55.936+07:00</updated><title type='text'>CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)</title><content type='html'>Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. &lt;br /&gt;Kamu pasti bercanda! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania terkesima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! &lt;br /&gt;Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. &lt;br /&gt;Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. &lt;br /&gt;Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. &lt;br /&gt;Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? &lt;br /&gt;Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Setahun pernikahan. &lt;br /&gt;Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. &lt;br /&gt;Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. &lt;br /&gt;Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. &lt;br /&gt;Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga pintar! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepintarmu, Nania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. &lt;br /&gt;Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.. &lt;br /&gt;Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! &lt;br /&gt;Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik ya? dan kaya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak imbang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! &lt;br /&gt;Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. &lt;br /&gt;Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. &lt;br /&gt;Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. &lt;br /&gt;Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. &lt;br /&gt;Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. &lt;br /&gt;Dokter? &lt;br /&gt;Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendarahan hebat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. &lt;br /&gt;Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. &lt;br /&gt;Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. &lt;br /&gt;Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..&lt;br /&gt;- Asma Nadia -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-3565750684795077793?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/3565750684795077793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=3565750684795077793&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3565750684795077793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3565750684795077793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/12/cinta-laki-laki-biasa-true-story.html' title='CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2947177086990997986</id><published>2006-11-26T09:46:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T17:06:35.542+07:00</updated><title type='text'>Sekilas Mengupas Buku Eva Herman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger2/6538/3503/1600/332601/das_eva_prinzip-b.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger2/6538/3503/320/229457/das_eva_prinzip-b.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini di Jerman telah terbit sebuah buku mengenai peran perempuan yang menjadi pembicaraan luas. Penulis buku ini adalah Eva Herman ( www.eva-herman.de )yang dikenal sebagai pembawa acara di televisi Jerman. Bukunya yang diberi judul “Prinsip-Pronsip Eva” itu terbit bulan September 2006. Namun buku ini menjadi pembicaraan luas setelah Eva Herman secara terang-terangan membahas berbagai topik yang ditulisnya dalam buku tersebut. Salah satu topik kontroversial yang diangkat Herman adalah bahwa perempuan seharusnya kembali ke rumah dan menikmati peran sebagai istri dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan perempuan muncul di berbagai negara Eropa sejak abad ke 17 dan 18. Meski tidak dalam bentuk gerakan yang terorganisir, sejak saat itulah pemikiran mengenai feminisme mulai berkembang. Para pembela hak-hak perempuan memulai gerakan mereka dengan alasan ingin membela hak-hak perempuan dan menolak adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun pertama setelah Perang Dunia Kedua, terbitlah buku berjudul Gender Kedua, yang ditulis oleh Simone de Beauvair seorang feminis ekstrim. Melalui bukunya ini Beauvair mendorong kaum perempuan untuk bersaing dengan kaum laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gerakan feminisme semacam ini, kaum perempuan dijauhkan dari tugasnya semula sebagai istri dan ibu. Dalam pandangan mereka, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bermakna mengabaikan semua perbdaan alami antara laki-laki dan perempuan, baik itu perbedaan fisik atau psikologis. John Stuart Mill adalah salah seorang pendukung feminisme ekstrim yang mengingkari perbedaan alami laki-laki dan perempuan. Dalam bukunya Mill menulis, “Penggolongan jenis laki-laki dan perempuan sesungguhnya adalah sesuatu hal yang dibuat-buat yang hasilnya adalah represi terhadap satu dimenasi dan memprovokasi dimensi lainnya secara tidak alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;imageHingga kini, telah beberapa abad berlalu sejak dimulainya gerakan feminisme, kaum perempuan di dunia Barat telah mengalami berbagai aktivitas dan pekerjaan di luar rumah yang melelahkan. Kini, terdengar suara lain yang didengungkan sebagian kaum perempuan di Barat. Para pekerja perempuan di Barat mulai bangkit memprotes pekerjaan berat yang dibebankan kepada mereka, tanpa memperhatikan karakteristik fisik dan psikis perempuan. Banyak kaum perempuan di Eropa yang merasakan kekosongan maknawiah dalam kehidupan mereka dan merindukan kehidupan keluarga yang penuh empati dan kasih sayang. Keinginan seperti inilah yang disuarakan Eva Herman dalam bukunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva Herman dalam bukunya memaparkan contoh-contoh dan bukti-bukti mengenai aktivitas kaum perempuan di dalam masyarakat. Dengan mengajukan data statistik dan informasi mengenai pendukung gerakan perempuan, Eva mengambil kesimpulan bahwa aktivitas di luar rumah malah justru menimbulkan masalah bagi kehidupan perempuan. Menurut Herman, masalah ini terjadi karena kesalahan pemikiran yang berkembang di tengah perempuan, yaitu bahwa perempuan harus bekerja di luar rumah untuk membuktikan eksistensinya. Herman menulis, “Gerakan perempuan telah mengeluarkan perempuan dari kondisi keperempuannya dan meletakkan mereka dalam kondisi kelaki-lakian. Adalah sebuah kesalahan bila kita menginginkan perempuan menjadi seperti laki-laki karena sesungguhnya keduanya berbeda secara alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Jerman ini dalam bagian lain bukunya menekankan agar dijalin kesepahaman antara laki-laki dan perempuan. Herman meyakini bahwa perempuan memiliki posisi yang istimewa dan memiliki peran utama dalam pembentukan keluarga dan pendidikan anak. Eva menekankan agar slogan-slogan kebebasan mutlak mengenai anak-anak harus disingkirkan dan keluarga harus memberikan perhatian yang lebih besar kepada pendidikan anak-anak mereka. Setelah meneliti kondisi perempuan dan keluarga, Eva Herman menyimpulkan bahwa anak-anak dan remaja adalah korban utama dari aktivitas perempuan di luar rumah. Dalam salah satu bab di bukunya yang diberi judul Tragedi Anak-Anak, dia mengkritisi ketiadaan kasih sayang di antara anggota keluarga. Eva mengatakan, “Di dunia dewasa ini, anak-anak menganggap kekerasan sebagai hal yang alami. Bukankah menjadi kewajiban para ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa di dunia ini, selain kekerasan ada banyak hal lain yang harus diperhatikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan Eva Herman mengenai kecenderungan kaum perempuan modern untuk tidak memiliki anak telah menjadi sebuah pembahasan kontroversial di Jerman. Eva mengatakan, “Karena kewajiban utama kaum perempuan sebagai ibu dan pendidik anak tidak dilaksanakan dengan baik, anak-anak menderita dan menghadapi banyak masalah.” Eva menambahkan, “Aktivitas perempuan di luar rumah telah menghancurkan pondasi keluarga. Namun kita kaum perempuan memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari jalan buntu ini. Kita harus kembali kepada emosi keperempuanan, rasa malu, dan kesucian, serta kepada naluri alami untuk memiliki anak. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pandangan Eva Herman ini juga bisa ditelaah lebih lanjut. Kenyataan menunjukkan bahwa kehadiran kaum perempuan di tengah masyarakat tidak selalu berarti terjun ke dalam persaingan dengan kaum laki-laki. Kondisi sosial dan tekanan ekonomi juga menjadi pendorong bagi sebagian perempuan untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, dalam sebagian bidang, kehadiran perempuan dalam masyarakat terbukti memiliki peran positif. Banyak perempuan yang berhasil menjaga keutuhan keluarga dan mendidik anak-anak dengan baik, namun pada saat yang sama, mereka juga membaktikan kemampuannya bagi kemajuan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain,sesungguhnya apa yang disampaikan Eva Herman dalam bukunya ini memiliki kedekatan dengan ajaran Islam yang terkait dengan perempuan. Dalam Islam, perempuan dan laki-laki memiliki nilai kemanusiaan yang setara, tidak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan adalah dua makluk Tuhan yang memiliki kedudukan yang sama. Namun, Islam mengakui adanya perbedaan alami antara laki-laki dan perempuan dan perbedaan alami inilah yang membedakan tugas dan tanggung jawab di antara keduanya. Islam tidak menafikan atau melarang peran perempuan di luar rumah, namun Islam memberitahukan bahwa yang harus diutamakan adalah peran perempuan dalam keluarga. Islam menyuruh agar laki-laki dan perempuan hidup berdampingan dalam suasana kasih sayang serta bersama-sama membangun keluarga yang baik sehingga tercipta masyarakat yang sehat. (Irib)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2947177086990997986?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2947177086990997986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2947177086990997986&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2947177086990997986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2947177086990997986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/sekilas-mengupas-buku-eva-herman.html' title='Sekilas Mengupas Buku Eva Herman'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-8247931786913806953</id><published>2006-11-26T08:18:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:21:26.288+07:00</updated><title type='text'>Senja Yang Tenggelam</title><content type='html'>Miss Victoria telahpun membuang sauh, langkah-langkah gemulai itu berlari&lt;br /&gt;menuju pangkuan samudera gagah. Seiring mengecilnya sebuah sosok di ujung&lt;br /&gt;pelabuhan yang melambai-lambaikan tangan. Sosok itu menghilang di tengah gedebur&lt;br /&gt;ombak Laut Jepang yang memisahkan Honshu-Hokkaido. Tapi bayangannya masih&lt;br /&gt;menari-nari di pelupuk mata Senja. Sosok yang namanya memenuhi diary merah&lt;br /&gt;mudanya, sosok yang entah darimana dikirim tiba-tiba menjelma menjadi pengisi&lt;br /&gt;hari tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tua? betulkah ia sudah tua?&lt;br /&gt;“Tidak Senja, engkau masih muda.. apalah arti usia, hanyalah hitungan angka,”&lt;br /&gt;Jawab lelaki itu tegas ketika Senja menyatakan kegalauan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Ramlan mengapa engkau memilih aku? Wanita berusia 40 tahun yang sudah&lt;br /&gt;melupakan impian pengantin. Mengapa? Mengapa? Bukankah engkau masih muda? Usia&lt;br /&gt;30 tahun bagi seorang lelaki adalah usia paling matang, apalagi engkau kandidat&lt;br /&gt;Doktor dari Universitas ternama di Jepang ini. Tidakkah kau ingin memetik daun&lt;br /&gt;muda yang menari-nari elok menyapa keperjakaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Senja, aku hanya ingin cinta sejati dari seorang wanita setia yang&lt;br /&gt;tidak memandang ornamenku… aku butuh cinta abadi yang tak lekang dimakan waktu,”&lt;br /&gt;Ahhh.. lagi-lagi Ramlan mematahkan argumen Senja.&lt;br /&gt;“Tapi aku sudah tidak pantas menjadi pengantin,” Suara Senja semakin serak.&lt;br /&gt;“Senja, bukankah ibunda Khadijah masih menikah di usia 40?”&lt;br /&gt;“Aku bukan dia Ramlan,“ Bantah Senja tangkas.&lt;br /&gt;“Dan Aku bukan Muhammad,“ Ramlan tak kalah tangkas.&lt;br /&gt;“Aku hanyalah seorang Ramlan yang bermimpi meminang bidadari cantik&lt;br /&gt;sepertimu,” Kali ini suara Ramlan bergetar penuh harap.&lt;br /&gt;“Tapi aku tidak cantik,” Getir bibir Senja mengucapkan kata itu, setetes darah&lt;br /&gt;menetes, bibirnya jadi korban pelampiasan gemuruh jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;“Senja, kamu cantik deh”&lt;br /&gt;“Suit..suit… awas Senja lewat”&lt;br /&gt;“Nonton yuk”&lt;br /&gt;“Mau gak jadian ama aku?”&lt;br /&gt;…. Ah entah udah berapa ratus sapaan sejenis menghampiri Senja muda. Senja&lt;br /&gt;muda hanya menanggapi dengan senyum genitnya. Merasa cantik, merasa jadi kembang&lt;br /&gt;telah melambungkan jiwanya. Hari penuh hura-hura telah dijalaninya sejak masih&lt;br /&gt;sekolah menengah. Mall, diskotek, bar telah menjadi tempat-tempat yang akrab&lt;br /&gt;buat dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak cerdas itu telah tenggelam dalam kesenangan semu melupakan hakikat dunia&lt;br /&gt;nyata. Gagal UMPTN tidak membuatnya frustasi, malah ia bahagia karena artinya&lt;br /&gt;lebih bebas. Tawaran sekolah swasta ia tolak dengan alasan ingin istirahat dulu,&lt;br /&gt;mau belajar sungguh-sungguh untuk ikut UMPTN tahun depan. Huh, Senja.. mulut&lt;br /&gt;manismu memang pandai mengecohkan orang tuamu yang sudah sepuh itu. Teganya&lt;br /&gt;engkau berbohong pada orang yang sangat menyayangimu. Satu-satunya putri mereka,&lt;br /&gt;putri yang didamba-damba setelah berumahtangga 15 tahun. Ya, orangtuamu seperti&lt;br /&gt;mendapat keajaiban setelah tak putus berdoa dan usaha selama 15 tahun untuk&lt;br /&gt;mendapatkan seorang Senja. Senja yang diharap sebagai penghias hari senja&lt;br /&gt;mereka. Tidakkah engkau ingin membahagiakan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..ya.. Senja telah mampu membahagiakan orangtuanya dengan tipu muslihat.&lt;br /&gt;Anak manis yang cantik, anak penurut, tak pulang larut malam tapi kabur lewat&lt;br /&gt;jendela setelah tengah malam! Bangun paling pagi karena sebenarnya belum tidur,&lt;br /&gt;huh Senja!&lt;br /&gt;Setahun, bahkan sampai tahun ke-2 engkau tetap gagal UMPTN.. semakin binal dan&lt;br /&gt;melupakan harapan orang tuamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sebuah petir menyambar rumah tentrammu, engkau hamil 3 bulan! Kaupun&lt;br /&gt;lari dari rumah mengejar bayangan pacarmu yang menghilang dalam pekat bimbang.&lt;br /&gt;Ibumu kena stroke dan meninggal setelah badai itu. Ayahmu merana dalam sepi dan&lt;br /&gt;luka. Langkahmu sudah tidak gemulai lagi, kakimu terseok-seok menahan beban di&lt;br /&gt;perut yang makin membesar. Untunglah seorang kawan lama ikhlas membuka pintu,&lt;br /&gt;kawan yang sering kau cerca karena tidak modis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholilah, gadis berjilbab lebar telah menjadi pahlawanmu. Perlahan kau tata&lt;br /&gt;hidup yang telah hancur berkeping. Rekatan-rekatan telah kau bina walaupun yakin&lt;br /&gt;takkan kembali utuh. Senja muda menjelma menjadi muslimah dewasa. Tangismu telah&lt;br /&gt;berubah menjadi dzikir taubat. Jeritanmu kau hantar di malam penuh tilawah.&lt;br /&gt;Sayang, putra pertamamu telah diambil oleh-Nya sejak kau lahirkan. Penyesalan&lt;br /&gt;dan kesedihan terdalam yang engkau rasakan. Di saat bulir-bulir kasih telah siap&lt;br /&gt;menanti , di saat ketegaran jiwa telah kau tata, dia tak mau diraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholih, apakah aku terlalu kotor untuk menimang anakku? Semarah itukah Allah&lt;br /&gt;padaku?” Keluhmu di suatu pagi, sebulan setelah penguburan anakmu.&lt;br /&gt;“Astagfirullah, Senja.. jangan berburuk sangka, mungkin ini yang terbaik yang&lt;br /&gt;telah Allah berikan padamu.”&lt;br /&gt;“Ini jalan engkau bangkit lagi, sahabat... tanpa anak kamu akan bisa kuliah&lt;br /&gt;lagi.” Senyum Sholihah mengembang menegarkan jiwanya.&lt;br /&gt;“Ah, tak mungkin...” Senja menggeleng ragu.&lt;br /&gt;“Apa yang tak mungkin, Senja.. engkau masih muda, terlambat tiga empat tahun&lt;br /&gt;takkan berarti buat orang secerdasmu.”&lt;br /&gt;“Jangan ragu, ayahku telah setuju membiayaimu.” Sholihah begitu mantap&lt;br /&gt;berargumen.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Ah, Nikmat apalagi yang tidak engkau syukuri Senja, beruntung bertemu keluarga&lt;br /&gt;Sholihah yang baik hati. Gulungan masa lalu kau simpan rapi, tekadmu telah bulat&lt;br /&gt;menyongsong masa depan. Lima tahun engkau berenang di kampus Jogja, menorehkan&lt;br /&gt;secarik kertas tanda kelulusan yang akan kau hadiahkan pada ayahmu. Sayang,&lt;br /&gt;lelaki malang itu telah tiada ketika kau kembali dengan sejuta maaf dan bukti.&lt;br /&gt;Bara sesal kembali menggarang dada mengepulkan asap hitam dan jelaga yang tak&lt;br /&gt;mungkin hilang di jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;“Sholih, aku akan bekerja di Jepang, ada kontrak lima tahun..” Kau hantar&lt;br /&gt;berita itu ketika sesegukan di pangkuan Sholihah.&lt;br /&gt;“Heh, sejauh itu dan selama itukah?”&lt;br /&gt;“Ya, aku ingin menjauh, semoga disana aku dapat sedikit melupakan masa&lt;br /&gt;laluku.” Senja memberi alasan yang sebenarnya tidak logis, lari dari kenyataan!&lt;br /&gt;“Terserah kamulah, tapi fikirkan juga masa depanmu,” Sholihah hanya melenguh&lt;br /&gt;panjang meratapi nasib getir kawannya.&lt;br /&gt;“Masa depan apa yang terhampar bagi orang sepertiku?”&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak ingin menikah, punya anak sepertiku Senja? Lihat bayiku ini&lt;br /&gt;lucu bukan?” Sholihah malah menggoda sambil menimang-nimang anaknya yang baru&lt;br /&gt;lahir.&lt;br /&gt;“Ha..ha..ha...” Senja malah tertawa lepas, tawa yang mengandung luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Ternyata Senja tidak hanya lima tahun mengubur diri, tapi tahun berikutnya&lt;br /&gt;masih berlanjut.. tahun berikutnya.. sampai 13 tahun sudah dia tenggelam dalam&lt;br /&gt;asa tak berujung di negeri Sakura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah betah disana Sholih, Jepang telah menjadi tanah airku,” Jawabmu&lt;br /&gt;ketika Sholihah bertanya kapan kau kembali.&lt;br /&gt;“Tapi kami rindu kamu, ayah, ibu, adik-adik.. bahkan seluruh keluarga besar,&lt;br /&gt;mereka bertanya kapan kau kembali,” Entah berapa ratus kali Sholihah merayu&lt;br /&gt;Senja.&lt;br /&gt;“Bukankah aku pulang setiap tahun, he..he.he.., ini sekarang aku disini kok&lt;br /&gt;masih bertanya,” Senja bercanda sambil menimang-nimang putri ke-4 Sholihah.&lt;br /&gt;“Ini kontrakmu ke-3 bukan? Tinggal dua tahun lagi Senja.. janganlah kau&lt;br /&gt;perpanjang lagi,” Setengah harap Sholihah lagi-lagi berkata.&lt;br /&gt;“Anakmu cantik... ih gemas aku,” Senja malah mengalihkan pembicaraan, menutup&lt;br /&gt;gedebur rindu kehangatan keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senja, Ayah dan Ramlan ingin ketemu.. mereka menunggu di ruang tengah,” Pelan&lt;br /&gt;Sholihah berbisik, ada getar aneh di kalimatnya.&lt;br /&gt;“Ramlan.. Ramlan adik bungsu kita? Katanya kan di Tokyo,” Senja melonjak&lt;br /&gt;kaget, baginya Ramlan sudah seperti adik sendiri, tapi bertahun-tahun sudah ia&lt;br /&gt;tak berjumpa karena jadwal pulang mereka selalu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;“Tidak.. tidak… engkau adikku, tak mungkin,” Setengah berteriak Senja berkata,&lt;br /&gt;sesaat setelah Ramlan mengajukan lamaran.&lt;br /&gt;“Kalian bukan saudara sedarah, Senja, halal..” Wajah bijak Ayah Sholihah telah&lt;br /&gt;meredam kepanikannya.&lt;br /&gt;“Aku menikahimu bukan karena kasihan, tapi aku mencintaimu karena Allah,”&lt;br /&gt;“Aku tidak melihat masa lalumu, yang kita hadapi sekarang adalah masa depan,&lt;br /&gt;masa depan kita,” Tegas Ramlan mengusir galau hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Ramlan... anak kecil yang dulu pakai celana pendek biru menenteng tas&lt;br /&gt;besar dan bola. Anak kecil yang merengek minta dikerjain peer. Tak disangka&lt;br /&gt;dialah yang dihantar menjadi pendamping hidup Senja. Habis sudah&lt;br /&gt;pertanyaan-pertanyaan Senja tentang alur hidupnya yang penuh liku, tak&lt;br /&gt;mungkinlah ia menikah dengan Ramlan ketika masih kepala dua seperti Sholihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari telah beranjak ke peraduan, langit Hokkaido sangat indah bagi Senja&lt;br /&gt;senja ini. Senja telah tenggelam, tapi sepi tak lagi mendekap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpennya Teh Tethy (Ummuthoriq alias Ezokanzo&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-8247931786913806953?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/8247931786913806953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=8247931786913806953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8247931786913806953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/8247931786913806953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/senja-yang-tenggelam.html' title='Senja Yang Tenggelam'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2338807761249186983</id><published>2006-11-26T08:15:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:16:25.307+07:00</updated><title type='text'>Mencintai Itu Keputusan</title><content type='html'>Bekal kesadaran bagi yang ingin mencintai ...&lt;br /&gt;mencintai Itu Keputusan&lt;br /&gt;Karya : Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.&lt;br /&gt;Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia.&lt;br /&gt;Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah.&lt;br /&gt;Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.&lt;br /&gt;Sebentar kemudian ia pun berkata,"Kamu kaget melihat&lt;br /&gt;semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu&lt;br /&gt;temui di sini".&lt;br /&gt;Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika&lt;br /&gt;menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab cinta adalah kata lain dari memberi.&lt;br /&gt;sebab memberi adalah pekerjaan..&lt;br /&gt;sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan,&lt;br /&gt;menumbuhkan, merawat&lt;br /&gt;dan melindungi itu berat.&lt;br /&gt;sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu&lt;br /&gt;lama.&lt;br /&gt;sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya&lt;br /&gt;mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki&lt;br /&gt;kepribadian kuat dan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia&lt;br /&gt;mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun!&lt;br /&gt;Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan&lt;br /&gt;kepribadian disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin&lt;br /&gt;memberimu sesuatu.&lt;br /&gt;Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari,&lt;br /&gt;"Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu&lt;br /&gt;untuk mengetahui apa&lt;br /&gt;yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan&lt;br /&gt;bahagia..."&lt;br /&gt;"aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu&lt;br /&gt;agar bisa tumbuh&lt;br /&gt;semaksimal mungkin..."&lt;br /&gt;"aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku, proses&lt;br /&gt;pertumbuhan&lt;br /&gt;dirimu, melalui kebajikan harian yang akan kulakukan&lt;br /&gt;padamu ..."&lt;br /&gt;"aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu&lt;br /&gt;yang dapat merusak&lt;br /&gt;dirimu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah&lt;br /&gt;kepercayaan orang yang kita&lt;br /&gt;cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali&lt;br /&gt;kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu",&lt;br /&gt;kamu harus membuktikan ucapan itu.&lt;br /&gt;Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan&lt;br /&gt;ketertarikan, tapi&lt;br /&gt;terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi,&lt;br /&gt;kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan&lt;br /&gt;kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan,&lt;br /&gt;menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi&lt;br /&gt;cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak&lt;br /&gt;ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu&lt;br /&gt;suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada&lt;br /&gt;pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada&lt;br /&gt;orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan&lt;br /&gt;kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan&lt;br /&gt;kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta&lt;br /&gt;yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa&lt;br /&gt;cinta yang terasa begitu panas membara di awal&lt;br /&gt;hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua,&lt;br /&gt;ketiga, keempat dan seterusnya.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan&lt;br /&gt;berakhir, keluarga&lt;br /&gt;berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya&lt;br /&gt;rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga&lt;br /&gt;seterusnya pendakian.&lt;br /&gt;Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana&lt;br /&gt;pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu&lt;br /&gt;kondusif secara emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di&lt;br /&gt;tengah&lt;br /&gt;situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi&lt;br /&gt;teruji.&lt;br /&gt;Di situ juga integritas terbukti.&lt;br /&gt;Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di&lt;br /&gt;tengah situasi yang&lt;br /&gt;sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang&lt;br /&gt;longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya&lt;br /&gt;mengatakan bahwa hati&lt;br /&gt;dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia&lt;br /&gt;sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak&lt;br /&gt;ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang&lt;br /&gt;pencinta mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya&lt;br /&gt;dengan cinta.&lt;br /&gt;Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah&lt;br /&gt;suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk&lt;br /&gt;menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai&lt;br /&gt;sehebat lelaki tua itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2338807761249186983?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2338807761249186983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2338807761249186983&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2338807761249186983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2338807761249186983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/mencintai-itu-keputusan.html' title='Mencintai Itu Keputusan'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-448071434646529057</id><published>2006-11-26T08:09:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:15:08.006+07:00</updated><title type='text'>RAIHANA (diambil dari buku "Pudarnya Cahaya Cleopatra")</title><content type='html'>Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan&lt;br /&gt;aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya&lt;br /&gt;Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan&lt;br /&gt;untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" ,&lt;br /&gt;ucap beliau dengan nada mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku&lt;br /&gt;menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi&lt;br /&gt;mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun&lt;br /&gt;sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu&lt;br /&gt;saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.&lt;br /&gt;Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari&lt;br /&gt;pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa&lt;br /&gt;cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat&lt;br /&gt;Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku&lt;br /&gt;terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya&lt;br /&gt;sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.&lt;br /&gt;Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan&lt;br /&gt;kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah&lt;br /&gt;hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama&lt;br /&gt;dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit&lt;br /&gt;cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama&lt;br /&gt;Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang&lt;br /&gt;jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang&lt;br /&gt;dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak&lt;br /&gt;acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.&lt;br /&gt;Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena&lt;br /&gt;ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak&lt;br /&gt;apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil&lt;br /&gt;'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah&lt;br /&gt;tidak  mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam"  jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak&lt;br /&gt;lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa&lt;br /&gt;mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap&lt;br /&gt;bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk&lt;br /&gt;menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia&lt;br /&gt;ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena&lt;br /&gt;Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi&lt;br /&gt;kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap&lt;br /&gt;melayaniku menyiapkan segalanya untukku.&lt;br /&gt;Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis&lt;br /&gt;maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi&lt;br /&gt;buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan&lt;br /&gt;teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah&lt;br /&gt;berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku&lt;br /&gt;diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan&lt;br /&gt;cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak&lt;br /&gt;dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya&lt;br /&gt;kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?"&lt;br /&gt;Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan&lt;br /&gt;tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya&lt;br /&gt;dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana&lt;br /&gt;kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak&lt;br /&gt;kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku&lt;br /&gt;dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana&lt;br /&gt;membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri&lt;br /&gt;di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur&lt;br /&gt;sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin&lt;br /&gt;menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk&lt;br /&gt;makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti&lt;br /&gt;akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk&lt;br /&gt;mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat&lt;br /&gt;memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya,&lt;br /&gt;cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.&lt;br /&gt;Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam&lt;br /&gt;setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku&lt;br /&gt;terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang&lt;br /&gt;suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya,&lt;br /&gt;mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah&lt;br /&gt;sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan&lt;br /&gt;datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,&lt;br /&gt;tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut&lt;br /&gt;Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia&lt;br /&gt;letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.&lt;br /&gt;Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maâf..maaf&lt;br /&gt;jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak&lt;br /&gt;meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda&lt;br /&gt;Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!"&lt;br /&gt;sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan&lt;br /&gt;dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil&lt;br /&gt;"dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita&lt;br /&gt;berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil&lt;br /&gt;menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar&lt;br /&gt;dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan&lt;br /&gt;bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah&lt;br /&gt;melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah&lt;br /&gt;sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini,&lt;br /&gt;kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap&lt;br /&gt;dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi&lt;br /&gt;hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana&lt;br /&gt;aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri&lt;br /&gt;di dunia ini.&lt;br /&gt;Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana&lt;br /&gt;membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami&lt;br /&gt;dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "&lt;br /&gt;Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal&lt;br /&gt;dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan&lt;br /&gt;bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan&lt;br /&gt;terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah&lt;br /&gt;seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai&lt;br /&gt;pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya&lt;br /&gt;pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.&lt;br /&gt;Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh&lt;br /&gt;sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada&lt;br /&gt;ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku&lt;br /&gt;sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan&lt;br /&gt;bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing&lt;br /&gt;lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu&lt;br /&gt;tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku&lt;br /&gt;ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana&lt;br /&gt;sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku&lt;br /&gt;berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku&lt;br /&gt;hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku&lt;br /&gt;sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak&lt;br /&gt;kunjung  tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu&lt;br /&gt;aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi.&lt;br /&gt;Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan&lt;br /&gt;mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke&lt;br /&gt;enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan&lt;br /&gt;kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena&lt;br /&gt;rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh&lt;br /&gt;curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,&lt;br /&gt;Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong&lt;br /&gt;nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,&lt;br /&gt;no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku&lt;br /&gt;tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya&lt;br /&gt;bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.&lt;br /&gt;Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di&lt;br /&gt;Mesir.&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku&lt;br /&gt;pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku&lt;br /&gt;benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut&lt;br /&gt;mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah&lt;br /&gt;menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin&lt;br /&gt;dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi&lt;br /&gt;tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku&lt;br /&gt;terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam&lt;br /&gt;hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,&lt;br /&gt;andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak&lt;br /&gt;terlambat sholat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi&lt;br /&gt;aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen&lt;br /&gt;mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab&lt;br /&gt;dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam&lt;br /&gt;pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa&lt;br /&gt;arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman&lt;br /&gt;hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah&lt;br /&gt;menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang&lt;br /&gt;mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang&lt;br /&gt;dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan&lt;br /&gt;shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau&lt;br /&gt;sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku&lt;br /&gt;melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona&lt;br /&gt;dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya&lt;br /&gt;seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir&lt;br /&gt;dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang&lt;br /&gt;Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat&lt;br /&gt;saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang&lt;br /&gt;bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh&lt;br /&gt;cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak&lt;br /&gt;akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak&lt;br /&gt;bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil&lt;br /&gt;membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau&lt;br /&gt;sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.&lt;br /&gt;Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan&lt;br /&gt;begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al&lt;br /&gt;Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari&lt;br /&gt;pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh&lt;br /&gt;untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.&lt;br /&gt;Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1&lt;br /&gt;saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk&lt;br /&gt;modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota&lt;br /&gt;Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya&lt;br /&gt;Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta&lt;br /&gt;YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak&lt;br /&gt;bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.&lt;br /&gt;Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai&lt;br /&gt;muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan&lt;br /&gt;bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan&lt;br /&gt;apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung.&lt;br /&gt;YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.&lt;br /&gt;Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.&lt;br /&gt;Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan&lt;br /&gt;saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk&lt;br /&gt;menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan&lt;br /&gt;dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah&lt;br /&gt;diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di&lt;br /&gt;ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu&lt;br /&gt;cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit,&lt;br /&gt;Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak&lt;br /&gt;tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia,&lt;br /&gt;aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki&lt;br /&gt;Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya&lt;br /&gt;menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,&lt;br /&gt;tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan&lt;br /&gt;yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah&lt;br /&gt;meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum&lt;br /&gt;terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang&lt;br /&gt;sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan&lt;br /&gt;bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak&lt;br /&gt;langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang&lt;br /&gt;tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya&lt;br /&gt;aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini&lt;br /&gt;surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serongâ?¦.Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbiâ?¦ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.&lt;br /&gt;Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. "Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hambaâ?¦â?¦" tulis Raihana.&lt;br /&gt;Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang&lt;br /&gt;kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita&lt;br /&gt;jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh&lt;br /&gt;derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak&lt;br /&gt;mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba&lt;br /&gt;padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku&lt;br /&gt;padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada&lt;br /&gt;hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.&lt;br /&gt;   Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena&lt;br /&gt;kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap&lt;br /&gt;berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat&lt;br /&gt;mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan&lt;br /&gt;cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa&lt;br /&gt;hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau". Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang&lt;br /&gt;luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.&lt;br /&gt;Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang&lt;br /&gt;tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk&lt;br /&gt;kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam&lt;br /&gt;keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam&lt;br /&gt;jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana&lt;br /&gt;yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu&lt;br /&gt;kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku&lt;br /&gt;tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku&lt;br /&gt;dengan Raihana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes&lt;br /&gt;sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku&lt;br /&gt;meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat&lt;br /&gt;kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi&lt;br /&gt;heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis&lt;br /&gt;dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.&lt;br /&gt;" Raihanaâ?¦istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya" . " Ada apa&lt;br /&gt;dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telah meninggal&lt;br /&gt;seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah&lt;br /&gt;sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan&lt;br /&gt;untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama&lt;br /&gt;menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya" . Hatiku bergetar hebat. " Keâ?¦kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". "&lt;br /&gt;Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk&lt;br /&gt;menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus&lt;br /&gt;katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu.&lt;br /&gt;Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama&lt;br /&gt;pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami".&lt;br /&gt;   Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan&lt;br /&gt;cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah&lt;br /&gt;meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf&lt;br /&gt;dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.&lt;br /&gt;Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan&lt;br /&gt;pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari&lt;br /&gt;wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru,&lt;br /&gt;rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia&lt;br /&gt; tiba-tiba gelap semua ........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )&lt;br /&gt;Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-448071434646529057?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/448071434646529057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=448071434646529057&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/448071434646529057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/448071434646529057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/raihana-diambil-dari-buku-pudarnya.html' title='RAIHANA (diambil dari buku &quot;Pudarnya Cahaya Cleopatra&quot;)'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-3400271955307614630</id><published>2006-11-26T08:04:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:08:37.699+07:00</updated><title type='text'>Writing Skill - Keahlian Menulis Bagi Kaum Profesional</title><content type='html'>Keahlian Berkomunikasi (baca: Menulis) Adalah Kunci Keberhasilan Kaum Profesional&lt;br /&gt;"Communication is the most important skill in life."-- Stephen Covey&lt;br /&gt;(Pengarang Seven Habits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man” – Sir Francis Bacon&lt;br /&gt;(Bapak Ilmu Pengetahuan Modern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Writing – the art of communicating thoughts to the mind – is the great invention in the world Great, very great, it enabling us to converse with the dead, the absent, and the unborn, at all distances of time and space, and great not only in its direct benefits, but its great help to all other inventions.” – Abraham Lincoln&lt;br /&gt;(Mantan Presiden Amerika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“From poetry to letters to stories to laws, we must learn to write in order to participate in the range of experiences available to us as human beings. Our spiritual lives, our economic success, and our social networks are all directly affected by our willingness to do the work necessary to acquire the skill of writing. In a very real way neither our democracy nor our personal freedoms will survive unless we as citizens take the time and make the effort needed to learn how to write.” -- Mantan Senator, Bob Kerry&lt;br /&gt;(National Commission on Writing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemampuan menulis setiap orang hanya dibatasi oleh imajinasi."-- Ikhwan Sopa&lt;br /&gt;(Kayaknya belon ada yang ngomong begini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai profesional, kita dituntut untuk selalu berhubungan dengan pihak lain. Berhubungan dengan pihak lain dilakukan dengan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, benar, efektif dan efisien adalah tuntutan mutlak bagi kemajuan karir, enterpreneurship dan leadership. Itu sebabnya orang-orang yang punya karir bagus, pengusaha sukses dan para pemimpin besar bisa dipastikan hebat dalam berbicara, menulis, membaca dan mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa memastikan hal itu dengan melihat berbagai fakta sejarah dari orang-orang terkenal. Lihatlah Adolf Hitler, Mussolini, Bung Karno, Bung Hatta, RA Kartini, Fidel Castro, Saddam Husein, Kwik Kian Gie, Gde Prama, Rhenald Kasali, Bondan Winarno atau Hermawan Kertajaya. Itu semua masih terlalu sedikit untuk mewakili semua contoh nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato mereka begitu terkenal, menjadi inspirasi dan didengar oleh banyak orang. Kata-kata mereka menjadi kutipan abadi. Buku, tulisan dan bahkan surat-surat pribadi mereka menjadi best seller sepanjang zaman. Mereka telah membaca begitu banyak literatur dan referensi. Apa yang mereka baca selalu dianjurkan untuk dibaca oleh semua orang lain hanya karena mereka membacanya, dengan harapan kemampuan mereka bisa diwarisi oleh para pengikutnya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai dalam mendengarkan orang lain, situasi dan keadaan. Mereka adalah para ahli dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa toko buku tak pernah sepi dari pengunjung? Mengapa sepatah dua patah kata dari para tokoh dan selebriti selalu diharapkan dalam setiap event? Mengapa kursus bahasa Inggris dan ilmu komputer begitu laris? Mengapa iklan di media massa dipandang sebagai cara efektif untuk mendongkrak penjualan? Mengapa narasumber tertentu begitu sibuknya menjawab pertanyaan konsultasi atau memberikan seminar dan pelatihan? Kuncinya adalah fakta bahwa setiap orang secara alamiah sangat menghargai kemampuan berkomunikasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati, kemampuan berkomunikasi dikembangkan dari empat modal pokok yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Listening atau mendengar;&lt;br /&gt;- Speaking atau berbicara;&lt;br /&gt;- Reading atau membaca; dan&lt;br /&gt;- Writing atau menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa empat modal dasar di atas tidak pernah berdiri sendiri. Perhatikan pula bahwa urut-urutannya tidak bisa ditentukan dengan ranking. Anda pasti yakin bahwa sekalipun writing atau menulis dalam modal dasar di atas diletakkan di baris akhir, keberadaannya harus tetap merupakan satu kesatuan dengan modal dasar lainnya secara proporsional dan berimbang. Apa yang harus kita lakukan adalah mencapai keseimbangan itu dengan menulis sebanyak kita berbicara, mendengar dan membaca. Anda bisa mencapai apa yang Anda cita-citakan dalam karir, enterpreunership dan leadership hanya jika Anda memiliki bekal yang lengkap. Salah satunya, adalah kemampuan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus Menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi lisan, kita menyampaikan ide kepada orang lain. Komunikasi itu hanya akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak disampaikan memang bisa tepat sama dengan apa yang dipersepsi oleh pihak penerimanya. Dalam menulis, kata-kata adalah batu bata dalam berkomunikasi yang memiliki fungsi sama. Berbicara kepada anak-anak membutuhkan bahasa lisan yang bisa dimengerti dan dipahami oleh anak-anak. Berbicara kepada orang tua dari kaum profesional menuntut hal yang sama. Begitu pula dengan menulis. Jika Anda sudah berbicara seumur hidup Anda, maka Anda sangat mungkin tidak menghadapi kendala dalam berkomunikasi lisan. Akan tetapi, jika akumulasi aktivitas menulis Anda hanya 3 tahun sementara usia Anda sudah 25 tahun atau lebih, maka Anda sangat mungkin mengalami berbagai kesulitan dalam berkomunikasi secara tertulis. Sebabnya hanya satu, jam terbang Anda dalam menulis masih terhitung rendah. Maka sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain kecuali mencoba untuk menulis sebanyak kita membaca, sebanyak kita mendengar dan sebanyak kita berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir, laporan, proposal, hasil pertemuan, perjanjian, pernyataan, research memo, judicial review dan sebagainya jelas menuntut keahlian menulis yang baik. Itu artinya perlu latihan, brainstorming dan diskusi. Salah satu media latihan yang terbaik adalah menulis di berbagai media seperti jurnal, majalah, surat kabar dan sebagainya atau bahkan menulis buku. Maka, menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francis Bacon (filsuf Inggris yang disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan Modern) mengatakan “reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man”. Oleh sebab itu, pengetahuan dan keahlian seseorang akan dapat dikembangkan dengan akurat dan efektif melalui kegiatan menulis dari pada sekedar membaca atau berdiskusi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah kembali bagaimana sulitnya Anda saat masih di Taman Kanak-kanak, saat di SD, SMP, SMA atau bahkan di bangku kuliah. Anda telah belajar dengan keras, susah payah atau bahkan menyakitkan. Mulanya Anda hanya dituntut untuk bisa berkata-kata. Kemudian Anda diperkenalkan pada huruf dan simbol. Selanjutnya Anda dituntut untuk selalu membaca. Pada saat yang sama, Anda juga mulai dituntut untuk mulai menulis dan mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Memasuki SMP, Anda diharapkan sudah menguasai semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Anda mulai menguasai semuanya. Anda mulai pintar membaca, mendengar orang lain lewat debat dan diskusi, mulai pandai berbicara dan sesekali menulis. SEKALI-SEKALI? Ya Anda hanya menulis sekali-sekali saja! Coba Anda hitung dan bandingkan porsi Anda dalam membaca, mendengar atau berbicara dengan menulis. Anda pasti terkejut bahwa aktivitas menulis Anda tidak akan mencapai 25% dari keseluruhan aktivitas Anda. Dalam banyak hal, pekerjaan menulis laporan atau proposal bahkan sudah menjadi semacam alergi bagi Anda sendiri. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakseimbangan dalam perkembangan kemampuan Anda. Dan dalam hal ini, Anda telah menyia-nyiakan apa yang sudah Anda peroleh sejak kecil dengan mengembangkannya tanpa memperhatikan proporsi. Kemampuan menulis itu penting. Penting bagi karir Anda, penting bagi cita-cita Anda dan penting bagi karakter kepemimpinan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan grafik berikut ini. Grafik ini tidak dibuat berdasarkan data-data, namun demikian kita bisa sangat yakin bahwa fenomena ini memang nyata adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sekolah Anda masih mungkin bisa menyeimbangkan kemampuan dalam menulis, membaca, mendengar dan berbicara. Akan tetapi begitu kita memasuki dunia karir dan wilayah kerja, perkembangan kemampuan menulis Anda mulai tertinggal jauh dari kemampuan Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara. Sengaja atau tidak, aktivitas menulis Anda hanya dibatasi pada laporan, formulir atau proposal. Padahal, kemampuan Anda yang lain terus tumbuh dan berkembang. Maka, sangat mungkin kemampuan menulis Anda menjadi stagnan atau bahkan menurun. Cepat atau lambat, sesuai karakteristiknya penurunan kemampuan dalam menulis justru berkembang menjadi hambatan bagi kemajuan kemampuan membaca, mendengar dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menulis berarti Anda telah menyia-nyiakan kemampuan dasar yang sudah Anda peroleh di masa-masa awal pendidikan Anda. Dengan kata lain, telah terjadi penyimpangan dari rencana hidup atau blue print Anda sendiri, yang semestinya dikembangkan secara paralel dan seimbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah fakta-fakta tentang pentingnya menulis bagi keberhasilan seorang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hackett, Betz dan Doty (1985), dalam sebuah buku mereka mengungkapkan bagaimana karir seseorang bisa dikembangkan melalui sebuah matriks seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Communication Skill&lt;br /&gt; Career Advancement Skill&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Interpersonal Skill&lt;br /&gt; Job-Specific Skill&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Political Skill&lt;br /&gt; Adaptive-Cognitve Skill&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Administrative and Leadership Skill&lt;br /&gt; Career Management Skill&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan Job-Specific Skill. Oleh sebab itu, mereka meletakkan kemampuan menulis sebagai salah satu unsur utama. Kemampuan menulis bisa dikembangkan dengan cara-cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering menulis berdasarkan kegunaan (purpose) spesifik atau audience spesifik;&lt;br /&gt;- Memahami fakta bahwa “menulis” adalah “menengok kembali” (writing is revising). Dengan kata lain, menulis adalah memperdalam keahlian Anda;&lt;br /&gt;- Memperoleh pengalaman editing yang akan bermanfaat tidak hanya untuk menulis akan tetapi secara keseluruhan bermanfaat untuk pengembangan kemampuan riset dan auditory atau observasi;&lt;br /&gt;- Mempublikasikan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar komunikasi, Donna M. Mc. Cune mengungkapkan pengalamannya. Bisa jadi Anda adalah seorang profesional yang hebat. Berapa lamakah karir Anda akan tetap bersinar? 10 tahun? 20 tahun? 30 atau 50 tahun? Jika profesi Anda menuntut pemikiran yang hebat, atau jika Anda harus bekerja dengan tangan atau kaki Anda, Anda mungkin masih bisa melakukannya dengan baik saat ini. Bagaimana dengan 20 atau 30 tahun lagi? Anda jelas tidak akan bisa bertahan hanya dengan menekan-nekan tombol keyboard di depan komputer untuk melakukan entry atas hal-hal yang sama sepanjang hidup Anda. Jika Anda bercita-cita menjadi petani atau traveller pengeliling dunia, Anda pun sudah harus mempersiapkannya dari sekarang. Lebih dari itu, ada satu hal yang bisa amat membantu mencapai apapun cita-cita Anda di masa depan dan pada saat yang sama menyelesaikan berbagai tugas Anda di masa sekarang dengan lebih baik, yaitu lebih sering menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan baik-baik, tingkatan achievement yang dianggap paling tinggi bagi seorang profesional adalah membagi semua ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Itu sebabnya setiap orang hebat di dunia pada akhirnya akan menulis buku atau menjadi public speaker yang berbicara di depan orang banyak. Artinya, hampir bisa dipastikan bahwa karir setiap profesional akan bermuara pada aktivitas berbicara dan menulis. Menjadi pembicara atau penulis. Seorang S3 pada akhirnya harus mampu berbicara dan menulis dengan baik. Seorang pedagang asongan yang sempat menjadi konglomerat pun demikian. Maka, menulis adalah alat survival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus percaya, muara manapun yang Anda pilih – pembicara atau penulis, kemampuan menulis adalah tulang punggungnya. Masalahnya, apa yang sudah Anda persiapkan mulai sekarang, sementara kita mengetahui bahwa aktivitas menulis Anda terbilang minim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1988, sebuah survey melaporkan bahwa 79% dari eksekutif yang menjadi objek survey mengungkapkan bahwa menulis adalah kemampuan yang paling diabaikan dalam dunia bisnis. Padahal menurut mereka, keahlian menulislah yang justru paling penting dalam konteks produktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1989, seberkas white paper berjudul “Perspectives on Education: Capabilites for Success in Accounting Profession” mengungkapkan bahwa semua dari 8 besar kantor akuntan publik (Big-8 Firms) menyepakati bahwa akademi dan universitas manapun semestinya menyediakan suatu kurikulum, yang bisa mengembangkan kemampuan komunikasi para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1990, Accounting Education Change Commission, menggaungkan sentimen yang sama sekali lagi dalam “Objectives of Education for Accountants: Position Statement Number One.” Para siswa, calon akuntan dan para profesional yang menunjukkan kemampuan komunikasi yang kuat, secara tegas menunjukkan keunggulan dalam pasar tenaga kerja dan berkecenderungan lebih berhasil di sepanjang karirnya. Keahlian komunikasi dalam bentuk tertulis yang kuat akan bermuara pada job placement yang lebih baik, diperolehnya kepercayaan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih besar, hasil yang lebih tinggi dalam job performance evaluations dan kemajuan karir yang lebih pesat. Kemampuan menulis yang tidak jelas, ambiguous dan tak terorganisir dengan baik akan menghasilkan kerugian berupa turunnya tingkat kepercayaan supervisor atau client’s goodwill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;US Labor Departement (Depnakernya Amrik) memberikan catatan bahwa sebagian besar bidang profesi dan pekerjaan di masa yang akan datang, akan menuntut kemampuan menulis sebagai salah satu syarat utama. Dunia kerja terus berubah dan yang akan survive adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam komunikasi, tanpa memandang bidang pekerjaannya (1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1992, Associated Press melaporkan hasil sebuah survey yang dilakukan terhadap 402 perusahaan. Survey itu mengungkapkan bahwa para eksekutif memberi penghargaan tertinggi pada kemampuan menulis namun dalam kenyataannya, 80% pegawai mereka berada pada tingkat memprihatinkan sehingga harus di upgrade kemampuan menulisnya. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 20% dibandingkan hasil survey yang sama tahun 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993, Olsen Corp. – sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja – melakukan sebuah survey yang menunjukkan bahwa 80% dari 443 pegawainya memerlukan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai studi menunjukkan bahwa sepertiga dari kantor akuntan publik di Amerika ternyata tidak puas terhadap kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh para akuntan baru. Salah satu dari studi itu menunjukkan bahwa kemampuan menulis yang buruk ternyata memiliki peran sebagai penyebab para akuntan entry-level kehilangan pekerjaannya (Kim, “Accountants as Communicators,” Trusted Professional, edisi Desember 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 19 karakteristik yang dipersyaratkan recruiter kantor akuntan publik, teridentifikasi bahwa kemampuan menulis menempati urutan kelima paling penting sebagai karakteristik penentu dalam penyaringan awal calon akuntan baik di kampus-kampus maupun dalam proses interview. Kemampuan menulis memiliki ranking yang lebih tinggi dari pada kemampuan teknis, keanggotaan dalam Beta Alpha Psi, pengalaman kerja dan reputasi almamater (Moncada dan Sanders, “Perceptions in the Recruiting Process,” CPA Journal, edisi Januari 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 22 macam keahlian yang dianggap kritis dalam bisnis dan ekonomi, praktisi akuntansi me-ranking kemampuan komunikasi tertulis sebagai keahlian yang paling penting untuk dikembangkan di lingkungan mahasiswa (Albrecht dan Sack, “Accounting Education: Charting the Course through a Perilous Future” Agustus, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sebuah survey dari majalah Fortune 500, para senior tax executives menemukan bahwa kemampuan menulis adalah termasuk atribut yang paling penting dalam proses perekrutan (Paice dan Lyons, “Addressing the People Puzzle,” Financial Executive, edisi September 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis yang sempurna secara jelas membedakan high performers dalam bidang konsultasi perpajakan dari orang-orang yang semata-mata menginterpretasikan dan menerapkan aturan perpajakan (Sherrie Winokur, Tax Partner, Pricewaterhouse Coopers.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah survey dilakukan oleh suatu tim dari Southern Utah University terhadap 90.000 anggota AICPA (American Intitute of Certified Public Accountants) dan IMA (Institute of Management Accountants). Dari 2.181 respon yang masuk seluruhnya menunjukkan bahwa “writes well” – kemampuan menulis yang baik - adalah satu dari tujuh keahlian yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap akuntan khususnya di tingkat entry level. Enam atribut lainnya, ternyata juga kembali pada faktor pentingnya kemampuan menulis yaitu kemampuan mendengar secara efektif, kemampuan menggunakan tata bahasa yang baik dalam berbicara dan menulis, kemampuan membuat dokumen dengan ejaan yang tepat, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat saat berhadapan dengan klien, kemampuan untuk mengorganisir informasi ke dalam kalimat dan paragraf, dan kemampuan untuk menggunakan vocabulary bisnis dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National Commission on Writing di Amerika Serikat (beranggotakan lebih dari 4.300 sekolah dan perguruan tinggi) mengungkapkan beberapa hal berkaitan dengan perlunya “revolusi dalam menulis” sebagaimana disarikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grammar atau tata bahasa, retorika dan logika adalah dasar-dasar yang membangun proses real learning dan self-knowledge. Artinya, semua itu adalah dasar bagi pengembangan proses belajar yang nyata dan bagi pengembangan karir pribadi seseorang. Kemampuan untuk mengatakan sesuatu secara benar, baik dan masuk akal adalah nilai dasar bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, menulis dengan baik adalah sebuah kemampuan yang tidak boleh ditinggalkan atas dasar tiga pilar utama sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aktivitas menulislah yang telah merubah dunia. Berbagai revolusi di dunia dimulai dari menulis. Dalam banyak hal, menulis telah meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan, apapun bidang yang dirambahnya. Dalam faktanya, segala hal yang menekan dan terjadi dalam sejarah selalu mendorong orang untuk kembali ke tinta dan alat tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aktivitas menulis secara nyata telah terbukti memperkaya kehidupan politik setiap negara. Para pemimpin besar telah memadukan unsur kekuatan dan persuasi yang bisa mendorong orang melihat berbagai hal dari sudut-sudut baru yang lebih baik. Mereka telah menggunakan kekuatan kata, bahasa dan tulisan untuk mengingatkan kembali perlunya berbagai standar yang lebih tinggi guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menulis ternyata juga bisa mengungkap secara sangat mendalam berbagai hal yang seringkali orang tidak melihatnya. Padahal, semua hal yang tadinya tak terlihat itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah sesuatu yang lebih jauh dan dalam dari sekedar menguasai tata bahasa dan tanda baca. Menulis adalah sebuah proses yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan apa yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami apa yang telah diketahui. Menulis akan meningkatkan rasa percaya diri, dan rasa percaya dirilah yang akan memunculkan berbagai kreatifitas dan rasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat pribadi yang bisa diperoleh dengan menulis adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Koneksi dan jaringan untuk kepentingan karir;&lt;br /&gt;- Pengetahuan yang lebih mendalam;&lt;br /&gt;- Motivasi personal dan sosial yang meningkat;&lt;br /&gt;- Financial reward;&lt;br /&gt;- Kredit akademis;&lt;br /&gt;- Hubungan dengan dunia ilmu yang tak terputus. Ingatlah bahwa ilmu selalu berubah dan berkembang, demikian juga berbagai aturan main dalam dunia usaha, baik aturan formal seperti hukum perpajakan maupun aturan main dalam bisnis;&lt;br /&gt;- Kemampuan yang lebih baik dalam bekerja secara tim (team work);&lt;br /&gt;- Kemampuan yang lebih baik dalam aspek komunikasi yang lain seperti membaca, mendengar dan berbicara;&lt;br /&gt;- Peningkatan dalam kemampuan presentasi;&lt;br /&gt;- Peningkatan percaya diri dan personal branding. Anda menaikkan status dan posisi personal branding dan corporate branding Anda dengan cara yang elegan dan tanpa biaya. Ingatlah bahwa di era sekarang, personal branding adalah hal yang penting.&lt;br /&gt;- Profesional plus. Nilai plus-lah yang bisa memperpanjang karir Anda dan membantu mencapai berbagai harapan dan cita-cita;&lt;br /&gt;- Anda telah membuka pintu-pintu baru bagi masa depan Anda dengan lebih baik, apapun konsepsi Anda tentang masa depan itu. Anda mulai membangun rumah-rumah baru bagi masa depan Anda sendiri;&lt;br /&gt;- Anda siap dengan berbagai argumentasi dan analisis akurat di semua bidang;&lt;br /&gt;- Anda menjalani profesi Anda dengan lebih baik dan dengan masa depan yang lebih baik. Itu pasti;&lt;br /&gt;- Anda sudah mulai membenahi apa-apa yang sudah Anda pelajari sejak kecil dengan bersusah payah dan sempat tersia-sia. Dengan demikian, Anda akan memiliki kemampuan yang seimbang dalam mengembangkan diri dan profesi. Anda akan mampu, survive dan sukses dengan personal branding yang kuat;&lt;br /&gt;- Ini adalah KESEMPATAN bagi Anda untuk BERINVESTASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Tidak Punya Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu sebenarnya berbahaya. Anda mengatakan tidak punya waktu karena mengejar dan menyelesaikan berbagai hal dalam pekerjaan, karir dan cita-cita. Bagaimana mungkin Anda tidak punya waktu untuk sesuatu yang dapat membantu terwujudnya semua itu? Bukan tidak mungkin, waktu Anda yang tersita habis selama ini justru disebabkan karena kekurangoptimalan Anda dalam membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Dan menulis, ibarat “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Dengan menulis, Anda memperbaiki dan meningkatkan kualitas Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ada banyak cara yang bisa membantu Anda dengan berbagai hal yang dapat menghemat waktu berharga Anda seperti, teknik wawancara, teknik ghost writing, teknik asistensi dan riset, dan berbagai teknik lain sesuai kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Tidak Berbakat Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ungkapan Anda berbahaya. Anda tidak semestinya membangun tembok-tembok bagi pengembangan pribadi Anda sendiri dengan tidak membuka pintu dan peluang baru yang mencerahkan masa depan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kasus, berbagai media yang ada seringkali dibangun dan dikembangkan oleh orang-orang teknis yang SAMA SEKALI tidak berlatar belakang dunia tulis-menulis. Para kontributor mereka pun demikian. Itu sebabnya media-media itu tidak melulu berpaling pada orang-orang dari dunia jurnalistik. ANDALAH orang yang paling tepat untuk menulis. Anda adalah jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa tulisan Anda akan fenomenal. Tapi siapapun bisa menjamin bahwa tulisan Anda bisa diperbaiki menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Tidak Boleh Menggunakan Nama Perusahaan dalam Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh memilih untuk anonymous. Anda bisa menggunakan nama “Si Keren Ujang” misalnya, dan jika tulisan Anda sudah mulai diminati, maka cepat atau lambat “Si Keren Ujang” akan identik dengan nama Anda sendiri. Ingatlah bahwa menulis adalah investasi dan kesempatan itu sering diberikan dengan free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang Saya Tidak Terkait dengan Apa yang harus Ditulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua bidang menjadi aspek mendasar dalam kehidupan setiap masyarakat dan bangsa. Profesi Anda juga pasti bisa dikaitkan ke sana. Oleh karena itu dunia tertentu bisa ditinjau dari segala aspek dan profesi yang ada. Anda bisa memandangnya dari segi hukum, seni, ekonomi, manajemen, sumber daya manusia, sosiologi, psikologi, pertanian, peternakan, perikanan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ungkapkan saja ide-ide yang Anda punya sesuai bidang Anda, mereka akan membuatnya menjadi wacana. Anda bahkan cukup berbicara tentang dunia Anda, merekalah yang akan membumbuinya dengan aspek bidang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Pernah Menulis dan Ditolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, apa yang dilakukan adalah bukan penolakan. Media sangat memahami bahwa setiap pemikiran dan ide semestinya bisa diungkapkan dan dirilis kepada publik. Hanya saja seringkali mereka dengan terpaksa harus mendahulukan tulisan yang siap rilis. Anda hanya ditantang untuk bersaing, tulisan Anda atau tulisan orang lain. Itu saja. Ada media yang mungkin siap mengolah kembali tulisan Anda dari keadaan seadanya dan menjadikannya alat investasi bagi Anda. Sebab, mereka memahami bahwa dunia di luar sana amat membutuhkan buah pikir Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompensasinya Masih rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung cara pandang dan orientasi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Bisa Menuangkan Ide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua media mengembangkan berbagai cara untuk bisa menjadi wadah bagi aliran ide dan pemikiran Anda. Pada prinsipnya, mereka akan mencoba berbagai hal untuk bisa menangkap ide Anda. Bila perlu, mereka menerapkan metode wawancara atau ghost writing. Yang penting, Anda punya sesuatu yang juga penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Nggak PD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menaikkan PD Anda secara elegan dan profesional. Justru karena itulah Anda harus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Sudah Menulis di Tempat Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah tidak ada satu media pun yang melarang seorang penulis untuk menulis di media lain. Setidaknya hal itu bisa ditengahi dengan berbagai kesepakatan. Mereka tidak ingin melakukan hal itu. Anda bebas menulis di media lain. Mereka hanya beranggapan bahwa mereka adalah salah satu media dari semua media yang ada, dan mereka amat memahami fokus dan keunikannya masing-masing sebagai sebuah media. Yang jelas, dengan menulis Anda sudah menambah nilai plus bagi personal branding Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Adalah Penulis Buku dan Bukan Penulis Artikel Pendek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, Anda mungkin punya ide atau gagasan yang tidak cukup panjang dan dalam untuk dijadikan sebuah buku. Atau sebaliknya, sebuah buku Anda bisa Anda sarikan dalam bentuk yang lebih pendek berupa artikel. Ini berarti promosi bagi buku Anda sendiri. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk menulis artikel cenderung lebih singkat. Sementara itu, kontak Anda dengan pembaca cenderung bisa lebih ditingkatkan frekuensinya. Ini akan sangat menguntungkan bagi buku-buku Anda di masa depan. Dan jika Anda cukup sering menulis, koleksi artikel Anda itu bisa Anda jadikan buku di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Tidak Menguasai Aturan Main di Bidang Itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda benar. Akan tetapi, dengan sedikit menggali Anda pasti bisa meyakini bahwa Anda adalah satu dari sedikit orang yang memahami aturan mainnya – apapun bidang itu. Artinya, pemikiran Anda tetap dibutuhkan oleh banyak orang yang jauh lebih awam daripada Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Itu Tidak Blak-Blakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kendala yang dihadapi setiap media selama hidupnya. Visi dan misi setiap media mengharuskan mereka berdiri pada posisi yang netral dengan asumsi bahwa posisi ini akan memberi manfaat yang lebih besar bagi semua sistem dan budaya serta bagi semua khalayak yang terlibat di dalamnya. Pada prinsipnya, setiap media harus mengungkapkan apa adanya, namun demikian hal itu harus dilakukan dengan bijaksana tanpa dikotori oleh unsur SARA misalnya. Adalah tanggung jawab mereka untuk mengungkapkan sesuatu yang blak-blakan dalam cara yang lebih konstruktif, Anda tetap bisa berbicara blak-blakan. Namun Anda harus memahami, bicara blak-blakan yang tidak disertai dengan kebijaksanaan akan lebih destruktif sifatnya. Oleh karena itu, banyak media lebih memilih pendekatan yang bijaksana, sistemik dan ilmiah. Ini saatnya rekonsiliasi dan bukan saling menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Lebih Suka Menulis Fiksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sudah menyediakan tempatnya, dan mereka akan mencoba mentransformasikan ide dan gagasan Anda ke dalam “format mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada Komputer untuk Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak bisa beralasan seperti itu. Banyak media juga menerima kontribusi dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan, ada juga yang menerima ide dan gagasan dalam bentuk suara atau gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah Terlambat bagi Saya untuk Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Inilah saatnya di mana Anda bisa menuangkan segala ide dan gagasan Anda demi masa depan diri sendiri dan demi masa depan bangsa ini. Jika Anda sebagai ahlinya tidak mau berbicara, maka segala cita-cita termasuk cita-cita pribadi Anda, akan terkendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihlah tingkatan tertinggi dalam kemampuan profesi. Jadilah orang yang eksak. Bicaralah kepada yang sudah mati, kepada yang tidak hadir dan kepada yang belum lahir. Apapun profesi Anda, Anda harus mulai menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya ada satu jalan untuk meningkatkan kemampuan menulis, yaitu menulis. Apa saja."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-3400271955307614630?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/3400271955307614630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=3400271955307614630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3400271955307614630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/3400271955307614630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/writing-skill-keahlian-menulis-bagi.html' title='Writing Skill - Keahlian Menulis Bagi Kaum Profesional'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-6084930039246967043</id><published>2006-11-26T08:03:00.001+07:00</published><updated>2006-11-26T08:03:52.194+07:00</updated><title type='text'>Bunda, Luar Biasa!</title><content type='html'>Seorang anak terlahir normal, tanpa cacat sedikit pun. Proses kelahirannya berlangsung normal, tanpa operasi caesar. Tetapi proses panjang selama sembilan bulan sebelum melahirkan itulah yang tidak normal. Bahkan, jika bukan karena kuasa Allah, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor Allah, tentu saja ada sang bunda yang teramat luar biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, Sinta mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindui kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, Allah menanamkan sebentuk amanah dalam rahimnya. Sinta pun tersenyum gembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebahagiaan Sinta hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita Sinta. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, Sinta tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta yang mendengar rencana dokter, langsung berkata "tidak". Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. "bukankah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan sama dengan mati syahid?" ujarnya menguatkan tekad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan Sinta. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, "kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau". Namun Sinta tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, Sinta mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan Sinta. Tak lama kemudian, dokter menyatakan Sinta dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang bunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan kritis, rupanya Sinta tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. "Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya". Sinta pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. "Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas, biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia," luluhlah sang suami. Pengguguran kandungan pun batal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berikutnya, kesehatan Sinta tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit Sinta selama sekian bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami Sinta, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika Allah berkehendak terbaik untuk Sinta dan bayinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bunda memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci Allah yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang bunda melalui Sinta, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, Sinta mengigau dalam komanya. "Jangan, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya" Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat Allah tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan Sinta meski sang bunda dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, Sinta tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam episode cinta seorang Sinta. Kekuatan Allah dan kekuatan cinta sang bunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. "Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih Allah, saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini," ujar Sinta menutup kisahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-6084930039246967043?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/6084930039246967043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=6084930039246967043&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/6084930039246967043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/6084930039246967043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/bunda-luar-biasa.html' title='Bunda, Luar Biasa!'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-2734885493615239385</id><published>2006-11-26T07:59:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:02:22.171+07:00</updated><title type='text'>Ketika Derita Mengabadikan Cinta</title><content type='html'>"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun yang lalu ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi , ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris , Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara . Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:  Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja!  Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &amp; lepas dari belenggu derita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap kaki langit &lt;br /&gt;Kukatakan kepadanya &lt;br /&gt;Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring &lt;br /&gt;Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba &lt;br /&gt;Bukan karna ketiadaan kata-kata &lt;br /&gt;Tapi karena kupu-kupu kelelahan &lt;br /&gt;Akan tidur di atas bibir kita &lt;br /&gt;Besok, oh cintaku... besok &lt;br /&gt;Kita akan bangun pagi sekali &lt;br /&gt;Dengan para pelaut dan perahu layar mereka &lt;br /&gt;Dan akan terbang bersama angin &lt;br /&gt;Seperti burung-burung &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap  bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait . Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis , Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London . Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London . Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London . Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-2734885493615239385?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/2734885493615239385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=2734885493615239385&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2734885493615239385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/2734885493615239385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/11/ketika-derita-mengabadikan-cinta.html' title='Ketika Derita Mengabadikan Cinta'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-7289108261688649104</id><published>2006-10-07T17:05:00.000+07:00</published><updated>2006-10-07T17:10:17.844+07:00</updated><title type='text'>5 Tips for Achieving and Living Your Best Life</title><content type='html'>If you wish to live your best life possible - and who wouldn't?&lt;br /&gt;There are several simple steps you can take to make it&lt;br /&gt;materialize.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip #1: Put Yourself First&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putting yourself first may sound selfish on the surface. In&lt;br /&gt;reality, it is not selfish at all. Putting yourself first does&lt;br /&gt;not mean you do not care about others. In addition, it does not&lt;br /&gt;mean that you hurt others in order to achieve your goals.&lt;br /&gt;Rather, it means that you do not allow others to selfishly&lt;br /&gt;interfere with your goals and with your priorities. If you hope&lt;br /&gt;to live your best life, you need to make your dreams and goals a&lt;br /&gt;priority. The more you allow yourself to be separated from that&lt;br /&gt;goal and the path toward the goal, the less likely you will be&lt;br /&gt;to achieve it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip #2: Don't Give Up&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Along the path toward achieving the life you have always wanted,&lt;br /&gt;you will inevitably run into some roadblocks. This doesn't mean&lt;br /&gt;you turn around and go back home. Rather, look for a way to work&lt;br /&gt;around that roadblock or to use it to your advantage. Never&lt;br /&gt;focus on the obstacles in your way - allowing all of your&lt;br /&gt;attention to be drawn to a problem is really just your&lt;br /&gt;self-critical voice speaking to you out of fear. Continue&lt;br /&gt;focusing on your desired outcomes and working toward your goals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip #3: Learn From Others&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Everyone around you provides you with a learning experience.&lt;br /&gt;Watch them and learn from them. By being observant and open, you&lt;br /&gt;can learn what to do and what to avoid in order to achieve your&lt;br /&gt;desired outcomes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip #4: Work from Your Strengths&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No one can do everything. We all have our strengths and&lt;br /&gt;weaknesses. Don't waste your time and energy beating yourself&lt;br /&gt;down, worrying about the things you don't do well. Instead,&lt;br /&gt;recognize your strengths, take full advantage of them, and ask&lt;br /&gt;others who have counterbalanced strengths to do the things that&lt;br /&gt;you don't do well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip #5: Follow Your Passion and be Happy Now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps the most important thing you can do in this life is to&lt;br /&gt;follow your passion. But don't make your happiness conditional&lt;br /&gt;on achieving your goals. Be happy now, no matter what the&lt;br /&gt;outcome. With this attitude, you will not lose motivation for&lt;br /&gt;your goals, but instead, will gain increased clarity, energy and&lt;br /&gt;desire to achieve them.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-7289108261688649104?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://endah.wordpress.com' title='5 Tips for Achieving and Living Your Best Life'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/7289108261688649104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=7289108261688649104&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7289108261688649104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/7289108261688649104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/10/5-tips-for-achieving-and-living-your.html' title='5 Tips for Achieving and Living Your Best Life'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-5906940310304372246</id><published>2006-10-06T18:32:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T18:36:33.598+07:00</updated><title type='text'>Are You A Winner Or A Loser?</title><content type='html'>He never realized before how lonely it could feel in the stadium&lt;br /&gt;filled with hundreds of spectators.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet this defeat that came to him so suddenly and terribly made&lt;br /&gt;him almost want to cry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His string of victories had come to a crashing end. He had won&lt;br /&gt;three Olympic gold medals and had not been defeated in 13 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rulon Gardner, his young rival, was surrounded by flashlights&lt;br /&gt;and people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet here he was, the great Karelin, universally considered the&lt;br /&gt;greatest Greco-Roman wrestler of all time, feeling utterly&lt;br /&gt;alone. What should have been another great moment in his life&lt;br /&gt;was now one of the worst. Someone who had never won a major&lt;br /&gt;title had defeated him utterly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was a match that no one thought he could lose. He overheard&lt;br /&gt;the buoyant young American saying, "When did I think I could&lt;br /&gt;beat him? About 10 minutes ago. I kept saying, 'I think I can. I&lt;br /&gt;think I can.' But it wasn't until it was over that I knew I&lt;br /&gt;could." Alexander had never conceded a point in 10 years. Today,&lt;br /&gt;he had lost 1-0. He caught the confused look on the face of IOC&lt;br /&gt;president, Juan Antonio Samaranch, and quickly looked away.&lt;br /&gt;Later that evening, wandering alone in the Olympic village, he&lt;br /&gt;ran into his friend Boris Spassky, a former world chess&lt;br /&gt;champion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They spoke, and he tried to express his pain to his friend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, after much thought, his eyes looking into the distance,&lt;br /&gt;Boris said, "Somehow you have to look beyond the sights. Somehow&lt;br /&gt;you have to hear between the words. Somehow you have to close&lt;br /&gt;the gap between your heart and your mind."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I don't understand," said Alexander.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You think that you have been defeated. That you will never&lt;br /&gt;again be the King. But look where you are. You are in the same&lt;br /&gt;universe. And just as it conspired to give you glory, so too it&lt;br /&gt;will continue to unroll its miracles. You will win again. All&lt;br /&gt;you have to do is trust, once again, in magic."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What magic? Is this about superstition?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The magic of yourself in space and time. The magic of being&lt;br /&gt;here now. Trust in it. What seems hopeless will be transmuted.&lt;br /&gt;What seems lost will be found again."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Am I a loser?" asked Alexander abruptly, the agony of the day&lt;br /&gt;breaking through him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"If you have a little time, we can talk about what it means to&lt;br /&gt;win and lose. It is important that we do it."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yes, let's do it."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since it was getting chilly, they wandered back to the Olympic&lt;br /&gt;village and settled on the cafeteria as a place to continue&lt;br /&gt;their discussion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After they had filled up their trays, they found a secluded&lt;br /&gt;corner, away from the other athletes, some of whom were proudly&lt;br /&gt;wearing their medallions on their chest. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I know how you feel because I have been in your situation,"&lt;br /&gt;said Boris. When I was World Champion, the best player in the&lt;br /&gt;world, the world thought that I was a winner. When I played&lt;br /&gt;Bobby Fischer at the World Championship at Reykjavik in 1972, I&lt;br /&gt;lost. The world then decided that I was a loser."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexander frowned. "So, what are you?" he asked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am what I am."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hunh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"First of all, winning and losing are not my identity. They are&lt;br /&gt;an expression of what I do. It is important to make this&lt;br /&gt;distinction. Then one can have some clarity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Winning and losing, ultimately, are not events but mindsets. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Most people think that they are events. But when you look&lt;br /&gt;closely at something, you can see that many things decide&lt;br /&gt;whether an outcome will be favorable or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"There have been people who have been on a winning streak for&lt;br /&gt;years, and then the tide appears to turn and they appear to have&lt;br /&gt;lost the magic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Then there are others who appear to have never won at anything,&lt;br /&gt;but then suddenly appear to hit a winning streak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This is quite confusing," said Alexander. He would much rather&lt;br /&gt;be grunting over some barbells then wrestling with philosophy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is confusing because life is not predictable. A person can&lt;br /&gt;become highly skilled at something and be winning at life when&lt;br /&gt;the rules unexpectedly change and their skills become obsolete.&lt;br /&gt;For example, when the computer revolution happened, highly&lt;br /&gt;skilled printing compositors found themselves out of work."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexander nodded. "All of a sudden, you are no longer the best&lt;br /&gt;at what you do."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Similarly, internal physiological factors can result in a major&lt;br /&gt;loss. It is said that Napoleon lost at Waterloo because he had a&lt;br /&gt;bad case of exhaustion and diarrhea at the time. The most&lt;br /&gt;brilliant military strategist the world had ever known was&lt;br /&gt;outmaneuvered and decisively defeated by the Duke of Wellington.&lt;br /&gt;Napoleon then spent the rest of his days in exile on St Helena." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What is one to make of all this?" asked Alexander in&lt;br /&gt;exasperation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is for this reason that I say that we can only hope at all&lt;br /&gt;times to do our best, but what happens is sometimes outside our&lt;br /&gt;personal influence." "An original countermove by our opponent&lt;br /&gt;throws away the value of everything we know," said Alexander&lt;br /&gt;bitterly, talking more to himself than responding to his friend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So," continued Boris, "we have to rely on three things:&lt;br /&gt;attitude, responsibility, and willingness to learn. If we do&lt;br /&gt;this, then we can create more favorable outcomes for ourselves."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'm not too sure about that," said Boris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is as easy as falling off a log to be cynical, but hope and&lt;br /&gt;optimism take effort. A winner will focus on what can be done.&lt;br /&gt;And a loser will focus on what cannot be done and the reasons&lt;br /&gt;why. Attitude is essential. Before a competition, you must be&lt;br /&gt;convinced in your own mind that you will win. A loser will say&lt;br /&gt;that this is not realistic or sensible. Yet realism and&lt;br /&gt;rationality are not what create victory. It is raw passion and&lt;br /&gt;the willingness to do your best."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"How can one have the right attitude after one has just lost?"&lt;br /&gt;asked Alexander.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Your attitude determines your future. When you let a bitter&lt;br /&gt;experience cast its shadow over your future, you have lost&lt;br /&gt;before beginning. Instead refuse to accept setbacks as a a&lt;br /&gt;prediction of your possibilities. 'I can do it,' is the attitude&lt;br /&gt;of a winner. Winners become losers when they let a loss defeat&lt;br /&gt;their attitude."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the first time that evening, Alexander smiled. "When a&lt;br /&gt;winner loses their winning attitude that is when they're losing&lt;br /&gt;streak begins. I can't let my past condition my future. Only my&lt;br /&gt;will and my desire should be responsible for it. " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Speaking of responsibility," continued Boris, "you have to be&lt;br /&gt;responsible for resuming your training tomorrow. Instead of&lt;br /&gt;wallowing in defeat, you can exult in your next victory over&lt;br /&gt;your opponents. The ability to respond positively is the next&lt;br /&gt;step of victory."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What else?" asked Alexander.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You have to always be willingness to learn. The only real&lt;br /&gt;difference between people is depth of knowledge. It is the&lt;br /&gt;distinction that separates the winners from the losers. The&lt;br /&gt;winners know what to do while losers are clueless. Yet knowledge&lt;br /&gt;is never static; there is always more to learn, more techniques&lt;br /&gt;to study, more skills to refine. The minute you stop willing to&lt;br /&gt;learn new things is when you start to lose."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A long silence followed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, Alexander spoke. "I believe I have understood you. To&lt;br /&gt;be a winner, we have to rely on three things: attitude,&lt;br /&gt;responsibility, and willingness to learn. If we do this, then we&lt;br /&gt;can create more favorable outcomes for ourselves."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As if raising his queen off the board to complete a checkmate,&lt;br /&gt;Boris asked, "Are you a winner or a loser, Alexander Karelin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am a winner!" said Alexander, unconsciously twisting the&lt;br /&gt;steel fork in his massive hand into a pretzel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-5906940310304372246?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://endah.wordpress.com' title='Are You A Winner Or A Loser?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/5906940310304372246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=5906940310304372246&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5906940310304372246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/5906940310304372246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/10/are-you-winner-or-loser.html' title='Are You A Winner Or A Loser?'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-115875337426035423</id><published>2006-09-20T18:45:00.001+07:00</published><updated>2006-09-20T18:56:14.263+07:00</updated><title type='text'>Azaan</title><content type='html'>The Amazing Phenomenon Amazing as it sounds, but&lt;br /&gt;fortunately for the Muslims of the world, it is an&lt;br /&gt;established fact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have a look at a map of the world and you will find&lt;br /&gt;Indonesia on the eastern side of the earth. The major&lt;br /&gt;cities (islands? mods) of Indonesia are Java, Sumatra,&lt;br /&gt;Borneo and Saibil (Celebes? mods)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As soon as dawn breaks on the eastern side of Saibil, at&lt;br /&gt;approximately 5:30 am local time, Fajar (Subuh) Azaan&lt;br /&gt;begins. Thousands of Muazzins in Indonesia begin reciting&lt;br /&gt;the Azaan. The process advances towards West Indonesia. One&lt;br /&gt;and a half hours after the Azaan has been completed in&lt;br /&gt;Saibil, it echoes in Jakarta. Sumatra then follows suit and&lt;br /&gt;before this auspicious process of calling Azaan ends in&lt;br /&gt;Indonesia, it has already begun in Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burma is next in line, and within an hour of its beginning&lt;br /&gt;in Jakarta, it reaches Dakka, the capital city of&lt;br /&gt;Bangladesh. After Bangladesh, it has already prevailed in&lt;br /&gt;western India, from Calcutta to Srinagar. It then advances&lt;br /&gt;towards Bombay and the environment of entire India resounds&lt;br /&gt;with this proclamation. Srinagar and Sialkot (a city in&lt;br /&gt;north Pakistan) have the same timing for Azaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The time difference between Sialkot, Quetta, and Karachi is&lt;br /&gt;forty minutes, and within this time, Fajar Azaan is heard&lt;br /&gt;through out Pakistan. Before it ends there, it has already&lt;br /&gt;begun in Afghanistan and Muscat. The time difference&lt;br /&gt;between Muscat and Baghdad is one hour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azaan resounds during this one hour in the environments of&lt;br /&gt;Hijaaz-e-Muqaddas (Holy cities of Makkah and Madinah),&lt;br /&gt;Yemen, United Arab Emirates, Kuwait and Iraq.! The time&lt;br /&gt;difference between Baghdad and Alexandria in Egypt is again&lt;br /&gt;one hour. Azaan continues to resound in Syria, Egypt,&lt;br /&gt;Somalia and Sudan during this hour. The time difference&lt;br /&gt;between eastern and western Turkey is one and a half hours,&lt;br /&gt;and during this time it is echoed with the call to prayer.&lt;br /&gt;Alexandria and Tripoli (capital of Libya) are located at&lt;br /&gt;one hour's difference. The process of calling Azaan thus&lt;br /&gt;continues throughout the whole of Africa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, the proclamation of the Tawheed and Risaalat&lt;br /&gt;that had begun in Indonesia reaches the Eastern Shore of&lt;br /&gt;the Atlantic Ocean after nine and half hours. Prior to the&lt;br /&gt;Azaan reaching the shores of the Atlantic, the process of&lt;br /&gt;Zohor Azaan has already started in east Indonesia, and&lt;br /&gt;before it reaches Dakka, Asar Azaan has started.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This has hardly reached Jakarta one and half hours later,&lt;br /&gt;the time of Maghrib becomes due, and no sooner has Maghrib&lt;br /&gt;time reached Sumatra, the time for calling Ishak Azaan has&lt;br /&gt;commenced in Saibil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the Muazzins of Indonesia are calling out Fajar Azaan,&lt;br /&gt;the African Muazzins are calling the Azaan for Isha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If we were to ponder over this phenomenon thoughtfully, we&lt;br /&gt;would conclude the amazing fact that there is not even a&lt;br /&gt;single moment when hundreds of thousands of Muazzins around&lt;br /&gt;the world are not reciting the Azaan on the surface of this&lt;br /&gt;earth. Even as you read this material right now, you can be&lt;br /&gt;sure there are at least thousands of people who are hearing&lt;br /&gt;and reciting the Azaan!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-115875337426035423?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/115875337426035423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=115875337426035423&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115875337426035423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115875337426035423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/09/azaan_20.html' title='Azaan'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-115875286277860864</id><published>2006-09-20T18:45:00.000+07:00</published><updated>2006-11-26T08:26:07.395+07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Gadis Buta</title><content type='html'>Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat tahun, menjadi buta gara-gara salah diagnosa. Sejak itulah dia kehilangan penglihatannya dan terlempar ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku ?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan bahwa penglihatannya takkan pernah pulih lagi. Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang? Terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru - membuat mereka terburu-buru dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta !" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan.Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah yang terjadi.Selama dua minggu penuh, Mark dengan menggunakan seragam militer lengkap,mengawal Susan ke dan dari tempat kerja setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya,untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis... setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : "Wah,aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung", kata sopir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Tuhan memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihat dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang tulus dari seorang suami yang bisa menjadi penerang dimanapun dia berada, meskipun itu di dalam kegelapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-115875286277860864?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/115875286277860864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=115875286277860864&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115875286277860864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115875286277860864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/09/azaan.html' title='Kisah Seorang Gadis Buta'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-115866551678842277</id><published>2006-09-19T18:04:00.000+07:00</published><updated>2006-09-19T18:31:56.860+07:00</updated><title type='text'>Nasehat Fathi Farahat</title><content type='html'>Akhirat adalah kehidupan bagi orang beriman yang nikmat, kekal dan tidak ada tipu daya. Di surgalah tempat kaum beriman memperoleh apa yang mereka inginkan. Kesejukan mata dengan memandang sesuatu keindahan yang belum pernah terlihat oleh mata. Kenikmatan suara yang tak pernah terdengar oleh telinga. Kebahagiaan yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia yang hidup. Jangan kamu tukar yang banyak dan pasti dengan sesuatu yang sedikit dan belum pasti, yang kekal dengan sementara. Kita harus maju dan melangkah tuk kehidupan yang kedua. (Asy-syahid Fathi Farahat, Bom jihad Palestine)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-115866551678842277?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/115866551678842277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=115866551678842277&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115866551678842277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115866551678842277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/09/nasehat-fathi-farahat.html' title='Nasehat Fathi Farahat'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28703114.post-115829101763731984</id><published>2006-09-15T10:16:00.000+07:00</published><updated>2006-09-15T10:30:17.650+07:00</updated><title type='text'>Allah is One</title><content type='html'>Allah is One, Alone , Allah creats every thing and Control it , Allah is Master of Judgment day and Lord of Words , No God But Allah , No One Similar to Allah , Allah has Absolute Power , Mercy and Knowledge , Allah Without Son , Wife , Time , Place , Size and Volume , Allah Sent All Prophets like Moses , Jesses and Mohammed (peace  be upon him) for invitation to Worshiping and Following Allah for Get Paradise&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28703114-115829101763731984?l=greatspiritever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://greatspiritever.blogspot.com/feeds/115829101763731984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28703114&amp;postID=115829101763731984&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115829101763731984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28703114/posts/default/115829101763731984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://greatspiritever.blogspot.com/2006/09/allah-is-one.html' title='Allah is One'/><author><name>Hamasah Putri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17985178130930254460</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
